Langsung ke konten utama

Back In Time (1)

Hi, guys!

Hari ini tulisanku no politics. Selain karena baru aja selesai UTS pengantar ilmu hukum dan nggak mau ribut masalah perpolitikan (meski dalam hati juga sebel sama kasus baru-baru ini seperti Marvel 212 dan penyiraman Novel Baswedan), hari ini aku melakukan perjalanan yang menarik sekali buat diceritakan.

Aku teringat omelan Mr. Dimas ketika kami kumpul-kumpul bertiga sama Mr. Izz di Kopeng. Katanya, "Cita-cita mau ke luar negeri, tapi kota-kota kecil sekitarmu aja belum pernah kamu kunjungin. Main-main sana, lho!". Oke, itu salah satu penyebab aku melakukan perjalanan ini juga, tetapi bukan yang utama. Jadi, sebab utamanya adalah hari ini adalah back-in-time day nya Anissa Antania Hanjani. Kita akan bernostalgia dengan kenangan masa lalu. Bukan masa laluku, hahaha, aku belum jadi siapa-siapa di negeri ini. Kita akan ke sebuah tempat di mana jejak revolusi fisik di Indonesia di Kab. Semarang tertinggal dan juga ke sebuah makam pahlawan nasional.

Ke mana aja, sih?

1. Monumen Palagan Ambarawa
Gerbang masuk menuju Monumen Palagan Ambarawa
Dari Sukun, aku menaiki bus jurusan Semarang-Magelang menuju Monumen Palagan Ambarawa. Terakhir banget aku ke sini itu pas SD, lupa deh itu kelas berapa, dalam rangka PLS (Pelajaran Luar Sekolah). Sebenarnya nih aku bingung mau ke mana setelah UTS dan akhirnya aku menyortir beberapa tujuan yang mau kudatangi sejak perjalanan keluar dari area kampus. Museum Mandala Bakti sudah cukup sering, Museum Ronggowarsito belum terlalu lama juga aku kunjungi, dan akhirnya terpilihlah destinasi ini. Bisa sekalian pulang, batinku dalam hati.

Monumen ini didirikan untuk mengenang pertempuran yang terjadi di Ambarawa melawan tentara Sekutu yang datang dari arah Semarang. Pada pertempuran inilah nama Soedirman (yang kelak menjadi jenderal termuda dalam sejarah) mulai melejit dengan taktik supit udangnya yang terkenal.

Sesampainya di sana, aku dipungut biaya masuk sebesar Rp 5.000,-. Cukup murah, meski terjadi kenaikan harga. Dulunya sih Rp 4.000,- pada hari biasa. Suasana di sana cukup sepi, lumayan deh jadi bisa jalan-jalan santai.

Well, sebenarnya aku tidak suka suasana sepi di museum. Mungkin ini adalah efek film Night at The Museum, jadi membayangkan gimana mencekamnya kalau benda-benda museum hidup dan berjalan sendiri (padahal belum pernah nonton filmnya, HAHAHA). Biasanya ketika berkunjung ke museum yang besar dan sepi seperti Museum Ronggowarsito sendirian, aku akan membiarkan ponselku menyala dan berdering biar perasaan merindingnya berkurang. Dulu soalnya pernah aku ke Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta pas jaman-jamannya masih jadi anak asrama (which is jadi nggak bisa bawa ponsel) dan tiba-tiba ada musik gitu pas lagi sendirian, aku jadi nggak konsen nonton dioramanya, tiba-tiba membayangkan dioramanya hidup dan bergerak sendiri, merinding, akhirnya lari deh, HAHA. Namun, bedanya kali ini ketika ke Monumen Palagan Ambarawa adalah museumnya kecil dan ruangannya terbuka, jadi nggak perlu lari kan kalau lagi sendirian, HAHA. Jadi nggak takut deh meski sendirian ke sini.

