Langsung ke konten utama

Childhood (2)

Satu hal yang paling menyedihkan dari masa sekarang adalah bagaimana bisa hal itu menghapus masa lalu begitu mudahnya, perlahan-lahan, tanpa kita sadari. Ketika ingin bernostalgia ria, tersadar bahwa jejak-jejak itu telah hilang, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. 

Kugeber motorku pagi ini berjalan-jalan di sekitar kota kelahiranku. Banyak sekali hal yang berubah dan entah mengapa aku merindukannya. Lapangan tempatku bermain telah menjadi masjid besar di depan rumah dinas bupati. Ah, dulu di sana aku kadang-kadang mengayuh sepeda. Puas rasanya kalau bisa mengayuh satu putaran.

Menjadi anak-anak menyenangkan memang.

Aku melewati daerah rumah sepupuku di Sidomulyo. Rumah-rumah besar telah berdiri di sepanjang jalan. Dulu, dengan sepeda, skuter, dan sepatu roda, aku, sepupuku, dan adikku biasa bermain di sana sampai lelah. Ketika melewati jalan itu, rasanya aku masih bisa mendengar suara tangisku ketika jatuh dari sepeda hingga lututku lecet-lecet. Aku masih bisa mendengar cicit ketakutanku ketika anjing galak di dekat gereja menatap tajam sepeda yang kunaiki. Aku masih bisa mendengar teriakanku ketika anjing itu mulai mengejarku. 

Ya ampun, lucu sekali.

Akses jalan-jalan kecil perkampungan di sana sudah baik, tetapi rumah-rumah itu seakan menghapus begitu saja tempat bermainku. Aku sudah tak dapat lagi menemukan akses jalan ke peternakan sapi yang juga jadi tempat bermain kami. Bersama-sama, bertiga, kami sering mendatangi peternakan itu dan memberi makan sapi-sapinya, lalu berjalan memutar melewati perkampungan agar bisa jalan-jalan. Jaket jeans yang kukenakan bau karena terciprat kotoran sapi, tetapi dasar anak-anak, memang apa peduli?

Sudah 15 tahun berlalu masa-masa itu, tetapi sulit rasanya untuk percaya bahwa waktu mengikisnya begitu cepat. Aku masih bisa melihat versi diriku yang lebih mini, anak perempuan kecil yang dikuncir ekor kuda, berlarian karena senang bermain. Anak yang menangis kalau jatuh berdarah-darah. Anak yang terus bermain hingga jepit rambut dan kuncirnya jatuh berantakan di sekitar rambutnya hingga Mama hanya bisa pasrah melihatnya. Anak yang paling takut diajak bermain air di kolam renang. 

Diriku yang mini berusia 4 tahun yang begitu menggemaskan, kalau aku lupa itu diriku ketika melihat fotonya. Seakan seperti melihat foto sepupu-sepupuku dari keluarga Mama yang masih kecil-kecil.

Ah, 15 tahun berlalu begitu cepat.



Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...