Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata 'manusia'?
Jika pertanyaan ini untukku, kurasa akan terlalu banyak definisi yang menggambarkan makhluk bernama latin Homo sapiens ini. Sangat banyak, sehingga definisi itu bisa tak terbatas.
Manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan "kombinasi" malaikat dan iblis. Bisa jahat, bisa juga baik.
Manusia, makhluk kecil lemah yang tak akan bertahan hidup tanpa menggunakan akal budinya.
Manusia, makhluk sebaik-baiknya makhluk dengan ketidaksempurnaannya karena kesalahan dan kealpaannya.
Manusia, makhluk yang berkesempatan untuk mengambil berbagai jalan menuju penciptanya. Dia sendirilah yang akan memutuskan untuk mengambil atau tidak.
Sekarang, setidaknya dengan beberapa definisi di atas, ingat-ingatlah kembali: apakah ada suatu peristiwa di mana sahabat terbaik kalian membutuhkan penilaian kalian ketika dia bertengkar dengan salah satu teman kalian? Dan apakah yang kalian lakukan pada saat itu? Mendukungnya? Mengingatkannya bahwa dia salah? Keputusan mana yang kalian ambil pada saat itu?
Mengapa kalian mendukungnya?
Mengapa kalian mengingatkannya bahwa dia salah?
* * *
Dalam kehidupan kita, banyak fenomena yang menyimpulkan bahwa menjadi orang objektif itu sangat sulit. Sebab, seobjektif apapun itu, kita pada akhirnya dihadapkan kepada pilihan yang harus dipilih secara seksama. Pada akhirnya, kita dipaksa subjektif meski sudah berusaha memberikan penilaian seobjektif mungkin.
Kemarahan sahabat terbaik ketika kita mengatakan bahwa dialah yang salah atau kelegaannya ketika dia dimenangkan dalam pertengkarannya tadi oleh penilaian kita adalah salah satu contohnya.
Namun, ada baiknya kita tidak lupa memanusiakannya. Kita dan dia hanyalah manusia biasa yang tidak pernah seratus persen benar dan salah. Let's put ourselves on their shoes. Jika dia salah dalam penilaian kita, katakanlah bahwa kita memahami perasaannya meski tindakannya tidak bisa dibenarkan, kemudian ajaklah dia meminta maaf. Jika dia benar dalam penilaian kita, ajaklah dia untuk meminta maaf duluan. Selalu ada motif di balik tindakan seseorang. Ada motif mengapa sahabat kita marah. Ada motif mengapa teman kita tak kalah marahnya. Karena itulah, dalam sebuah pertengkaran sangat perlu bagi pihak-pihak yang terlibat untuk saling meminta maaf. Bisa jadi kita benar, tetapi saat bertengkar kita menyakiti pihak lain dalam kebenaran yang kita bawa. Bisa jadi mereka benar, tetapi mereka terbawa nafsunya untuk meneriaki kita dalam fakta yang mereka bawa.
Namanya juga manusia, kan?
Itulah mengapa dalam sebuah proses hukum hakim tidak dapat langsung memutuskan bahwa dia harus divonis dengan hukuman maksimal, bahkan sampai ultra petitum (vonis melebihi tuntutan). Hakim (sepatutnya) menyadari bahwa terdakwa yang duduk di kursi panas adalah seorang manusia, bukan alien. Ada motif yang mendasari mengapa terdakwa melakukan tindakan tersebut yang tidak dapat dibenarkan dan disalahkan seratus persen. Dan pada akhirnya pun, jika subjektivitas hakim dalam menjatuhkan vonis tidak dapat memuaskan semua pihak, wajar saja. Hakim juga manusia. Setidaknya dia telah berusaha menjalankan persidangan sebaik-baiknya. Setidaknya dia telah berusaha menempatkan keadilan pada tempatnya. Dia sudah mendapatkan pendidikan untuk melatih agar subjektivitasnya dapat terkontrol oleh objektivitas fakta sesuai batasnya. Berilah penghargaan barang sedikit saja.
"Kalau hakimnya disuap? Kalau persidangannya dimainkan oleh pihak-pihak tertentu?".
Itu kesalahan aparatnya, bukan hukumnya. Aparatnya yang sembrono dalam pemenuhan hawa nafsunya. Jika memang memiliki bukti, bawa saja ke pengadilan lagi. Para pakar hukum dan pengacara juga siap membantu kalian jika buktinya kuat. Bersikap elegan sedikit lah, jangan main bawa massa untuk mengepung pengadilan.
"Alah, palingan bawa bukti juga percuma. Persidangannya bisa dimainkan lagi,".
Kalian hidup di dunia apa sih, by the way? Sesantai itu mengatakan bahwa semua yang duduk di kekuasaan tinggi adalah manusia yang jahat. Tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang mengatakan politik itu keji dan kotor. Di mana ada kejahatan, selalu ada kebaikan. Santai sedikit lah, masih banyak orang yang berniat tulus duduk di kursi kekuasaan untuk menjalankan amanah yang sebaik-baiknya. Generalisasi kalian lah yang pada akhirnya membutakan pikiran kalian sendiri, bukan?
Jika terlalu malas untuk membuka buku-buku ilmu sosial, setidaknya ingatlah bahwa manusia tidak pernah luput dari kesalahan, sehingga objektivitas kalian tidak dibutakan oleh subjektivitas dan prasangka liar yang merajalela.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
P.S.: Tulisan ini late post spesial bagi orang-orang yang biasanya suka sekali bawa massa ke pengadilan dengan alasan aksi simpati dan kawal persidangan.
Komentar
Posting Komentar