Begitu memasuki gerbang, di sebelah kiri terdapat Museum Isdiman. Namanya diambil dari nama Letkol Isdiman, teman seperjuangan Jenderal Soedirman yang gugur dalam Pertempuran Ambarawa. Seperti yang kuceritakan barusan, museum ini kecil dan ruangannya terbuka. Di dalamnya, terdapat koleksi persenjataan yang digunakan dalam Pertempuran Ambarawa dan seragam-seragam bekas tentara PETA dan Heiho. Ada juga foto-foto tokoh-tokoh pertempuran, beberapa menarik hatiku soalnya ada yang tertulis di deskripsinya seperti berikut gugur pada pertempuran di Mijen, Ungaran, pada 28 September 1945 (aku lupa namanya siapa, maafin lho). Wow. Itu kan daerah tempatku tinggal. Jadi dulu ada pertempuran juga ya di daerah tempatku tinggal. Seingatku juga di peta pertempuran yang ada di Museum Mandala Bakti dan buku 30 Tahun Indonesia Merdeka jilid I, Ungaran adalah kota yang juga jadi tempat pertahanan Sekutu. Jelaslah, kan mereka masuknya dari Semarang. Oh ya, selain itu ada juga fotonya Pak Gatot Soebroto dan Soedirman yang menjadi pahlawan di Pertempuran Ambarawa.

Koleksi museum ini tidak banyak, sih. Mungkin karena sebagian besar koleksi pertempuran dibawa ke Museum Mandala Bakti, jadi kalau mau tahu lebih lengkapnya tentang kisah Pertempuran Ambarawa bisa ke sana juga. Soalnya, waktu aku baca buku di perpustakaan museum di sana, pas banget dengan kedatangan sejumlah kru dari sebuah televisi nasional yang sedang membuka file-file Pertempuran Ambarawa, jadi diijinin lihat deh.

Museum Isdiman yang menyimpan koleksi Pertempuran Ambarawa
Mungkin sebagian besar koleksinya dibawa ke Museum Mandala Bakti, makanya museum ini kecil
Patung dada Letkol Isdiman di bagian depan museum
Di belakangnya tampak tulisan peresmian oleh Presiden Soeharto
Koleksi Museum Isdiman
Sebagian besar koleksi berupa seragam PETA dan Heiho
Puas melihat-lihat museum, aku berjalan-jalan di sekitar monumen. Koleksi besar-besar dipajang di sana. Ada kereta api yang digunakan dalam Pertempuran Ambarawa. Sekilas info nih, dulu memang Ambarawa dan Ungaran dilalui rel kereta api yang terhubung melewati Lawang Sewu yang dulunya merupakan kantor pusat perusahaan kereta api Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (jadi tahu kan nih, kata sepur, kereta api dalam bahasa Jawa, berasal dari bahasa Belanda spoor), terus ke Semarang, sampai akhirnya ke Batavia. Bukti keberadaannya adalah Stasiun Willem I yang sekarang menjadi Museum Kereta Api Ambarawa. Seiring berjalannya waktu, rel kereta itu mulai dibongkar dan kantor pusatnya jadi Museum Kereta Api Lawang Sewu.
Lokomotif kereta buatan Jerman ini menjadi saksi bisu Pertempuran Ambarawa
Kebayang betapa gagahnya lokomotif ini ketika bertugas dulu

Selain itu, ada juga beberapa persenjataan dan alat transportasi berat seperti tank, truk tentara, dan meriam gunung. Tidak ada deskripsi khusus tentang truk dan tanknya, hanya ada deskripsi tentang meriam gunung yang digunakan. Meriam gunung itu buatan Swedia, merknya Bovor, dengan kaliber 25 cm. Panjang juga ya.




