Satu hal yang paling menyedihkan dari masa sekarang adalah bagaimana bisa hal itu menghapus masa lalu begitu mudahnya, perlahan-lahan, tanpa kita sadari. Ketika ingin bernostalgia ria, tersadar bahwa jejak-jejak itu telah hilang, tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Kugeber motorku pagi ini berjalan-jalan di sekitar kota kelahiranku. Banyak sekali hal yang berubah dan entah mengapa aku merindukannya. Lapangan tempatku bermain telah menjadi masjid besar di depan rumah dinas bupati. Ah, dulu di sana aku kadang-kadang mengayuh sepeda. Puas rasanya kalau bisa mengayuh satu putaran.
Menjadi anak-anak menyenangkan memang.
Aku melewati daerah rumah sepupuku di Sidomulyo. Rumah-rumah besar telah berdiri di sepanjang jalan. Dulu, dengan sepeda, skuter, dan sepatu roda, aku, sepupuku, dan adikku biasa bermain di sana sampai lelah. Ketika melewati jalan itu, rasanya aku masih bisa mendengar suara tangisku ketika jatuh dari sepeda hingga lututku lecet-lecet. Aku masih bisa mendengar cicit ketakutanku ketika anjing galak di dekat gereja menatap tajam sepeda yang kunaiki. Aku masih bisa mendengar teriakanku ketika anjing itu mulai mengejarku.
Ya ampun, lucu sekali.
Akses jalan-jalan kecil perkampungan di sana sudah baik, tetapi rumah-rumah itu seakan menghapus begitu saja tempat bermainku. Aku sudah tak dapat lagi menemukan akses jalan ke peternakan sapi yang juga jadi tempat bermain kami. Bersama-sama, bertiga, kami sering mendatangi peternakan itu dan memberi makan sapi-sapinya, lalu berjalan memutar melewati perkampungan agar bisa jalan-jalan. Jaket jeans yang kukenakan bau karena terciprat kotoran sapi, tetapi dasar anak-anak, memang apa peduli?
Sudah 15 tahun berlalu masa-masa itu, tetapi sulit rasanya untuk percaya bahwa waktu mengikisnya begitu cepat. Aku masih bisa melihat versi diriku yang lebih mini, anak perempuan kecil yang dikuncir ekor kuda, berlarian karena senang bermain. Anak yang menangis kalau jatuh berdarah-darah. Anak yang terus bermain hingga jepit rambut dan kuncirnya jatuh berantakan di sekitar rambutnya hingga Mama hanya bisa pasrah melihatnya. Anak yang paling takut diajak bermain air di kolam renang.
Diriku yang mini berusia 4 tahun yang begitu menggemaskan, kalau aku lupa itu diriku ketika melihat fotonya. Seakan seperti melihat foto sepupu-sepupuku dari keluarga Mama yang masih kecil-kecil.
Ah, 15 tahun berlalu begitu cepat.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar