Aku nggak tahu harus mulai dari mana ketika suatu hari bisa bertemu denganmu lagi. Namun, aku tahu satu hal. Ketika kelak aku bisa bertemu denganmu, aku akan menangis. Menangis keras dan terus-terusan bilang, "Maaf, maaf, maaf," berulang-ulang. Aku akan terguncang. Aku tidak bisa berkata-kata.
Aku merindukanmu.
Hai, aku di sini meneruskanmu. Mungkin, insya Allah, dan entahlah, tetapi aku berusaha sebaik mungkin menjadi penerusmu. Aku sekarang berada di jurusan impianku, jurusan yang sejak SMA ingin aku masuki dan...inilah aku sekarang. Tetap sama dengan yang kau tahu dulu.
Hey, apa kabar? Adakah sedikit saja, dari duniamu yang sekarang, kau merindukanku? Mungkin lebih banyak tidaknya, tetapi aku ingin kau tahu aku sangat merindukanmu. Aku ingin kau di sini bersamaku. Aku ingin melakukan banyak hal denganmu. Kelak, suatu saat jika aku menyusulmu.
Kau tahu? Jika mesin waktu itu benar-benar ada, aku ingin kembali ke waktu itu, maghrib itu, rumah sakit itu. Hari di mana kau dilarikan ke ICU. Hari di mana aku pingin bilang ke Mr. Ajung dan Mr. Dimas bahwa aku sangat ingin pergi ke rumah sakit menemanimu, tetapi entah kenapa tidak terucap. Hari di mana aku seperti disambar petir di siang bolong. Hari yang mempengaruhiku selama seminggu, sebulan, dan hari-hari ke depan setelah itu.
Apa yang kuinginkan? Aku ingin berada di sampingmu, menemanimu di detik-detik terakhirmu. Ingin sekali mengucapkan banyak kata. Aku nggak ingin orang lain yang menyampaikannya dan aku sebenarnya kesal hanya bisa titip pesan ke Fikri saat itu. Aku hanya bisa menyampaikan, "Fik, bilang padanya aku ingin dia bangun, aku ingin minta maaf kalau dia bangun," dan hanya itu. Bodohnya, aku harus menunggumu bangun untuk minta maaf, padahal setelah itu selamanya kau tidak pernah terbangun.
Lebih bodohnya lagi, apakah aku harus menunggumu kecelakaan, terluka parah, lalu koma, hanya untuk mengucapkan maaf? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri setelah kau tiada, selama ini aku ke mana saja? Selama ini aku sudah diberi banyak kesempatan untuk bilang maaf, tetapi haruskah menunggumu untuk seperti itu?
Ada lebih banyak hal dari sekedar maaf yang ingin kusampaikan andai saja aku bisa di sana menemanimu. Aku ingin lebih banyak berkata-kata.
Baiklah, kenapa tidak kusampaikan saja sekarang ya?
"Hey, bangunlah. Kamu nggak mau menjahiliku lagi seperti biasanya? Kalau kau pergi, siapa yang tiap pagi manggil aku 'Bebek'? Siapa yang bakal jajanin aku sering-sering kalau kamu pergi? Siapa yang bisa aku jadiin tempat curhat kalau kamu pergi? Siapa yang akan jadi pelindungku kalau kamu pergi? Hanya kamu satu-satunya dan yang terakhir yang aku punya. Rifai sudah pergi juga, makanya kamu harus tetap tinggal. Mending Rifai, dia masih bisa balas kalau aku tanya apa kabar, kamu lagi ngapain, kalau kamu pergi, gimana nanti aku harus komunikasi sama kamu? Gimana kalau nanti aku pingin dengerin genjrengan gitarmu? Dziban sama Darril kalah jauh dibanding kamu kalau disuruh genjreng gitar. Kamu harus di sini.
"Maafin aku buat semua yang aku lakuin. Maaf aku jutek banget selama ini. Maaf aku terlalu cuek sama kondisimu. Maaf aku sama sekali nggak ngerti apa-apa tentangmu, tetapi sok judge. Maafin aku karena nggak pernah bisa ngasih apa-apa buatmu. Aku janji kalau kamu di sini, aku akan menjadi sahabatmu yang terbaik. Aku bakal meluangkan waktuku lagi buat dengerin semua ceritamu. Aku nggak akan membiarkanmu menanggung semuanya sendirian. Aku nggak akan bikin kamu sendirian lagi. Aku sayang kamu, tahu! Iya, makasih karena kamu masih sayang dan menganggapku sahabat terbaikmu meski aku parah banget. Aku yakin orang lain nggak akan sudi jadiin aku sahabat setelah semua yang aku lakuin, tetapi makasih kamu nggak pernah menghindariku. Makasih kamu nggak pernah membiarkanku sendiri. Makasih kamu selalu melindungiku,"
* * *
Halo, dari dunia yang dulu kamu tinggali.
Terkadang aku takut jika sedang menghadapi banyak hal, tetapi saat mengingatmu, aku kuat. Aku kuat di HI berkatmu. Berkat semua memori, kenangan, cerita-cerita, dan inspirasi yang kamu tinggalkan.
Kamulah semangat terbesarku dan alasan mengapa aku mau jadi diplomat. Aku ingin meneruskanmu. Sungguh.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
*dedicated to my best friend ever, Yusuf Habibi (24 Oktober 1996-28 November 2015)
Komentar
Posting Komentar