 Truk, tank, dan meriam gunung yang digunakan dalam Pertempuran Ambarawa
Kebayang nggak sih betapa gagahnya benda-benda ini dulu di medan perang

Dari semua koleksinya, yang menarik bagiku adalah Pesawat Mustang P.51 (cocor merah) berawak satu orang, pesawat tempur milik Sekutu yang konon ditakuti pada masanya. Pesawat jenis pemburu ini dibuat di pabrik Gavaller Aircraft Corporation, Amerika Serikat dengan berat 7 ton, panjang 9,81 meter, dan bentang sayap 11,28 meter. Pesawat ini dapat terbang dengan tinggi maksimal 7.720 meter dan kemampuan terbang 3.185 km dengan kemampuan jelajah 753 km/jam. Sesuai dengan fungsinya, pesawat ini memuat berbagai persenjataan, yakni browning caliber, rocket launcher sebanyak 8 buah, dan 2 buah bom. Dalam pertempuran, pesawat ini dapat ditembak jatuh dan hingga kini, ada pesawat yang masih tenggelam di dasar Rawa Pening (kalau awak pesawatnya nggak keluar, kebayang deh dia udah tinggal tulang aja di dasar Rawa Pening, hii).
Ini dia, si Cocor Merah yang dulu begitu ditakuti banyak orang pada masanya
Gagah abis! 
Sekitar jam sebelas kurang seperempat, aku selesai mengitari monumen dan menikmati koleksinya. Meski tempatnya bersih dan rindang, sayang banget monumen sepi pengunjung. Padahal kisah Pertempuran Ambarawa banyak dimuat di buku-buku sejarah SD, SMP, dan SMA. Ironis ya, di saat Anne Frank Huis, Museum Louvre, dan berbagai museum di belahan dunia yang memuat berbagai sejarah penting negara banyak dikunjungi warga negaranya, di Indonesia gairah untuk mengunjungi museum masih sangat kurang. Citra museum yang membosankan sepertinya belum bisa lepas ya.
 
Yah, padahal Bung Karno aja pernah berpesan jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.


2. Makam Pahlawan Nasional, dr. Cipto Mangunkusumo

Khusus yang berasal dari Kab. Semarang nih, aku mau tanya. Ada berapa pahlawan nasional yang dikebumikan di Kab. Semarang?

Jawabannya, ada dua.

Selain Jenderal Gatot Soebroto di Ungaran, salah satu pahlawan nasional yang dulu disebut empat serangkai Putera (Pusat Tenaga Rakyat), dr. Cipto Mangunkusumo, juga dikebumikan di Kab. Semarang. Tepatnya di Watu Ceper, Ambarawa, nggak jauh dari jalan utama Kota Ambarawa. Baru tahu? Sama, aku baru tahu ketika dalam perjalanan ke Yogyakarta bareng keluarga beberapa bulan lalu, ketika bus yang kami tumpangi melewati papan penunjuk ke makam beliau di Ambarawa. Aku pernah baca biografi singkat beliau juga, tetapi aku nggak ngeh kalau Watu Ceper itu ternyata di Ambarawa, hahahaha.

Sebenarnya, kunjungan ke pusara beliau ini tidak kurencanakan sama sekali. Seusai keliling Monumen Palagan Ambarawa, aku tiba-tiba teringat papan penunjuk arah ke makam beliau dan akhirnya kuputuskan untuk berziarah sebentar sebelum pulang. Belum tentu ada kesempatan lagi di lain waktu, kan?
Papan biru penunjuk makam dr. Cipto Mangunkusumo
Selain karena efek kamera yang blur abis HAHA, emang papannya udah agak usang gitu
Sayang banget, padahal beliau dulu juga tokoh penting di negara kita ini

Dari jalan utama, jalan masuk menuju makam tidak jauh. Hanya sekitar 150 m. Kemudian, kita akan disambut lagi oleh gerbang masuk menuju makam.
Gerbang masuk menuju makam dr. Cipto Mangunkusumo

Ada hal yang bikin aku seriusan kaget ketika sampai di sana. Makam beliau ternyata berada di dalam kompleks TPU Watu Ceper. Aku soalnya berekspektasi bahwa makam beliau itu pemakaman yang benar-benar khusus keluarga seperti makam Jenderal Gatot Soebroto. Nah, alasan di balik hal ini nanti akan kuketahui ketika sampai di pemakaman keluarga beliau.
  Setelah memasuki kompleks TPU Watu Ceper, baru deh kita memasuki kompleks makam dr. Cipto dan keluarga besar beliau
Lebih sederhana daripada makam Jenderal Gatot Soebroto di Ungaran

