Kedatangan Dr. Zakir Naik ke Indonesia menambah guncangan di Indonesia yang sedang diterpa huru-hara toleransi.
Mayoritas orang yang merasa imannya sudah sempurna (menurut parameternya entah siapa) bersorak akan kehadirannya. Mengerumuni venue-nya dan menonton debatnya. Sementara aku di sini hanya terdiam dan sekali lagi memperhatikan fenomena sosial tersebut. Tentang mayoritas yang selalu merasa aman jika bersama-sama, jika dibersamai.
Beberapa temanku bertanya apakah aku akan datang, sih. Aku tidak menduga-duga apa yang mereka pikirkan tentangku ketika bertanya kepadaku, apakah terbersit di benak mereka imanku sudah memudar (menurut parameter mereka), sudah nyeleneh, dan lain sebagainya (karena sebagian besar temanku yang lebih moderat mendapat undangan ini karena penilaian-penilaian yang baru kusebutkan). Aku tidak berprasangka apa-apa. Andai saja aku mau menjawabnya, jawabanku adalah tidak. Aku tidak akan pernah datang. Untuk apa?
Aku mengakui dulu semasa sekolah di SMA, aku adalah pengagum beliau. Wah keren, bisa hafal injil. Wah keren, bisa begini. Namun, ada satu hal yang mulai terbersit di benakku ketika aku mulai kuliah: apa yang beliau katakan itu sudah sesuai tafsir Injil sesungguhnya? Sudah sesuai tafsir Weda sesungguhnya? Meskipun kata teman beliau belajar perbandingan agama, tetapi aku belum benar-benar meyakini hal tersebut dan ada alasannya. Bukankah setiap pemikiran dan tindakan itu harus berdasar?
Untuk memberitahu alasan tersebut, ada kisah yang harus diketahui bersama terlebih dahulu.
Semua yang dulu belajar IPS dan sejarah dengan baik pasti kenal yang namanya Christian Snouck Hurgronje, "pahlawan" Belanda dalam Perang Aceh. Dia berjasa kepada Belanda memberitahukan apa kelemahan rakyat Aceh kepada Belanda. Sebelumnya, seperti yang sudah diketahui bersama, Aceh adalah salah satu medan perang terbesar di Indonesia yang dihadapi Belanda karena membawa kerugian besar. Tidak ada satu pun orang Belanda yang tahu pasti apa kelemahan rakyat Aceh. Tidak sebelum mereka menugaskan Christian Snouck Hurgronje untuk menyusup masuk dan berbaur dengan rakyat Aceh untuk mencari kelemahannya dan memang hanya dia yang bisa melakukannya.
Apa alasannya?
Christian Snouck Hurgronje pernah menyusup masuk ke Mekkah untuk belajar Islam dengan nama samaran Abdul Gafar (kalau tidak salah). Dia langsung menemui para ulama' di sana untuk mempelajari semua hal tentang Islam, tafsir Al Qur'an, fiqih, dan lain sebagainya dengan niat untuk menghancurkan Islam sendiri. Buruk sekali, bukan? Hal inilah yang dimanfaatkan Belanda dari seorang Christian Snouck Hurgronje. Dengan semua pelajaran tentang Islam yang didapatkannya semasa dia belajar di Mekkah dulu, Belanda berharap dia dapat menemukan kelemahan rakyat Aceh. Christian Snouck Hurgronje kelak membukukan semua temuannya tentang rakyat Aceh dalam buku berjudul De Atjehers.
Mengerikan memang, tetapi poin yang menjadi alasanku bukan tentang usahanya menghancurkan Islam dan rakyat Aceh, melainkan bagaimana usahanya untuk mengetahui kelemahan "musuhnya" dengan pergi langsung ke sumbernya sendiri.
Kembali ke fenomena Zakir Naik. Aku baru benar-benar percaya tentang temuan-temuan Zakir Naik tersebut kalau dia sampai melalui proses yang dilakukan Christian Snouck Hurgronje. Belajar langsung Injil dan Weda dari sumbernya sebagaimana orang Islam mendalami agamanya dengan bertanya langsung dari para alim ulama'. Ya. Aku baru percaya kalau dia belajar tafsir Injil dan Weda langsung dari pemuka agamanya, bukan secara otodidak. Kalau semua yang dia pelajari hanya melalui fakultas perbandingan agama, maka hanya sebatas itu yang dia ketahui. Ibarat orang mencari katak, tetapi sudah cukup puas hanya dengan menemukan kodok sawah, padahal katak dan kodok berbeda, bukan?
