Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Tentang Objektivitas Kita (2)

Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata 'manusia'? Jika pertanyaan ini untukku, kurasa akan terlalu banyak definisi yang menggambarkan makhluk bernama latin Homo sapiens ini. Sangat banyak, sehingga definisi itu bisa tak terbatas. Manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan "kombinasi" malaikat dan iblis. Bisa jahat, bisa juga baik. Manusia, makhluk kecil lemah yang tak akan bertahan hidup tanpa menggunakan akal budinya. Manusia, makhluk sebaik-baiknya makhluk dengan ketidaksempurnaannya karena kesalahan dan kealpaannya. Manusia, makhluk yang berkesempatan untuk mengambil berbagai jalan menuju penciptanya. Dia sendirilah yang akan memutuskan untuk mengambil atau tidak. Sekarang, setidaknya dengan beberapa definisi di atas, ingat-ingatlah kembali: apakah ada suatu peristiwa di mana sahabat terbaik kalian membutuhkan penilaian kalian ketika dia bertengkar dengan salah satu teman kalian? Dan apakah yang kalian lakukan pada saat itu? Menduk...

Shinjitsu (Kebenaran)

Di dalam ilmu sosial, bahkan di dalam kehidupan, tidak ada yang namanya kebenaran absolut. Ada begitu banyak hal yang bisa menjelaskan sebuah kejadian di dalam kehidupan, begitulah yang aku yakini selama ini. Prinsip sederhana, tetapi entah mengapa ini penting sekali bagiku. Karena kebenaran sejati tidak pernah absolut. Kebenaran sejati memberikan ruang kepada masing-masing manusia untuk bersifat layaknya manusia, yakni memiliki ketidaksempurnaan. Tidak ada satu pun manusia yang sempurna, bukan? Mari kita melihat contoh kecil prinsip sederhana ini. Mungkin sebagian orang pada masa sekolah pernah mengalami pencurian uang. Setelah uang dicuri, apa yang terlintas di benak kalian ketika suatu hari terdengar bahwa pencurinya sudah tertangkap dan uangnya sudah telanjur tidak ada? Kalian mau apa? Marah-marah? Meminta pencuri untuk menggantinya? Untuk memahami prinsip sederhana ini, hal pertama yang harus dilakukan adalah put yourself on their shoes . Posisikan dirimu sebagai pela...

[Resensi Drama] Maou (2008)

Aku percaya pada dasarnya manusia itu baik dan penjahat itu...dia pun sebenarnya begitu. -Serizawa Naoto- Hari ini santai dulu aja karena pastinya semua baru saja relaks habis Pilkada DKI, kan? Well , karena itulah tulisanku hari ini adalah sebuah resensi drama Jepang berjudul Maou (Iblis). Kenapa judulnya Iblis? Karena, di sini kita akan mengungkap sisi lain dari seorang iblis berwujud manusia yang jadi karakter utama dalam cerita ini. Dan untuk anak HI, ini benar-benar sangat direkomendasikan buat ditonton karena basically aku adalah penganut idealisme dan drama ini benar-benar kental nuansa idealismenya.  Poster promosi drama Maou Awalnya sih, aku iseng nonton karena of course ini pemeran utamanya , Ohno Satoshi, adalah leader group Arashi yang jadi favoritku. Namun, semakin mengikuti episodenya, rasanya jantungku nggak berhenti buat doki-doki gitu. Seriusan, sumpah. Ini drama benar-benar mengaduk psikis dan perasaan penontonnya, persis ketika aku menonton film M...

Pelajaran Luar Perkuliahan

Aku menemukan dosen HI yang menarik bagiku pada mata kuliah pengantar ilmu hukum Selasa kemarin. Benar-benar nyentrik, tapi menarik. Kakak tingkat biasanya memanggil beliau Mbak Ika, tetapi di sini aku dilema mau memanggil beliau Bu Ika atau Mbak Ika karena sekarang beliau adalah ketua departemen HI. Beliau keren sekali pokoknya. Bukan karena beliau lulusan Eropa. Bukan karena beliau lama tinggal di sana. Bukan karena beliau bisa mengikuti kuliah ilmu alam dan ilmu sosial sekaligus. Namun, karena apa yang beliau sampaikan di kelas seakan menyihirku di tempat. "Saya kadang suka heran sama orang yang selalu bicara Barat begini dan begitu. Saya bilang aja, 'Kamu pernah tidak tinggal di sana?'. Dia jawab, 'Nggak, tapi saya berkunjung ke sana'. 'Berkunjung kan, bukan tinggal? Saya lama tinggal di sana,'. Percayalah, kalau kalian tinggal di Barat, kalian akan tahu sendiri seperti apa Barat sesungguhnya,". "Kalian tuh ada jatah 25% nggak usahla...