Sesampainya di kompleks makam dr. Cipto Mangunkusumo dan keluarga besarnya, aku disambut oleh Pak Pri, juru kunci makam yang kebetulan sedang ada pekerjaan di sana. Setelah melihat-lihat kompleks pemakaman dan berdoa di makam beliau, aku duduk-duduk dan mengobrol dengan Pak Pri. Beliau bercerita, sekitar 10-15 tahun yang lalu, keluarga besar biasanya rutin mengunjungi makam ini, tetapi sejak generasi yang sepuh pindah ke Jakarta, makam ini jarang dikunjungi.

"Keluarga besarnya ada yang di Jakarta, ada juga yang di luar negeri, Mbak," jelas beliau.

"Saya kira makamnya besar, ternyata lebih kecil dari makamnya Gatot Soebroto di Ungaran," kataku. Aku teringat kunjunganku ke makam Jenderal Gatot Soebroto saat liburan kuliah semester satu lalu. Makamnya dipayungi cungkup beratap joglo yang besar dengan lantai terbuat dari marmer. Di dalamnya terdapat makam beliau dengan istri, putra-putri, serta menantunya. Ada juga ukiran wajah Jenderal Gatot Soebroto dengan penghargaan-penghargaan yang diraih beliau semasa hidupnya. Well, di dalam juga masih terbentang lahan hijau yang cukup luas. Suasananya damai dan menenangkan.

"Kalau Pak Gatot Soebroto itu kan memang punya lahan di Ungaran, kalau dr. Cipto ini mintanya dimakamkan sederhana saja," ujar beliau.

"dr. Cipto itu asli mana ya, Pak?" tanyaku.

"Beliau asli Jepara, tetapi orangtuanya ada yang berasal dari Ambarawa," jawab beliau. "Oh ya, Mbak ke sini ada apa? Misi khusus?"

"Ah, nggak kok, Pak, kunjungan biasa," Aku dalam hati deg-degan aja dikira datang buat misi khusus. "Saya punya ketertarikan besar terhadap sejarah, sayang aja kan kalau orang yang sudah berjuang untuk kita dilupakan begitu saja,".

Pak Pri mengangguk.

"Dulu ada profesor dari Universitas X (sebuah universitas negeri terkenal) yang pernah datang ke sini. Beliau ahli sejarah, tetapi tidak tahu sejarah dalam negeri sendiri. Jadi ketika dulu dia ke Jerman, dia ditanyai oleh profesor di sana, 'Kamu tahu makamnya dr. Cipto di mana?'. Dia menjawab, 'Tidak tahu,'. Gimana sih itu, harusnya kan sebagai ahli sejarah dia tahu hal itu. Jadi akhirnya dia datang ke sini dengan mahasiswa-mahasiswanya," kisah beliau.

Aku tersenyum. Itu profesornya keterlaluan juga ya, padahal ahli sejarah lho.

"Oh ya, Pak, di sini yang mana saja ya makam putra-putri beliau?" tanyaku.

"Yang nisan marmer kecil di depan itu makam putri beliau yang masih berusia dua tahun," Pak Pri mengarahkan pandangannya ke arah sebuah nisan marmer putih yang dipagari. "Lalu itu dan itu, ada eyang dan buyut beliau," Beliau terus mengarahkan pandangannya ke arah nisan lainnya. "Yang ini juga, masih kerabat dekat," Beliau menepuk sebuah nisan di depan tempatku duduk. "Tiga nisan marmer putih di depan itu makam adik-adik beliau, salah satunya dr. Gunawan Mangunkusumo yang juga pendiri Boedi Oetomo,".

