Langsung ke konten utama

Kamu Siapa?

For those hearts who still shut themselves up.

"Kamu nggak marah kan aku tanyain begini, Nis?"
"Memang kenapa? Aku nggak akan marah, kok!"
"Soalnya, dulu teman muslimku yang marah karena bertanya seperti ini,".

Sekitar beberapa bulan lampau, ada seorang teman beragama Katolik yang terus menanyaiku tentang Islam. Aku dengan senang hati mendengarkan dan menjawab keingintahuannya. Adalah sebuah kehormatan bagiku dapat menerangkan apa itu Islam kepada penganut agama lain, sehingga semua pertanyaannya berusaha kujawab sebaik mungkin, mulai dari Al Qur'an, salat lima waktu, puasa, dan lain sebagainya. 

Andai saja saat itu dia tahu betapa aku merasa terhormat ditanyai seperti itu.

Lalu, selang beberapa hari lampau, ketika tren DM Me and I'll Do This For You mulai merebak di Instagram, aku memintanya untuk melakukannya untukku. Menulis segala macam hal tentangku. 

How we met: HI Undip jaya!
First impression: Gilsss pinter
Name in phone: Anissa
Closeness rating: Sekelas terus ya hahahaa
Fav memory: Dengerin baca Al Qur'an hehe

Aku terhenti di bagian favorite memory dan trenyuh membacanya. Aku tidak pernah tahu itu hal yang akan dia ingat tentangku dan jadi kenangan terbaik. Ya. Saat itu di perpustakaan, ketika dia membaca, aku mengaji di sampingnya. Dia selalu mendengarkan ketika aku mengaji, terkadang memintaku mengulangi, dan dia akan bertanya.
Lalu aku akan berkata dalam hati, "Bukankah ini seharusnya dakwah?".

Aku tidak terlalu dekat dengannya pada awalnya. Keingintahuannya akan Islam yang mendekatkan kami ketika itu. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya berusaha melakukan apa yang seorang muslim seharusnya lakukan. Namun, ketika dia mendekat, aku teringat sebuah perkataan sebagai berikut, "Jika kamu ingin tahu mengenai agama lain tanpa harus membuka kitab suci, lihatlah bagaimana umatnya,". Aku sadar, tindakan kita dinilai oleh umat agama lainnya. Mengapa judgement teroris selalu mengarah kepada Islam? Karena, memang pelakunya sebagian besar seorang muslim. Pelaku. Tindakan. Semua itu dinilai oleh orang lain tanpa melihat itu konspirasi atau bukan, terlepas dari apa kitab sucinya.

Karena itulah, hentikan semua ini sekarang juga.

Kalian tuduh presiden yang sama-sama seiman sebagai komunis tanpa dasar dan tanpa ragu-ragu ingin memakzulkannya Kalian teriak, "Penjarakan!" kepada gubernur nonaktif yang bahkan perkaranya belum diputus pengadilan. Kalian beri tuduhan syi'ah kepada lawan politik di pemilihan kepala daerah. Tidakkah kalian malu dengan tindakan-tindakan itu? Siapa kalian? Kalian hanya segelintir manusia berkepentingan di Republik ini, tidak jauh berbeda dengan manusia yang lain. 

Kalian bukan orang yang memperjuangkan Republik ini.

Jika kalian peduli pada agama dan negara seperti yang kalian teriakkan sepanjang hari, mengapa kalian abaikan saudara-saudara di negeri sendiri? Semua umat Islam bersaudara, tetapi ingatkah kalian bahwa tetangga terdekat lebih diutamakan? Ke mana saja kalian kala lawan politik kalian bekerja sebagai pelayan masyarakat sebaik-baiknya? Jika kalian peduli pada agama, pada saudara, kenapa tidak kau bantu lawan politik kalian itu untuk membangun masyarakat yang lebih baik? Sibuk ke mana kalian selama ini? Pengkaderan golongan sendiri? Lucu sekali. Baru jelang pemilihan saja kalian tunjukkan rasa peduli.

Sadarkah kalian mengapa statement negatif jatuh kepada kita? Sebab, kalian sendiri yang mencitrakan keimanan kita sendiri seakan kalianlah pemimpinnya! Aku, baik secara langsung maupun tidak, tidak pernah menyatakan bahwa diriku bagian dari kalian. Sekarang dan selamanya. 

Agama ini akan tegak dan jatuh karena kita, bukan karena Nasrani, bukan karena Yahudi. Bukan karena konspirasi-konspirasi seperti yang kalian ocehkan sepanjang hari sampai berbusa. Bisakah kalian berhenti playing victim dan bekerja lebih baik? Kita bukanlah korban. Malah, kita sendirilah pelaku utama kejatuhan agama kita. Dengan mulai silau terhadap dunia. Silau terhadap kekuasaan. Silau akan harta.

Kamu siapa, lebih tepatnya? Aku tidak akan pernah mengenalmu selama kamu tidak berjuang.



Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...