Tenun Kepercayaan

Kedatangan Dr. Zakir Naik ke Indonesia menambah guncangan di Indonesia yang sedang diterpa huru-hara toleransi. Mayoritas orang yang merasa imannya sudah sempurna (menurut parameternya entah siapa) bersorak akan kehadirannya. Mengerumuni venue-nya dan menonton debatnya. Sementara aku di sini hanya terdiam dan sekali lagi memperhatikan fenomena sosial tersebut. Tentang mayoritas yang selalu merasa aman jika bersama-sama, jika dibersamai. Beberapa temanku bertanya apakah aku akan datang, sih. Aku tidak menduga-duga apa yang mereka pikirkan tentangku ketika bertanya kepadaku, apakah terbersit di benak mereka imanku sudah memudar (menurut parameter mereka), sudah nyeleneh , dan lain sebagainya (karena sebagian besar temanku yang lebih moderat mendapat undangan ini karena penilaian-penilaian yang baru kusebutkan). Aku tidak berprasangka apa-apa. Andai saja aku mau menjawabnya, jawabanku adalah tidak. Aku tidak akan pernah datang. Untuk apa? Aku mengakui dulu semasa sekolah di S...

Jika Aspal Jalanan Bersuara

"Tegakkan parlemen jalanan!" "Makzulkan!" "Pemerintah ingkar janji!" * * * Mungkin sudah kesekian kalinya aku mendengar pertanyaan dan cibiran mengenai idealisme mahasiswa masa kini. Dan mungkin sudah kesekian kalinya aku menatap "parlemen jalanan" itu di tengah-tengah gempuran matahari, bergelora, berteriak, berorasi, memaki. Dan untuk kesekian kali ini pulalah aku bertanya, "Tuan kalian siapa?". Di mata mereka, para anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Djalanan) itu, aku hanyalah anak kemarin sore. Mahasiswa baru yang masih idealis. Mahasiswa baru yang masih berpegang teguh kepada norma dan nilai.  Padahal norma dan nilai itulah yang terpenting. Ingatanku terbawa kala aku menyuarakan lembaga dakwah fakultasku yang mulai terbawa arus politik. Katanya, "Ah, masih idealis,". Padahal apa salahnya menjadi idealis? Kita hidup bukan di ruang hampa. Kita hidup di tengah struktur kompleks yang ...

Kamu Siapa?

For those hearts who still shut themselves up. "Kamu nggak marah kan aku tanyain begini, Nis?" "Memang kenapa? Aku nggak akan marah, kok!" "Soalnya, dulu teman muslimku yang marah karena bertanya seperti ini,". Sekitar beberapa bulan lampau, ada seorang teman beragama Katolik yang terus menanyaiku tentang Islam. Aku dengan senang hati mendengarkan dan menjawab keingintahuannya. Adalah sebuah kehormatan bagiku dapat menerangkan apa itu Islam kepada penganut agama lain, sehingga semua pertanyaannya berusaha kujawab sebaik mungkin, mulai dari Al Qur'an, salat lima waktu, puasa, dan lain sebagainya.  Andai saja saat itu dia tahu betapa aku merasa terhormat ditanyai seperti itu. Lalu, selang beberapa hari lampau, ketika tren DM Me and I'll Do This For You mulai merebak di Instagram, aku memintanya untuk melakukannya untukku. Menulis segala macam hal tentangku.  How we met: HI Undip jaya! First impression: Gilsss pinter Name ...

Back In Time (1)

Hi, guys! Hari ini tulisanku no politics . Selain karena baru aja selesai UTS pengantar ilmu hukum dan nggak mau ribut masalah perpolitikan (meski dalam hati juga sebel sama kasus baru-baru ini seperti Marvel 212 dan penyiraman Novel Baswedan), hari ini aku melakukan perjalanan yang menarik sekali buat diceritakan. Aku teringat omelan Mr. Dimas ketika kami kumpul-kumpul bertiga sama Mr. Izz di Kopeng. Katanya, "Cita-cita mau ke luar negeri, tapi kota-kota kecil sekitarmu aja belum pernah kamu kunjungin. Main-main sana, lho!". Oke, itu salah satu penyebab aku melakukan perjalanan ini juga, tetapi bukan yang utama. Jadi, sebab utamanya adalah hari ini adalah back-in-time day nya Anissa Antania Hanjani. Kita akan bernostalgia dengan kenangan masa lalu. Bukan masa laluku, hahaha, aku belum jadi siapa-siapa di negeri ini. Kita akan ke sebuah tempat di mana jejak revolusi fisik di Indonesia di Kab. Semarang tertinggal dan juga ke sebuah makam pahlawan nasional. Ke man...

Kau, Aku, dan Cap Pribumi: Sebuah Kesesatan Pola Pikir

Pilkada DKI Jakarta tahun ini adalah pilkada terkotor sepanjang sejarah. Bagaimana tidak, isu agama dan suku berulang-ulang dimainkan untuk menjatuhkan salah seorang calon yang berbeda dari mayoritas masyarakat Jakarta. Padahal, fenomena adanya pemimpin daerah yang bukan putra asli daerah tersebut atau berlainan agama sudah sering marak. Sebut saja Gubernur Jambi Zumi Zola yang berasal dari Jakarta, Wakil Walikota Palu Sigit 'Pasha' Purnomo yang asli Donggala, serta Gubernur Kalimantan Barat Cornelis dan Bupati Sula Hendrata Theis yang beragama Katolik di tengah mayoritas penduduknya yang muslim.  Mengapa ya masyarakat kita seakan "kaget" dengan perbedaan yang ada, padahal fenomena ini sudah ada sejak lama? Aku sejujurnya juga heran. Padahal penyelenggaraan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (sekarang hanya Pendidikan Kewarganegaraan) sudah gencar dilakukan dan mengarahkan pembelajarnya untuk menghargai setiap perbedaan yang ada. Namun, masih ada saja k...