"Kayaknya nggak bisa ngadain resepsi di sini kalau aku nikah nanti, deh," ujar seorang gadis pagi ini ketika pandangannya melayang ke arah luar jendela kamar orangtuanya. "Halaman kita terlalu kecil, masa' mau bikin tenda hajatan di jalanan? Kayaknya harus sewa gedung, deh,".
Mama yang sedang bersiap-siap pergi tersenyum dan berkata, "Sewa gedung nanti itu urusanmu ya. Kita sih gampang kalau mau buat hajatan kecil-kecilan mengundang warga kampung, tapi kalau mau sewa gedung nanti pakai uangmu sendiri,".
"Aku tahu kok," ujarnya. "Aku tinggal menabung untuk sewa gedung,".
"Itu belum sama kateringnya lho," tambah Mama.
"Kalau kamu mau nikah, hal yang kamu pikirkan terlebih dahulu itu beli rumah." Papa yang sedang tiduran di kasur menimbrung obrolan mereka.
"Bukannya itu urusan laki-laki?" tanyanya heran.
"Jangan tergantung sama laki-laki. Paling nggak kamu harus punya rumah dulu yang dekat dari jarak tempatmu bekerja," kata Papa.
Gadis itu mengangguk setuju.
"Aku juga nggak mau tinggal di Pondok Mertua Indah," Dia tertawa.
"Prinsipnya, ketika menikah kamu benar-benar memulai sebuah kehidupan yang baru. Makanya kamu harus punya rumah sendiri," kata Mama.
"Ah ya. Satu hal lagi yang terpenting," tambahnya. "Sebelum menikah, aku akan memastikan dia mengijinkanku bekerja. Aku tidak akan menikah dengannya kalau dia tidak mengijinkanku bekerja,".
"Ya, kamu harus bekerja, kecuali kalau kamu nikah dengan orang usia 30 tahunan yang udah pingin punya anak," Mama tertawa menyindir Papa. Gadis itu ikut tertawa.
"Nggak ih, paling aku maunya sama yang sepantaran aja," tanggapnya geli. "Atau yang 2 tahun di atasku boleh lah,".
"Ya, kamu harus kerja," kata Papa. Sepertinya meski ceritanya Mama-Papa sedikit berbeda dengan keinginannya, Papa setuju bahwa dia harus bekerja. "Kamu jangan tergantung sama laki-laki. Punya uang sendiri lah. Kalau kamu punya uang, di saat darurat apapun kamu dan keluargamu tetap bisa bertahan,".
"Makanya aku akan menanyainya sebelum menikah, dia ngijinin aku kerja atau nggak. Mending nggak usah nikah sama dia kalau nggak boleh. Urusan jatuh cinta itu gampang kok," ujar gadis itu.
"Jangan kasar-kasar menolaknya," nasihat Mama.
"Ya aku nggak mungkin bilang gitu lah! Paling aku bilang, 'Maaf ya, kita punya perbedaan nilai'," Sesaat sorot matanya berubah tidak yakin. "Tapi...bisa nggak ya aku menemukan lelaki seperti itu? Yang ngijinin aku kerja?".
"Banyak lah," kata Papa. "Jaman sekarang kan banyak yang seperti itu,".
* * *
Bisa nggak ya aku menemukan seseorang seperti itu?
Aku kembali merenungkan perbincangan hangatku dengan kedua orangtuaku pagi ini. Aku bersyukur tidak ada sama sekali gesekan nilai antara kami ketika membahas calon jodoh. Kurang-lebih apa yang diinginkan kedua orangtuaku juga menjadi keinginanku.
Jatuh cinta kepada seseorang itu mudah, begitu pikirku. Hal yang paling penting bagiku ketika kelak memutuskan menikah adalah nilai-nilai yang kuanut sama dengan suamiku, bukan masalah cinta atau tidak. Aku ingin bekerja dan dia harus mengijinkanku, itu nilai pertama. Aku tidak mau bergantung dan dari dulu tidak suka menggantungkan harapanku kepada seseorang, apalagi kalau ini menyangkut masalah keuangan keluarga. Aku ingin punya uang sendiri supaya setidaknya aku bisa membantu keuangan keluargaku kelak. At least, I can make my children eat food with good nutrition everyday. Selain itu, aku tidak rela juga kehilangan karir karena pernikahan. Jaman sekarang bahkan seorang senator wanita bisa membawa anaknya sambil ikut rapat. Seorang guru putri bisa mengajar sambil mengurus anaknya di sebuah kelas. Why not?
Ini bukan lagi jamannya Hayati dan Azis dalam cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, di mana perempuan hanya bisa mengikuti kata suaminya masalah keuangan. Aku juga tidak mau menjadi Hayati yang hanya pasrah saja mengikuti kata suaminya yang mengajaknya menumpang di rumah orang. I have to stay independent as a woman.
Ini bukan lagi jamannya Hayati dan Azis dalam cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, di mana perempuan hanya bisa mengikuti kata suaminya masalah keuangan. Aku juga tidak mau menjadi Hayati yang hanya pasrah saja mengikuti kata suaminya yang mengajaknya menumpang di rumah orang. I have to stay independent as a woman.
Nilai kedua adalah yang paling penting setelah masalah pekerjaan. Aku akan memastikan dia seorang agamis yang berakal sehat. Aku tidak akan menikah dengan seorang agamis yang hanya menyuruhku membaca kitab terjemahan tanpa tafsir, seorang agamis yang sok tahu urusan politik, apalagi seorang agamis ekstrimis yang membawa-bawa urusan agama ke dalam politik praktis untuk berebut kekuasaan. Aku juga tidak akan menikah dengan seorang intelek yang sok tahu tentang agama, seorang intelek yang kerjanya menanyakan apa itu Tuhan, apalagi seorang intelek yang memisahkan agama dalam kehidupan sehari-hari. Tidak.
Kualitas nilai kedua adalah yang paling kulihat dari seseorang yang kelak akan menjadi suamiku. Dengan adanya banyak fenomena sosial berkaitan dengan politik dan agama belakangan ini, aku harus memastikan kelak aku akan seiya sekata dalam mendidik anak-anakku dengannya, terutama kalau sudah menyangkut masalah sosial. Itulah mengapa aku menginginkan seorang agamis yang berakal sehat. Lelakiku kelak bukanlah seorang agamis yang menafikkan akal dan hanya berbasis percaya kata ustadz A, apalagi seorang intelek yang mendewa-dewakan akalnya dan menafikkan agama. Bahkan jika ini bukan urusan calon teman hidup kelak, aku juga menilai minus orang-orang seperti ini dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, bisakah aku menemukannya?
Tiba-tiba, suara dalam hatiku meledak tawanya.
"Sudahlah, kuliah dulu saja! Que sera sera, Nis!".
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar