Langsung ke konten utama

[Resensi Drama] Maou (2008)


Aku percaya pada dasarnya manusia itu baik dan penjahat itu...dia pun sebenarnya begitu. -Serizawa Naoto-
Hari ini santai dulu aja karena pastinya semua baru saja relaks habis Pilkada DKI, kan? Well, karena itulah tulisanku hari ini adalah sebuah resensi drama Jepang berjudul Maou (Iblis). Kenapa judulnya Iblis? Karena, di sini kita akan mengungkap sisi lain dari seorang iblis berwujud manusia yang jadi karakter utama dalam cerita ini. Dan untuk anak HI, ini benar-benar sangat direkomendasikan buat ditonton karena basically aku adalah penganut idealisme dan drama ini benar-benar kental nuansa idealismenya. 

Poster promosi drama Maou

Awalnya sih, aku iseng nonton karena of course ini pemeran utamanya, Ohno Satoshi, adalah leader group Arashi yang jadi favoritku. Namun, semakin mengikuti episodenya, rasanya jantungku nggak berhenti buat doki-doki gitu. Seriusan, sumpah. Ini drama benar-benar mengaduk psikis dan perasaan penontonnya, persis ketika aku menonton film Memento yang waktu itu dikasih lihat sama dosenku buat dipelajari sisi HI-nya (lebih tepatnya disuruh melihat di mana letak sisi neomarxisme di film itu, hahaha). Semakin dalam menonton, aku sadar drama ini juga memberikan sisi HI tersendiri buatku, yakni tentang idealisme tadi. Kenapa? Oke, ini sinopsis dan resensinya.

Drama ini bercerita tentang upaya balas dendam Naruse Ryou (Ohno Satoshi) atas kematian adiknya sebelas tahun lalu yang tewas ditusuk pisau oleh temannya di sekolah, Serizawa Naoto (Ikuta Toma). Naruse Ryou sendiri adalah seorang pengacara yang terkenal dengan julukan Angelic Lawyer di media karena dia membela orang-orang yang tidak bersalah. Namun, siapa sangka ada sisi iblis di dalam hatinya?

Serizawa Naoto sendiri, sebelas tahun setelah kejadian itu, menjelma menjadi seorang detektif kepolisian yang karirnya cemerlang, tetapi keras kepala, impulsif, dan penuh emosi. Sisi emosinya mulai terlihat ketika satu per satu orang-orang di sekitarnya yang terlibat dalam kasusnya sebelas tahun yang lalu terbunuh. Dan yang cemerlangnya lagi dari rencana Naruse, orang-orang yang terlibat dapat bebas karena korban terbunuh ketika pelakunya mencoba mempertahankan diri dari tindak kekerasan yang akan dilakukan korban (hayoloh, susah banget kan).

Korban pertama rencana Naruse adalah Kumada, pengacara konsultan keluarga Serizawa yang memiliki andil membersihkan nama Serizawa sebelas tahun lalu. Sebelum kematiannya, Kumada menerima paket berisi sebuah pisau dan kartu tarot yang juga diterima Serizawa yang dikirim lewat paket kilat atas nama Amano Makoto. Detektif kemudian meminta seorang gadis bernama Shiori yang memiliki kemampuan "melihat" masa lalu sebuah benda untuk menerawang kartu tarot yang diterima Kumada. Serizawa awalnya tidak percaya dengan kemampuan Shiori, tetapi ketika reka ulang kasus dilakukan, semua sesuai dengan apa yang dilihat gadis tersebut. Serizawa pun akhirnya meminta Shiori untuk membantunya memecahkan kasus tersebut.

Berhasilkah Serizawa mengungkap kasus tersebut? Atau justru Naruse yang akan berhasil membalaskan dendam adiknya dengan satu per satu membunuh orang-orang terdekat Serizawa yang terlibat kasus sebelas tahun lalu? Kalau aku spoiler nggak seru dong ya. Hahahaha. Yang jelas, ending-nya bakal bikin kalian semua speechless

Drama ini benar-benar TOP BANGET menurutku. Meski kasusnya cukup mainstream seperti drama-drama suspense lainnya, hal yang paling bikin aku doki-doki adalah betapa bedanya Ohno Satoshi di drama ini. Secara ya, kepribadian asli Ohno itu ceriaaaa banget. Dia banyak tertawa, banyak bercanda, banyak senyumnya, dan pokoknya cerah deh. Kepribadian Naruse Ryou adalah kebalikan 180 derajat dari dia, tetapi pas nonton drama ini aku benar-benar melihat Ohno sebagai iblis yang siap beraksi kapan saja. Iblis handal yang mampu membuat rencana pembunuhan paling rapi yang pernah aku tonton. Bukan hanya karena di awal drama pasti ada lukisan Lucifer yang di-image-kan ke dia, tetapi tatapannya, langkahnya, aku merasa dia benar-benar seorang malaikat berhati iblis. Iya. Luarnya penampilan malaikat, tetapi dalamnya iblis yang penuh dendam. Serem banget. Sampai-sampai tiap kali kemunculannya, aku bisa bilang, "Iblis!" berkali-kali.

