Langsung ke konten utama

Tentang Objektivitas Kita (2)

Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata 'manusia'?

Jika pertanyaan ini untukku, kurasa akan terlalu banyak definisi yang menggambarkan makhluk bernama latin Homo sapiens ini. Sangat banyak, sehingga definisi itu bisa tak terbatas.

Manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan "kombinasi" malaikat dan iblis. Bisa jahat, bisa juga baik.

Manusia, makhluk kecil lemah yang tak akan bertahan hidup tanpa menggunakan akal budinya.

Manusia, makhluk sebaik-baiknya makhluk dengan ketidaksempurnaannya karena kesalahan dan kealpaannya.

Manusia, makhluk yang berkesempatan untuk mengambil berbagai jalan menuju penciptanya. Dia sendirilah yang akan memutuskan untuk mengambil atau tidak.

Sekarang, setidaknya dengan beberapa definisi di atas, ingat-ingatlah kembali: apakah ada suatu peristiwa di mana sahabat terbaik kalian membutuhkan penilaian kalian ketika dia bertengkar dengan salah satu teman kalian? Dan apakah yang kalian lakukan pada saat itu? Mendukungnya? Mengingatkannya bahwa dia salah? Keputusan mana yang kalian ambil pada saat itu?

Mengapa kalian mendukungnya?

Mengapa kalian mengingatkannya bahwa dia salah?

* * *

Dalam kehidupan kita, banyak fenomena yang menyimpulkan bahwa menjadi orang objektif itu sangat sulit. Sebab, seobjektif apapun itu, kita pada akhirnya dihadapkan kepada pilihan yang harus dipilih secara seksama. Pada akhirnya, kita dipaksa subjektif meski sudah berusaha memberikan penilaian seobjektif mungkin.

Kemarahan sahabat terbaik ketika kita mengatakan bahwa dialah yang salah atau kelegaannya ketika dia dimenangkan dalam pertengkarannya tadi oleh penilaian kita adalah salah satu contohnya.

Namun, ada baiknya kita tidak lupa memanusiakannya. Kita dan dia hanyalah manusia biasa yang tidak pernah seratus persen benar dan salah. Let's put ourselves on their shoes. Jika dia salah dalam penilaian kita, katakanlah bahwa kita memahami perasaannya meski tindakannya tidak bisa dibenarkan, kemudian ajaklah dia meminta maaf. Jika dia benar dalam penilaian kita, ajaklah dia untuk meminta maaf duluan. Selalu ada motif di balik tindakan seseorang. Ada motif mengapa sahabat kita marah. Ada motif mengapa teman kita tak kalah marahnya. Karena itulah, dalam sebuah pertengkaran sangat perlu bagi pihak-pihak yang terlibat untuk saling meminta maaf. Bisa jadi kita benar, tetapi saat bertengkar kita menyakiti pihak lain dalam kebenaran yang kita bawa. Bisa jadi mereka benar, tetapi mereka terbawa nafsunya untuk meneriaki kita dalam fakta yang mereka bawa.

Namanya juga manusia, kan?

Itulah mengapa dalam sebuah proses hukum hakim tidak dapat langsung memutuskan bahwa dia harus divonis dengan hukuman maksimal, bahkan sampai ultra petitum (vonis melebihi tuntutan). Hakim (sepatutnya) menyadari bahwa terdakwa yang duduk di kursi panas adalah seorang manusia, bukan alien. Ada motif yang mendasari mengapa terdakwa melakukan tindakan tersebut yang tidak dapat dibenarkan dan disalahkan seratus persen. Dan pada akhirnya pun, jika subjektivitas hakim dalam menjatuhkan vonis tidak dapat memuaskan semua pihak, wajar saja. Hakim juga manusia. Setidaknya dia telah berusaha menjalankan persidangan sebaik-baiknya. Setidaknya dia telah berusaha menempatkan keadilan pada tempatnya. Dia sudah mendapatkan pendidikan untuk melatih agar subjektivitasnya dapat terkontrol oleh objektivitas fakta sesuai batasnya. Berilah penghargaan barang sedikit saja.

"Kalau hakimnya disuap? Kalau persidangannya dimainkan oleh pihak-pihak tertentu?".

Itu kesalahan aparatnya, bukan hukumnya. Aparatnya yang sembrono dalam pemenuhan hawa nafsunya. Jika memang memiliki bukti, bawa saja ke pengadilan lagi. Para pakar hukum dan pengacara juga siap membantu kalian jika buktinya kuat. Bersikap elegan sedikit lah, jangan main bawa massa untuk mengepung pengadilan. 

"Alah, palingan bawa bukti juga percuma. Persidangannya bisa dimainkan lagi,".

Kalian hidup di dunia apa sih, by the way? Sesantai itu mengatakan bahwa semua yang duduk di kekuasaan tinggi adalah manusia yang jahat. Tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang mengatakan politik itu keji dan kotor. Di mana ada kejahatan, selalu ada kebaikan. Santai sedikit lah, masih banyak orang yang berniat tulus duduk di kursi kekuasaan untuk menjalankan amanah yang sebaik-baiknya. Generalisasi kalian lah yang pada akhirnya membutakan pikiran kalian sendiri, bukan?

Jika terlalu malas untuk membuka buku-buku ilmu sosial, setidaknya ingatlah bahwa manusia tidak pernah luput dari kesalahan, sehingga objektivitas kalian tidak dibutakan oleh subjektivitas dan prasangka liar yang merajalela.



Yours,
Anissa Antania Hanjani



P.S.: Tulisan ini late post spesial bagi orang-orang yang biasanya suka sekali bawa massa ke pengadilan dengan alasan aksi simpati dan kawal persidangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...