Kedua, aku kurang nyaman sesungguhnya dengan gaya dakwahnya. Jika aku menggunakan cara dakwah beliau dengan menyebut-nyebut Injil untuk mendakwahi teman-temanku, bukankah yang ada mereka tidak mau mendengarkanku? Memarahiku? Tidak ada yang suka ranah kepercayaannya ditelanjangi begitu saja di depan umum karena kita dan mereka punya tafsir sendiri-sendiri yang butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk mempelajarinya. Karena itulah, terkadang aku bingung dengan cara pikir orang yang ikut demonya Ahok karena penistaan Al Maidah ayat 51, tetapi dia menonton penelanjangan ranah kepercayaan umat agama lain di debatnya Zakir Naik. Dia nggak suka ranah kepercayaannya ditelanjangi, tetapi sendirinya menonton penelanjangan ranah kepercayaan orang lain.
Oke, ini bukan berarti aku membenci beliau, lho. Aku hanya tidak menyukai gayanya dalam menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan orang lain. Aku lebih nyaman berdakwah dengan menunjukkan apa yang semestinya kuperbuat sebagai seorang muslim. Bukankah dakwah bil hal lebih utama daripada dakwah bil lisan? Bukankah dengan cara itu pada akhirnya temanku yang Katolik mendekatiku dan bertanya tentang Islam kepadaku? Bukan maksudku sombong, tetapi aku percaya bahwa seringkali bertindak itu jauh lebih sulit daripada merangkai kata-kata. Kita bisa menyuruh orang lain untuk membersihan kamar, tetapi apakah kamar kita sudah bersih? Para orangtua sering menyuruh anak-anaknya untuk salat tepat waktu, tetapi seringkali sendirinya orangtua masih di depan televisi. Tantangan terbesar itu justru untuk melakukan apa yang kita katakan. Sejalan dengan apa yang kita katakan. Dengan begitulah baru kita bisa disebut orang yang benar-benar bisa dipercaya. Bukankah begitu? Ini sangat sulit bagiku, bagimu, dan bagi semua orang, tetapi inilah tantangan terbesarnya.
Intinya, apa yang ingin aku sampaikan adalah jagalah tenun kepercayaan orang lain. Sebagaimana kita juga marah ketika orang lain merobek tenun kepercayaan kita, lakukanlah hal yang sama kepada orang lain. Jika kau ingin orang lain baik kepadamu, berbuat baiklah kepada orang lain. Sederhana, bukan?
Satu hal lagi yang selalu kuingat. Beragama itu membuat seseorang tenteram. Bertuhan membuat seseorang memiliki pegangan hidup sebagaimana yang digambarkan oleh Nietzsche. Namun, jika pegangan hidup itu membuat orang satu sama lain itu menyalahkan, maka bolehkah aku bertanya?
Apa tujuan kalian beragama?
Jika menyalahkan keyakinan orang lain disebut dengan dakwah, maka aku berlepas diri darinya. Jika mencaci keyakinan orang lain kalian sebut ghirah, maka jangan pernah hitung aku di dalamnya.
Aku sungguh kasihan kepada kalian yang kehilangan tujuan sebenarnya dalam beragama, jika penelanjangan keyakinan satu sama lain kalian benarkan, kalian puja, kalian tinggikan, padahal di saat yang sama kalian mendemo penista agama yang juga menelanjangi keyakinan kalian.
Satu hal lagi yang selalu kuingat. Beragama itu membuat seseorang tenteram. Bertuhan membuat seseorang memiliki pegangan hidup sebagaimana yang digambarkan oleh Nietzsche. Namun, jika pegangan hidup itu membuat orang satu sama lain itu menyalahkan, maka bolehkah aku bertanya?
Apa tujuan kalian beragama?
Jika menyalahkan keyakinan orang lain disebut dengan dakwah, maka aku berlepas diri darinya. Jika mencaci keyakinan orang lain kalian sebut ghirah, maka jangan pernah hitung aku di dalamnya.
Aku sungguh kasihan kepada kalian yang kehilangan tujuan sebenarnya dalam beragama, jika penelanjangan keyakinan satu sama lain kalian benarkan, kalian puja, kalian tinggikan, padahal di saat yang sama kalian mendemo penista agama yang juga menelanjangi keyakinan kalian.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar