Kisah Malin Kundang abad 20, demikian sebuah review menuturkan tentang novel ini di awal halamannya. Ketika membacanya, aku sedikit tidak setuju dengan titel 'Malin Kundang Abad 20' karena kisahnya tidak melulu berpusat di kedurhakaan seorang anak kepada ibunya, even buatku novel ini memberikan lebih banyak kritik yang sampai sekarang pun masih sangat relevan daripada sebuah kisah tentang anak durhaka.
Berlatar tempat di Solok, sebuah kota kecil yang berada di Sumatera Barat, dikisahkan ada seorang pemuda bernama Hanafi yang tinggal bersama ibunya. Hanafi telah menamatkan pendidikannya di Betawi dan memiliki banyak sahabat Eropa, salah satunya adalah teman masa kecilnya, Corrie du Bussee. Meski Hanafi seorang Minang, dia merasa inferior dengan sukunya, terlebih ketika Corrie menyinggung dirinya yang seorang Bumiputera dalam diskusi mereka mengenai adat dan budaya. Hanafi merasa budaya Eropa jauh lebih superior ketimbang budaya Minang yang dia miliki.
Hanafi yang sudah jatuh cinta kepada Corrie sejak menamatkan pendidikan setingkat SMA di Solok berencana menikahinya setelah menyelesaikan sekolahnya di Betawi. Rencana itu tidak disetujui ayah Corrie, yang seorang Perancis, karena dikhawatirkan Corrie akan dikucilkan dari pergaulannya sesama bangsa Eropa karena menikahi seorang Bumiputera meski ibu Corrie adalah seorang wanita Minang. Corrie akhirnya memutuskan hubungannya dengan Hanafi dan melanjutkan pendidikannya di Betawi. Hanafi yang patah hati akhirnya terpaksa menikah dengan Rapiah, seorang anak pamannya, karena ibunya merasa berhutang budi kepada pamannya yang telah membantu membiayai pendidikan Hanafi di Betawi.
Pernikahan Hanafi dan Rapiah, bahkan sejak awal penyelenggaraannya, tidak berjalan mulus. Hanafi menolak mengenakan pakaian khas Minang dan memaksa menggunakan jas ala Eropa, meski akhirnya dengan terpaksa dia menggunakan penutup kepala tradisional. Dia juga menolak untuk sungkem kepada keluarga mempelai perempuan, meski akhirnya mau karena dipaksa pamannya. Setelah memiliki anak, Hanafi pun tetap berlaku sewenang-wenang terhadap Rapiah. Ibunya juga tidak lepas dari perlakuan semena-mena ini karena dalam pandangannya renggangnya hubungannya dengan ibunya terjadi sejak ibunya menikahkannya dengan Rapiah. Teman-teman Eropa yang mengetahui perilaku Hanafi mulai menjauh darinya. Hal itu membuat Hanafi semakin menjadi-jadi.
Suatu hari, Hanafi digigit anjing gila ketika beradu pendapat dengan ibunya. Dia disarankan pergi ke Betawi untuk berobat. Di sana, dia bertemu kembali dengan Corrie dan mulai menjalin hubungan lagi dengannya. Hanafi kemudian menceritakan kehidupan rumah tangganya yang sengsara dalam pandangannya kepada Corrie. Gadis Indo itu akhirnya menyarankan Hanafi menceraikan Rapiah. Saran Corrie tersebut diturutkannya, dia segera mengirim surat kepada ibunya berikut surat cerainya dengan Rapiah. Hanafi dan Corrie akhirnya memberanikan diri untuk menikah setelah Hanafi mengajukan permohonan untuk menjadi orang Eropa dan mengganti namanya menjadi Christian Han.
Meski keduanya saling mencintai, kehidupan pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Sesuai dugaan ayahnya, Corrie mulai diasingkan teman-temannya sesama Eropa karena dinilai "merendahkan dirinya" dengan menikahi seorang lelaki Bumiputera. Hanafi juga dijauhkan dari pergaulan dengan sesama Bumiputera karena "sudah masuk Belanda". Pertengkaran antara mereka mulai sering terjadi, bahkan Hanafi menuduh Corrie berselingkuh. Pada akhirnya, mereka bercerai dan Corrie pindah ke Semarang. Gadis itu meninggal di sana karena penyakit kolera.
Hanafi yang putus asa semenjak kematian Corrie memutuskan kembali ke Minang. Dia ingin sekali bertemu dengan anaknya untuk sekadar menenteramkan hatinya. Namun, keluarga Rapiah yang mengetahui kepulangan Hanafi segera memboyong Rapiah dan anaknya kembali ke kampung halamannya di Bonjol. Hanafi yang semakin putus asa akhirnya bunuh diri dengan obat-obatan.
