Langsung ke konten utama

Jika Aspal Jalanan Bersuara

"Tegakkan parlemen jalanan!"

"Makzulkan!"

"Pemerintah ingkar janji!"

* * *

Mungkin sudah kesekian kalinya aku mendengar pertanyaan dan cibiran mengenai idealisme mahasiswa masa kini.

Dan mungkin sudah kesekian kalinya aku menatap "parlemen jalanan" itu di tengah-tengah gempuran matahari, bergelora, berteriak, berorasi, memaki.

Dan untuk kesekian kali ini pulalah aku bertanya, "Tuan kalian siapa?".

Di mata mereka, para anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Djalanan) itu, aku hanyalah anak kemarin sore. Mahasiswa baru yang masih idealis. Mahasiswa baru yang masih berpegang teguh kepada norma dan nilai. 

Padahal norma dan nilai itulah yang terpenting.

Ingatanku terbawa kala aku menyuarakan lembaga dakwah fakultasku yang mulai terbawa arus politik. Katanya, "Ah, masih idealis,".

Padahal apa salahnya menjadi idealis?

Kita hidup bukan di ruang hampa. Kita hidup di tengah struktur kompleks yang mengikat agar jangan sampai satu kepentingan merusak kepentingan yang lain. Sungguh bodoh ketika kalian membuat peraturan hanya untuk apa yang disebut formalitas belaka, agar kalian sendiri dapat melanggarnya sesuka hati. Agar bisa "bermain cantik". Setelah melanggar peraturan yang dibuat sendiri, kalian mendemo para pelanggar di atas sana, para wakil rakyat yang terhormat, dengan suara lantang.

Konyol sekali.

Apapun atribut yang kalian bawa kelak di jalanan, relakan saja jika hujan tatap sinis, cibiran, dan makian kalian tuai di sana-sini. Kalian pantas mendapatkannya. Karena kalianlah yang menyuarakan aspirasi di jalanan tanpa diskusi berarti. Karena kalianlah yang meninggalkan bangku kuliah agar terkenal di sana-sini. Karena kalianlah yang menanggalkan kemerdekaan kalian demi kedudukan tinggi.

Justru akulah yang akan menertawakan kalian di pinggir aspal jalanan ini.

"Wah, sungguh. Bahkan sebelum wisuda pun, mahasiswa sekarang sudah menanggalkan idealismenya. Teruskan saja. Kita lihat apa tanggapan rakyat yang katanya mereka bawa itu,".

Kurasa itu yang akan dikatakan aspal jalanan. Jika ia bersuara.



Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...