Langsung ke konten utama

First Meeting of Rumah Pintar FISIP

Jumat kemarin aku punya cerita seru, lho!

Jadi, Jumat malam kemarin adalah pertemuan pertama Rumah Pintar FISIP di Desa Rowosari. Desa ini memang sudah jadi desa binaannya FISIP. Rumah Pintar FISIP tempatnya gabung sama PAUD gitu dan bangunan itu berdiri di belakang rumahnya Bu Tutik, salah seorang warga desa di sana. 

Hm, well...it is the most amazing story in life. Kalau Mr. Dimas cerita ngajar pertama beliau ke Papua, pelosok-pelosok gitu, kali ini aku juga ke pelosok. Aku, Mbak Devi, Mbak Bilbil, Mbak Risma, Syahri, dan Mbak Bela bareng-bareng berangkat rombongan gitu naik motor. Di jalan, kita shalawat bisa sampai dua kali. Pertama, pas kita lewat jalan sepi. Bayangin aja, udah jalan sepi nggak ada lampu. Ini kalo dibegal gimanaaa...ini. Ya Allah, aku masih terlalu mudaaaa....belum lulus sarjana juga, mana baru masuk, kalau mati sekarang kayaknya nggak lucu (halah). Kedua, pas lewatin jalanan rusak. Oke, jalanan rusak itu tuh bukan sekedar yang aspalnya berlubang. Ini belum diaspalin jalannya, bray! Aku yang bonceng Mbak Bilbil udah dalam hati istighfar berkali-kali. Takut sumpah. Ini motor Mbak Bilbil bisa remuk kali ya terus-terusan lewat situ.

Namun, sampai di sana aku langsung terhibur dengan hadirnya anak-anak kecil yang lucu-lucu. Alhamdulillah, aku baru ambil brownies dari kosnya Mbak Jannah kan, jadinya ada yang bisa dikasih ke mereka. Mereka semua lucu-lucu.

Oh ya, bangunan Rumah Pintar FISIP ini...kalau secara struktur bisa dikatakan sudah cukup layak menurutku. Namun, untuk tempat belajar, tempat ini belum cukup layak. Lantainya cuma lantai semen yang of course dingin banget dan mereka cuma pakai tikar, untung bukan tikar anyam gitu. Penerangannya juga belum memadai. Masih agak redup. Kalau Papa lihat sih, mesti bakal langsung diganti lampunya. Dulu pas aku masih kecil nggak boleh belajar di tempat redup.

Nah, di sana aku mengampu kelas 5 SD. Murid pertamaku namanya Irena. Anak MI di desa setempat. Rumahnya cukup dekat dari sekolah, sekitar 5 menit jalan kaki. Anaknya pemalu, nggak banyak bicara. Ketika aku tanya, "Kamu mau minta diajarin yang mana?" dia hanya membuka LKS dan menunjukkan padaku materi yang mana. Ternyata tentang peredaran darah. Ya Allah, untung aku dari IPA, wkwk. Pelajaran Biologi masih kepake nih, hahahaha. Jadi, akhirnya aku terangin deh dengan gambar skema yang aduh acak-acakkan, tapi insya Allah simpel dan dia mengerti. Gambar jantung yang di LKS katanya terlalu susah buat dipahami. Ya kali anak SD suruh ngapalin semua bagian jantung.

Irena sepertinya kesulitan memahami pelajaran IPA di sekolah, tetapi pas aku coba cek latihan soalnya, jawabannya benar semua.

"Ini kamu sendiri yang ngerjain?" tanyaku.

"Bukan,"

"Sama teman?"

"Sama guru,"

Oh pantes, batinku. Model guru di sana hanya mendikte bahwa jawaban soal ini adalah itu, pokoknya, tanpa keterangan lebih lanjut, simpulku dalam hati. Irena sendiri masih belum bisa membedakan apa itu vena, arteri, kapiler, dan aorta. Kadang masih tertukar-tukar mana yang keluar dari tubuh, apakah itu oksigen atau karbon dioksida. Masih nggak tahu apa penyakit-penyakit dalam peredaran darah. Aku harus mengulang semua dari awal.

Namun, ketika beralih ke pelajaran Al Qur'an, Irena tampak semangat. Dia membaca ayatnya dengan benar, mendengarkan cerita-ceritaku dengan baik, dan cepat paham. Dia bilang, dia memang suka pelajaran Al Qur'an, Akidah, dan Fiqih. Jamanku SD dulu aku juga suka, gampang sih soalnya, wkwk. Namun, untuk pelajaran-pelajaran umum nih, Irena nggak suka. Bahkan IPS sekali pun. Ini tantangan untuk menumbuhkan semangat belajarnya, sih.

Kami menemukan banyak anak dengan problem belajarnya sendiri-sendiri. Anak-anak yang diampu Mas Udin misalnya, kelas 2 SD tapi menulisnya belum lancar. Haura, anak asuhnya Mbak Bilbil, dia udah nggak bisa konsen belajar di atas jam setengah 8 karena biasanya jam segitu anak udah tidur di rumahnya. Namun, hebatnya Haura nih, jam 4 pagi dia udah bangun. Wiew. Selain problem belajar, kami menemukan bahwa mayoritas orangtua di sana juga nggak peduli apa di rumah anak udah belajar atau belum. Padahal pas aku SD sekalinya nggak belajar omelan Papa Mama udah di deket telinga, wkwk.

Semua hal itu melelahkan, tetapi begitu diniatkan baik, untuk pengabdian, rasanya semua enteng. Paginya aja aku alhamdulillah masih dalam keadaan sehat bugar pas ikut Legislation Class.


Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...