Novel ini memberikan kritik tajam kepada beberapa hal dan yang paling menonjol adalah adat dan budaya Barat-Timur. Abdoel Moeis menyajikan kritik ini dalam diri seorang Hanafi yang merasa rendah diri akan statusnya yang seorang Bumiputera. Sesungguhnya, kritik ini masih relevan hingga sekarang, terutama di masa sekarang ketika globalisasi membuat adat dan budaya asli semakin luntur. Dengan adanya pendidikan modern dan globalisasi, banyak generasi muda Indonesia yang merasa rendah diri dengan adat dan budaya aslinya karena gengsi dicap kolot dan kuno.
Yes, pendidikan modern itu sangat penting, tetapi tidaklah bijak untuk mengabaikan nilai-nilai luhur adat dan budaya asli. Bolehlah kamu menyukai K-Pop, J-Pop, atau Western, tetapi tunjukkan juga kebanggaanmu kepada akar rumputmu. Even though jarang banget dengerin lagu pop asli Indonesia dan prefer J-Pop, banyak terpengaruh dengan pendidikan modern, dan bersentuhan dengan berbagai budaya asing, aku masih bangga dengan statusku sebagai orang Jawa. Aku masih bisa menjawab dengan krama alus ketika orang yang lebih tua mengajakku bicara dengan ngoko. Aku masih bisa menulis dengan aksara Jawa. Aku sedikit banyak tahu kebudayaan asliku sebagai orang Jawa. I am proud of being Javanese, meski pendidikan modern banyak mempengaruhiku.
Secara tidak langsung juga, Abdoel Moeis memberikan saran lebih lanjut lewat sosok Corrie dan ayahnya. Bolehlah kita menuntut ilmu setinggi-tingginya, tetapi bijaknya tetaplah ingat dari mana kita berasal. Corrie banyak menegur Hanafi ketika dia merasa rendah diri sebagai seorang Minang dan berkata bahwa sesungguhnya Hanafi sendirilah yang melecehkan bangsanya dengan membanding-bandingkan adat budaya Minang dengan Eropa. Lebih lanjut, Corrie mengatakan bahwa seharusnya Hanafi meletakkan Barat dan Timur pada kutubnya masing-masing sebagaimana dirinya. Status kedua orangtua Corrie banyak memberikan pengaruh kepada caranya menghormati masing-masing budaya, karena meski ayah Corrie seorang Perancis, ibunya adalah seorang Minang dan dia sangat menghormati adat budaya asal ibunya.
Satu hal yang dapat kita lihat dari novel ini adalah bagaimana dahulu pergaulan Barat-Timur sering bergesekan dalam banyak hal, terutama ketika hal itu berujung kepada pernikahan. Hal ini terlihat ketika ayah Corrie menentang rencana Hanafi dan anaknya untuk menikah. Bukan sebab pribadi Hanafi yang membuat ayah Corrie menentangnya, tetapi karena pada masa itu seorang wanita Eropa dipandang rendah ketika menikah dengan seorang lelaki Bumiputera. Ayah Corrie mengkhawatirkan putrinya yang kelak diasingkan dari pergaulan karenanya. Kritik Abdoel Moeis ini sangat tajam dan oleh karenanya dahulu Salah Asuhan sempat ditolak Balai Pustaka. Pada intinya, penulis mengkritik orang-orang Eropa yang merasa "seharusnya dituankan" dan memandang rendah adat budaya negara tempat tinggal mereka, padahal mereka adalah pendatang.
Yah, sekarang sih nggak ada masalah bagi orang Barat-Timur untuk menikah, thanks to globalization. Sudah banyak cerita mengenai bule yang menikah dengan lelaki dan perempuan Indonesia, kan?
After all, inilah mengapa novel ini diberi judul Salah Asuhan. Bukan salah bunda mengandung yang menyebabkan Hanafi memandang rendah adat budaya asalnya. "Asuhan" yang salah adalah penyebab Hanafi demikian, entah dari pergaulannya dengan teman-teman Eropa atau pendidikan modern yang dienyamnya. Sayangnya, penulis kurang spesifik dalam menjelaskan faktor manakah yang lebih mendominasi sebab perilaku Hanafi yang demikian itu.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Covernya bagus ya, sederhana tapi mewakili isi cerita
Komentar
Posting Komentar