Mungkin ada juga yang bertanya-tanya, apa serunya sih nonton drama suspense kalau pelakunya aja udah ketebak? Nah, serunya adalah kita bisa melihat kebimbangan Naruse di tengah-tengah rencana maha kejinya itu. Naruse yang sudah dari dahulu kala membuat rencana ini serapi mungkin menemui orang-orang yang mengutuk perbuatannya si Amano Makoto (alias Naruse sendiri) yang memanipulasi orang agar melakukan pembunuhan, meski beberapa dari mereka ada yang menaruh dendam kepada korban. Ada orang-orang yang kelak tahu bahwa dialah pelakunya dan mencoba menghentikan perbuatannya, tetapi apa coba yang dia katakan?

"Aku sudah terlalu jauh untuk bisa dihentikan,".

Well, kita bisa melihat sisi seorang Naruse yang hatinya sebenarnya masih ada sisi malaikat (terlihat banget di adegan-adegannya dengan Shiori), tetapi dia tetap meneguhkan hatinya untuk melaksanakan rencana kejinya. To be exact, kita diajak melihat dari sudut pandang pelaku kriminalnya, bukan hanya detektif dan korban. Kurang lebih cara ini juga diterapkan di film Memento karya Christopher Nolan yang kutonton waktu itu. Bedanya, kalau di Memento kita diajak untuk menyimak apa yang terjadi sebenarnya lewat alur maju mundurnya, di drama ini kita diajak untuk melihat bagaimana sih perasaan pelaku kriminal itu ketika melaksanakan kejahatannya. Kita diajak untuk menyimak sisi psikologis seorang Naruse Ryou. Di balik perbuatan kejinya, sebenarnya dia orang yang amat baik. Dia menyayangi ibu dan adiknya. Alasan semua perbuatannya adalah rasa cintanya yang amat besar kepada ibu dan adiknya. Selain itu, selama melaksanakan aksinya dia juga memutuskan ikatan dan cinta orang-orang yang peduli kepadanya karena dia merasa tidak pantas menerimanya. Dia sudah berubah menjadi Lucifer yang keji dan kejam.

Di sisi lain, kita juga melihat perubahan Serizawa yang awalnya dendam kesumat kepada Amano Makoto sampai dikeluarkan dari investigasi. Selain karena frustasi, Serizawa sering kali terbawa emosi dalam penyelidikan karena orang-orang terdekatnya selalu terbunuh secara tidak sengaja. Namun, di tengah-tengah drama ketika Serizawa mulai tahu orang-orang terdekatnya terbunuh karena terlibat kasusnya dengan adik Naruse sebelas tahun lalu, dia berubah. Dia mulai berpikir, semua manusia adalah orang baik, begitu juga pelakunya, tetapi karena dirinya pelaku itu berubah jadi orang jahat. Dia akhirnya mulai menyalahkan dirinya di masa lalu yang sombong dan suka mem-bully orang lain yang lebih lemah. 

Pada akhirnya, dua orang ini basically benar-benar berhati malaikat. Mereka sadar perbuatan-perbuatan mereka adalah kesalahan. Ya, inilah letak sisi HI di drama ini. Sisi idealisme. Idealisme percaya bahwa pada dasarnya semua manusia terlahir baik, pengaruh-pengaruh lingkungan yang mengubahnya menjadi sosok iblis. Idealisme percaya, entah kapan itu, manusia akan menyadari kesalahannya dan mulai menyesalinya. Drama ini benar-benar memunculkan sisi idealisme ini lewat tokoh Naruse, Shiori, dan Serizawa yang pada akhirnya menemukan kebenaran dari diri mereka masing-masing. Mereka sadar bahwa sebenarnya mereka masih bisa berubah untuk menjadi orang baik. Bedanya, Shiori dan Serizawa mengambil jalan itu, sementara Naruse terlambat dan baru menyadarinya di akhir.

Dunia ini sebenarnya penuh orang-orang baik, kok. Akan tetapi, sisi baik orang-orang di dunia ini sering kali tertutup oleh hawa nafsu. Inilah inti idealisme di drama ini.

Gimana, keren nggak sih?

So, buat kalian yang udah bosen drama cinta-cintaan, buat kalian anak HI yang pingin lihat sisi HI di banyak drama dan film, buat kalian yang bosen dengan drama-drama suspense yang itu-itu aja, silakan tonton Maou. Aku berani kasih rating drama ini 9,5/10! Keren, gils sumpah keren banget! Aku ngomong keren bukan karena fans Arashi lho, by the way. Selama menonton drama ini aku malah lupa kalau Ohno sebenarnya leader Arashi. Aku benar-benar fokus melihat sosok sang Maou (Iblis), Naruse Ryou yang dia perankan.

So, what are you waiting for? Segera nonton, kuy!!


Yours,
Anissa Antania Hanjani   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...