Wow! Jadi dr. Gunawan Mangunkusumo itu masih adiknya dr. Cipto? Aku pernah membaca nama itu sekilas di buku sejarah, ternyata dunia ini sempit sekali.

"Oh, dr. Gunawan Mangunkusumo mendirikan Boedi Oetomo dengan Sutomo itu kan, Pak?" kataku.

"Iya, beliau itu masih menantunya dr. Sutomo," jelas beliau.
Makam adik-adik dr. Cipto Mangunkusumo
Paling kanan adalah makam dr. Gunawan Mangunkusumo yang turut mendirikan Boedi Oetomo

"Basisnya Boedi Oetomo kan Jawa, Pak, tetapi dr. Cipto itu pemikirannya nasionalisme. Kok bisa ya berbeda begitu, Pak?"

"Beliau kan dulu pernah ke Belanda,".

Aku mengangguk.

Aku kembali menatap nisan sekaligus prasasti dr. Cipto Mangunkusumo yang terletak tak jauh dari tempat dudukku. "Di sana kan ada dua makam, Pak. Di sebelahnya makam dr. Cipto itu siapa ya, Pak?" tanyaku. 

"Oh, itu makam Ibu, istri dr. Cipto. Namanya Marie Vogel, noni Belanda, kemudian pindah agama menjadi mualaf, lalu berganti nama jadi Aminah Vogel," jawab beliau.

Wih, pasti cantik banget paras Bu Cipto, batinku.

Setelah agak lama mengobrol, Pak Pri memohon pamit untuk meneruskan pekerjaan dan aku mengucapkan terima kasih atas informasi dan pelajaran berharga yang kudapatkan hari ini. Aku sekali lagi melangkah menuju pusara dr. Cipto dan istrinya.

"Terima kasih banyak atas perjuangannya ya, Pak. Saya bangga memiliki pahlawan seperti Bapak," ucapku, lalu berbalik dan meninggalkan kompleks makam.
* * *
Aku banyak merenung akhir-akhir ini. Terpikir kalau kelak aku tidak bisa mewujudkan mimpiku menjadi duta besar, diplomat, atau atase di bidang pendidikan, ada satu hal yang ingin sekali kulakukan dan kujadikan pekerjaan tetapku. Aku ingin jadi guru sejarah, minimal di SMA tempatku bersekolah dulu. Namun, aku akan berbeda. Aku bukan Mr. Dimas, aku bukan Mr. Izz. Aku ingin seperti Bung Karno ketika mengajar sejarah di Ksatrian Instituut di Bandung dulu. Aku ingin memerankan setiap adegan-adegan yang kuceritakan. Sama seperti Bung Karno ketika mengajarkan tentang Sun Yat Se dulu kepada murid-muridnya. Marah-marah dan menggebrak meja. Aku juga ingin seperti itu.

Aku sadar, pelajaran sejarah bukan sekedar tanggal dan peristiwa. Jika murid-muridku kelak hanya diajar tentang tanggal dan peristiwa, maka hanya sedangkal itulah pelajaran sejarah. Padahal, pelajaran sejarah adalah tentang pesan dari manusia yang lampau kepada penerusnya kelak di masa depan. Pesan tentang apa yang telah diperbuat, apa keunggulannya, apa kesalahannya, apa yang seharusnya diperbaiki, dan apa cita-cita yang hendak diwujudkan. Inilah sebabnya Bung Karno berpidato pada 17 Agustus 1966 dulu: JASMERAH. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Aku ingin murid-muridku kelak memahami makna pesan-pesan kehidupan itu dan berharap supaya mereka mampu meneruskannya. Aku ingin mereka paham cita-cita semua orang yang berjasa membangun negeri tempat mereka tinggal.

Sebab aku sadar, kehidupanku adalah sejarah. Kehidupanku adalah pesan bagi penerusku kelak. Oleh karena itu, mereka harus tahu pesan yang ingin kusampaikan, bukan sekedar tanggal aku mengirimkannya, bukan sekedar apa yang terjadi kepadaku, tetapi apa harapanku kepada mereka.


Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...