"Kalau aktivis dakwah jaman sekarang kerjaannya melulu baca buku tentang nikah, baper-baperan kalau ada yang nikah, gimana bisa mendakwahi mahasiswa kritis yang lekat sama buku-bukunya Marx?".
Aku pernah membaca kalimat ini di sebuah artikel di LINE dari sebuah akun random. Aku setuju dengan hal itu dengan sedikit koreksi yang akan kutulis dalam artikel ini.
Selama di kampus, aku banyak bergaul dengan teman-teman dari lintas agama, ideologi, dan kepercayaan. Sering ada yang mengajakku berdiskusi tentang agama dan kaitannya dengan filsafat maupun ideologi. Karena tertarik, aku membaca buku-buku tentang sosiologi dan filsafat Barat yang menjadi bahan diskusi. Ada banyak hal yang menarik selama tukar pendapat dan transfer ilmu yang kami lakukan. Aku mendapat tambahan ilmu seputar politik, filsafat, hukum, dan sosiologi. Mereka juga mendapat tambahan pengetahuan agama dariku.
Inilah yang kurang dari aktivis dakwah kampus sekarang. Gimana ya aku harus mengatakannya, mereka sudah anti dan menghindar dari apapun yang berkaitan dengan Barat bahkan sebelum membaca. Ketika berdakwah dengan yang sudah biasa lekat dengan buku-buku seperti itu, aku nggak heran kalau kadang mereka jadi bahan tertawaan mahasiswa kritis. Analoginya seperti orang buta yang mengaku bisa melihat gajah di seberang jalan. Istilah awamnya, merasa tahu padahal pengetahuannya nol akan hal itu.
Contoh kasusnya seperti para aktivis dakwah yang mencoba mengoreksi pepatah terkenal Marx agama itu candu. Bahkan sebelum mencoba mengerti apa maksudnya, mereka sudah buru-buru menjatuhkan judgement kepada mereka yang paham. Padahal untuk memahami pepatah tersebut, kita perlu tahu seperti apa latar belakang dan lingkungan Karl Marx yang menyebabkannya mengatakan demikian.
Another case is, dan yang paling sering terjadi, adalah para aktivis dakwah yang sering kali sok tahu mengaitkan ateisme dan komunisme, padahal dua hal itu benar-benar berbeda. Tidak heran para mahasiswa kritis bahkan jengkel jika bertemu aktivis dakwah seperti ini karena sering kali mereka langsung menjatuhkan label ateis kepada mereka yang komunis, mengatai mereka sesat, dan lain sebagainya. Padahal tidak semua orang ateis adalah komunis. Masih banyak golongan sosialis-komunis yang mempertahankan agamanya (take Tan Malaka as example) dan banyak juga orang ateis yang justru liberalis.
Is everything from Western that bad? Nope, Sayyid Qutb bahkan mempersilakan kita mengambil apa yang perlu diambil dari pengalaman bangsa lain selama itu bersesuaian dengan syariah. Inilah yang harus diketahui aktivis dakwah kampus: Islam itu dinamis, tetapi tidak meninggalkan jati dirinya. If you believe apa yang dibilang syumuliyatul Islam, you have to understand that well.
That is why, aku kurang apresiatif kepada mereka-mereka, para aktivis dakwah, yang tiap hari bicaranya tentang pernikahan, cari calon imam / tulang rusuk, tetapi giliran bicara tentang isu terkini, filsafat, politik, hukum, dan lainnya (which is far more important dari apa yang mereka bicarakan), mereka asal bicara, sudah anti duluan bahkan sebelum baca, dan asal tempel label dan judgement. Sak munine dhewe kalau kata orang Jawa. Kalau begitu keadaannya, gimana bisa mereka yang kritis mengapresiasi para aktivis dakwah? Mereka hanya akan terus-terusan menilai aktivis dakwah nggak lebih dari sekumpulan mahasiswa menye-menye baperan yang topik bicaranya hanya pernikahan.
Kalau ingin tahu baik tidaknya sebuah ideologi dan pemikiran, perlu banyak-banyak baca buku untuk mencari tahu. Ulama' dalam menilai halal-haram sesuatu kan juga mereka mencari tahu terlebih dahulu, ber-ijtihad, baru memutuskan. Bukan asal lihat aja fenomena sosial tanpa melihat makna filosofisnya, terus lewat channel YouTube gembar-gembor halal-haramnya.
You may talk a lot about marriage, but at least jangan cuma buku pernikahan doang yang dibaca. Buka buku-buku tentang pemikiran Karl Marx, Engel, Plato, dan lainnya. Ketika kita tahu banyak tentang sesuatu bukan berarti kita adalah penganutnya. Itu label yang harus kita buang jauh-jauh.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar