Langsung ke konten utama

Edisi Curhat: Kuliah

What do you think about university life?

Duh, susah menjelaskannya. Lebih banyak mana ya antara enak dan nggak? Dua-duanya imbang. Ada enaknya, ada nggaknya. 

Karena udah dua hari ini aku kuliah, aku cerita aja. Firstly, terutama buat yang jilbabnya besar, be careful. Sangat hati-hati. Aku nggak bermaksud gimana, but sejak kejadian di event di mana aku ditembak di depan orang banyak, aku lebih memilih buat bergaul dengan orang yang udah jelas bener. Dulunya aku pingin dan berusaha gimana caranya biar bisa kenal semua, membaur semua, but sometimes you have to know that world is not always as we want, right? Aku memilih hati-hati kalau ada anak laki-laki yang tiba-tiba aja dekat padahal sebelumnya nggak (kecuali beberapa yang aku udah lumayan tahu kalau mereka bener dan emang mereka kuliah bukan buat hal-hal lain selain belajar), kan aku nggak tahu apa mereka ada maksud tertentu atau nggak.

Itu tentang cowok. The first thing you have to know. Cowok-cowok di sana bukan yang alim-alim seperti di ABBS. Yang bercandaan sama cewek tapi ngerti batas. Bukan, mereka bukan yang seperti itu, girls. Tegaskan prinsipmu dari awal. Say sorry that you can't shake hands and others. 

Another thing, be yourself. Kalau udah tahu gimana adab-adabnya bergaul sama cowok, just do it. Yang lain, let them be. Biarin aja, mereka belum tahu. Dan jangan coba-coba buat sok nasihatin ini itu dari pas awal-awal. Cukup sampaikan saja apa yang kamu tahu ketika ditanya, jangan malah kamu yang bilang. Atau, kamu bilang aja kalau itu sudah melanggar prinsip yang dipegang. Misal ketika pas ada apa kamu harus rangkulan sama cowok, say no, sorry.

Oke, apa yang aku hadapi ketika melihat cowok-cowok seperti itu adalah...HOMESICK. Kangen ABBS. Kangen rumah kedua. Ini aja dari tadi chatting sama Farrel bawaannya...duh, coba aja kalo ada satu cowok ABBS di sini. Duh, coba aja kalau dia di FISIP. Kind of that. Aku curhat sama dia betapa beratnya lingkungan di sini. I said I am afraid, takut kalau dijadiin bahan mainan beberapa cowok yang niatnya nggak baik. Thanks, he really cheers me up tonight. He makes me sure that everything will be alright. 

Oh ya, mereka yang di prodiku mungkin belum tahu fakta ini: yang kusebut bestie kebanyakan cowok. Haha, iya aku memang menghindar, tapi aku lihat sikon. Selama SMA dulu I know the limit, aku tahu batasnya. We just have a chat and then close each other karena ternyata frekuensi pemikirannya sama. By the way, kami di sana tahu kok akrab sama lawan jenis nggak harus sampai keplak-keplakan. We don't touch each other, but we're close enough. Bisa? Ya, bisa aja. Kenapa nggak? The different is sekarang aku memilih menghindar. Aku ingin membaca situasi dulu. Farrel said, better now I have to be with girls. Atau mungkin...nggak dulu, deh (ini pendapatku pribadi).

Second thing, tetap semangat belajar. Kuliah itu lebih banyak jam bebas, tapi siap-siap aja tugas banyak. Setiap saat butuh referensi ke perpus. Huhu. But, bagian ini paling nyenengin. Aku bisa ketemu lagi dengan surgaku, tempat yang penuh buku-buku. Biasanya kalo aku nggak ada tugas sama sekali, aku bakal belajar mata kuliah yang lain buat mengejar materi. Sebisa mungkin, aku ingin berlari lebih cepat. Aku ingin membuktikan bahwa seseorang yang berjilbab besar itu sama sekali nggak terhalang buat berprestasi. I will prove it!

Third, kalau udah nggak kuat sama keadaan, segera CURHAT. Serius. Aku barusan curhat sama Miss Intan sampai nangis-nangis. Bertanya harus apa, salahkah posisiku sekarang, dan lain sebagainya. Sampai puas nangisnya. Ya Allah, habis curhat dan dapat nasihat, serius hati adem banget. Dari semuai itu, aku menyimpulkan sendiri bahwa sepertinya FISIP Undip adalah madrasah awal buat kuliah di luar negeri dan pas aku nangis tadi, aku jadi ngerti kenapa aku belum dikasih impianku buat kuliah di luar sama Allah. Orang yang di dalam negeri aja udah ngeluh ga kuat, apalagi di luar. Jadi apa nantinya aku kalau udah di luar?

That is why, aku akan tetap berjuang. I will give prove, berjilbab seperti ini adalah penggerakku untuk maju, bukan halangan. Hey, justru aku kasihan sama yang buka-bukaan di klub-klub itu. Mereka nganggep itu modern ya? Ah, berarti manusia purba modern banget dong ya? Kan udah buka-bukaan.





Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...