Langsung ke konten utama

Another Holiday's Whereabout Thought

Dilema liburan mulai melandaku. Kangen ikut kuliah. Kangen pergi ke kampus (at least). Eh, tapi nanti kalau udah sibuk-sibuknya ngampus, tahu-tahu kangen liburan dan ketenangan. Ah, dasar manusia!

Well, ini sudah lewat tanggal yudisium, tetapi malas sekali rasanya mau buka website kemahasiswaan. Tahu kenapa? Soalnya, aku tidak akan bisa membuka hasil yudisum sampai aku mengisi evaluasi dosen. Kesal sekali evaluasi dosen harus ada di dunia ini. Dulu jamannya sekolah, terutama waktu SMA, aku malas sekali waktu guru minta ditulis kritik-saran gitu. Pertama, karena aku typically orang yang menilai bahwa ya setiap manusia emang ada kelemahan dan kelebihan dan karena itu aku menerimanya, terutama kalau itu menyangkut guru (I mean, mereka udah memberiku lebih banyak hal, masa' aku harus mengkritik mereka?). Kedua, aku malas memikirkan kekurangan seseorang unless hal itu memberikan kesan mendalam sampai aku nggak bisa lupa. Yah, kurang-lebih itulah yang juga membuatku malas mengisi evaluasi dosen.

Tidak banyak yang kukerjakan selama liburan. Paling-paling awal libur lebaran saja aku sedikit banyak melakukan sesuatu karena sepupu-sepupuku datang. Karena jadi yang tertua, well, aku cukup pandai mengurus sepupuku yang masih kecil-kecil. Kurasa pekerjaan babysitter dan guru TK akan cocok untukku.

Aku banyak-banyak memikirkan apa yang akan kulakukan di semester ketiga. Meski sudah cukup pusing memilih mana mata kuliah pilihan yang ingin kuambil, tetapi aku tetap saja memikirkannya sampai rambut beruban. Haha, ya, rambutku beberapa helai sudah memutih dan itu membuat adik dan Mama geleng-geleng melihatnya. "Kebanyakan mikir sih kamu!" kata mereka.

First thing first, mata kuliah pilihan. Harusnya sih cukup mudah kalau sudah tahu mau buat skripsi tentang apa. Kebetulan, semenjak membaca buku-buku tentang Islam transnasionalisme, aku tertarik untuk membuat skripsi tentang terorisme dan kaitannya dengan jaringan organisasi berideologi Islam transnasionalisme. Sebenarnya, aku sudah memikirkannya semenjak hari terakhir UAS dan sampai detik ini ketika aku menulis, I have nothing in mind.

Aku membuka website jurusan dan untuk semester ketiga, mata kuliah pilihannya adalah sebagai berikut:

1. Gerakan Sosial dan Politik (3 SKS).
2. Perbandingan Birokrasi dan Politik (3 SKS).
3. Perbandingan Pemikiran Politik Islam (3 SKS).

Karena aku akan membuat skripsi yang berhubungan dengan Islam, tentu saja aku memilih mata kuliah ketiga. But, I still can't decide for the second lecture. 

Oh ya, by the way, mata kuliah perbandingan pemikiran politik Islam ini akan cukup unik jika ada temanku non-muslim yang mengambilnya. Kakak tingkatku yang non-muslim ada yang mengambil mata kuliah tersebut dan berkata kepadaku, "Mata kuliahnya gampang, lho. Ujiannya juga enak,".

Second, hm, organisasi. Pertanyaan "Mau lanjut ke mana?" dari teman-teman aktivis membuatku sedikit mood swing. Bukan malas, tetapi ketertarikanku ke penelitian dan akademik saat ini jauh lebih besar ketimbang turun ke jalan atau mengurus kegiatan. Selain itu, well, kabar buruknya aku akan bawa motor mulai sekitar Oktober since liburan ini aku sudah dapat SIM C. 

Kenapa kabar buruk? Karena, aku lebih suka naik angkot ketika ada kegiatan organisasi sampai malam. Kalau naik angkot atau bus, aku bisa tertidur sepanjang perjalanan sampai rumah. Nggak akan kebablasan sih, meski aku pernah sekali kebablasan sampai Karangjati malam-malam seusai party dan panik (jelas lah). Kalau bawa motor, ini berarti aku harus minum kopi agar tidak mengantuk saat berkendara dan minimal kopi itu harus robusta. Mengingat dosisnya yang kuat waktu aku minum sama Mr. Dimas, kurasa itu bisa membuatku melek sepanjang perjalanan.

Jadi, tentu saja, masalah organisasi ini juga menggangguku karena hal-hal tadi.

Namun, hal yang membuatku jauh lebih lega adalah aku sudah membuat target untuk semester ketiga. Setidaknya sih, aku tahu apa yang harus kucapai di semester ini.

Aku mencoba membedakan targetku kali ini. Pertama, target capaian. Mama selalu bilang begini, "Tuh lho, jadi seperti kakak-kakakmu di Palembang, lulus kuliah terus dapat kerja bagus,". Sorry to say, itu terlalu biasa. Kuliah, lulus, dan dapat pekerjaan adalah keinginan semua sarjana dan itu sangat biasa. Ada sesuatu yang ingin kulakukan sebelum aku lulus dan hal ini akan sedikit berbeda dengan mereka. I would like to join student exchange. Mas Aji, salah satu kakak tingkatku, berhasil mendapatkan beasiswa SHARE ke Belanda (and how amazing it is, of course) dan banyak sekali kakak tingkatku yang memutuskan untuk mengambil beasiswa itu untuk menambah pengalaman, mostly mereka tujuannya ke negara-negara Asia Tenggara. 

So, this year's target capaian adalah mengikuti pertukaran mahasiswa dan orang yang kujadikan target untuk kulampaui...coba tebak siapa. Orang terdekatku yang pernah ikut pertukaran mahasiswa. Ha, Mr. Dimas! Well, aku nggak akan pernah lupa omongan beliau waktu itu di kantor guru, "I will never congratulate you unless you can make yourself go abroad,".

Aku pastikan tahun ini beliau akan mengucapkannya.

Haha, iya, soalnya bahkan saat lulus pun aku nggak dapat ucapan, "Selamat ya Antania udah lulus," dari beliau (and add Mr. Izz to the list, hahaha). 

Since aku sudah berbeda dengan SMA waktu itu. Insya Allah, there is enough confidence untuk mencoba tantangan baru. Toh, dengan ikut pertukaran mahasiswa, aku bisa jalan-jalan dan tak perlu pusing-pusing memikirkan organisasi, hahaha. Aku juga nggak keberatan menunda kelulusanku untuk ikut pertukaran pelajar. There are many opportunities and advantages ahead rather than a longer study year at university.

Sebenarnya ini lebih dari sekadar pingin dapat ucapan selamat. I would like to show him, Mr. Izz, and other people that I am alright. Safe and sound. Aku nggak terlalu pintar mengungkapkan apa yang kurasakan sih, so doing and getting opportunity for me is more than just usual. Secara tidak langsung aku pingin menyampaikan, "Hey, I am alright! Daijoubu! Thanks to you, I am getting this great opportunity and it is dedicated for you too!" kepada orang-orang terdekatku ketika kelak berhasil dapat kesempatan itu.

Kedua, target untuk dilampaui. I never look other people untuk target ini, sehingga...yep, orang yang harus kulampaui adalah diriku sendiri. I have to make myself better than before, intinya seperti itu. 


Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...