Langsung ke konten utama

Shinjitsu (Kebenaran)

Di dalam ilmu sosial, bahkan di dalam kehidupan, tidak ada yang namanya kebenaran absolut. Ada begitu banyak hal yang bisa menjelaskan sebuah kejadian di dalam kehidupan, begitulah yang aku yakini selama ini. Prinsip sederhana, tetapi entah mengapa ini penting sekali bagiku. Karena kebenaran sejati tidak pernah absolut. Kebenaran sejati memberikan ruang kepada masing-masing manusia untuk bersifat layaknya manusia, yakni memiliki ketidaksempurnaan.

Tidak ada satu pun manusia yang sempurna, bukan?

Mari kita melihat contoh kecil prinsip sederhana ini. Mungkin sebagian orang pada masa sekolah pernah mengalami pencurian uang. Setelah uang dicuri, apa yang terlintas di benak kalian ketika suatu hari terdengar bahwa pencurinya sudah tertangkap dan uangnya sudah telanjur tidak ada? Kalian mau apa? Marah-marah? Meminta pencuri untuk menggantinya?

Untuk memahami prinsip sederhana ini, hal pertama yang harus dilakukan adalah put yourself on their shoes. Posisikan dirimu sebagai pelaku. Daripada marah-marah, ada baiknya bukan jika kalian bertanya, "Mengapa kamu mengambil uangku? Untuk apa?".

Mungkin saja pelaku ingin membeli sebuah barang yang ia idam-idamkan. Mungkin saja pelaku ada masalah dengan keuangan. Mungkin saja malah kalian yang salah dengan memamerkan uang yang dimiliki sehingga timbul rasa iri hati. Mungkin, mungkin, dan mungkin. Masih banyak kata mungkin yang bisa muncul sebagai motif pelaku. Selama pelakunya manusia, maka kata mungkin ini tidak akan pernah berujung ketika kita menebak-nebak motif seseorang.

Dengan kata lain, bukan hanya pelaku yang salah, korban juga salah. Di satu sisi, ada hal yang benar bagi pelaku dan ada hal yang benar bagi korban.

Selama subjek dan objeknya adalah manusia, maka kebenaran absolut tidak akan pernah ada di dalam kehidupan. Karena itulah, hampir tidak pernah ada kata hukum di dalam ilmu sosial. Adanya teori. Terbuka untuk diuji kembali. Karena objek ilmu sosial adalah manusia dan selama manusia memiliki akal, dia dapat melakukan apa saja. Benar-benar dinamis.

Dengan prinsip sederhana ini, kurasa kita akan dapat melihat kehidupan dengan cara yang sama sekali berbeda. Aku membayangkan betapa menyenangkannya jika semua manusia menyadari hal ini. Menyadari ketidaksempurnaan mereka sebagai manusia. Saling meminta maaf setelah berkonflik, saling mengucapkan terima kasih, saling membantu satu sama lain. 

Aku membayangkan dengan prinsip sederhana ini, orang akan membantu satu dengan yang lain tanpa bertanya apa agamamu, dari mana asalmu, dan lainnya. Sebab, dengan memahami hal ini semua menyadari bahwa kita semua adalah pencari jalan yang bertemu dari banyak jalan, tetapi satu tujuan. Kita tidak perlu saling memaksa satu sama lain untuk mengikuti jalan mana yang hendak ditempuh menuju cahaya. Sebab, sebagai sesama pencari jalan hal yang diyakini adalah kebenaran sejati sebagai makhluk berakal yang kecil di tata surya ini. 

Para pencari jalan bisa saja mengajak satu sama lain mengikuti jalan yang ditempuh. Para pencari jalan bisa saja saling menunjukkan petanya. Namun, mereka tidak memaksa satu sama lain untuk berpindah jalan. Sebab, mereka yakin kebenaran sejati akan mempertemukan mereka. Kebenaran yang menyadarkan mereka bahwa mereka tidak sempurna. Kebenaran yang terus membawa mereka kepada sifat rendah hati sebagai hamba-Nya. Kebenaran yang mengilhami mereka untuk terus menelusuri jalan tanpa adanya keraguan. Kebenaran yang menambah kecintaan mereka terhadap sumbernya itu sendiri.

Aku membayangkan dengan prinsip sederhana ini, orang-orang jadi malu menawarkan diri mereka sebagai pemimpin tanpa adanya niatan untuk melayani yang dipimpin. Aku membayangkan dengan prinsip sederhana ini, para pemuka agama akan saling berjabat tangan satu sama lain. Aku membayangkan dengan prinsip sederhana ini, para pemimpin di dunia akan berpelukan, menangis menyesali dosa-dosa mereka satu sama lain.

Bisa saja kamu benar, tetapi bukan berarti kamu mutlak bebas dari kesalahan, bukan? Ya. Itu semua karena kamu manusia biasa. 



Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...