Langsung ke konten utama

Bertahan, Menguatkan

Dua bulan berlalu. Perkuliahan berjalan seperti biasanya, tetapi rasa-rasanya tidak terlalu menyenangkan juga ketika sudah mulai ada masalah, terutama masalah keyakinan. 

"Ini Indonesia, kalau seandainya kamu di Amerika yang liberal, kamu juga harus begitu biar beradaptasi,"

Hh...lucu. Lucu banget. Itu pernyataan yang seumur hidup tidak ada di dalam kamusku. Bahkan, itu pernyataan yang bagiku tabu. Sebelum aku mengenal Islam lebih jauh, aku sendiri nggak mau jadi ikut-ikutan begini begitu hanya supaya diterima orang lain. Konyol sekali. Aku punya identitasku sendiri, kenapa aku harus menyertakan identitas orang lain dalam diriku hanya supaya bisa diterima? Lucu nggak sih? Lucu banget.

Oke, katakanlah aku sama seperti yang Awkarin katakan dalam MV-nya dengan Young lex. Gue mau jadi apa adanya. Apa adanya aku bukan mabuk-mabukkan, pesta di bar, pamer harta, pamer kekayaan, dan lain sejenisnya. Apa adanya aku juga bukan berarti apatis. Lucu kan tiba-tiba aku diminta untuk jadi seperti mereka hanya untuk bisa diterima? Hell-o? Terus aku bakal mati ya kalau nggak diterima? 

Pingin rasanya aku bilang, "Hobi banget jadi tembok," dengan sinis.

Iya, jadi tembok. Kalau ada pengibaratan yang lain, jadi bunglon. Tembok, dia mau diwarnain apa aja tanpa bisa menolak. Diam saja. Membiarkan orang lain mewarnai sesuka mereka sampai orang lain berkata, "Nah, itu bagus. Gitu dong,". Bunglon, dia menyesuaikan diri dengan mengubah warna atau dia akan dimakan pemangsa. Kalau diibaratkan di kehidupan manusia, agar tidak dimusuhi. Haha. Lucu. 

Aku biasanya mendengarkan nasihat, tetapi nasihat satu ini sama sekali tidak bisa kudengarkan, apalagi kuterima. Aku nggak bisa membiarkan identitasku diubah demi orang lain seenak jidat. Manusia itu punya identitas masing-masing. Aku masih mematuhi nilai yang ada, aku juga tidak mengganggu, aku tidak melakukan apa-apa yang mengusik orang lain, lalu apa salahku sampai menurutmu aku harus mengganti identitasku? Oke, kali ini kamu sudah melakukan salah satu kesalahan besar buatku. Meminta orang lain berubah biar bisa diterima lingkungannya. Okelah, jika orang itu memang buruk, tidak mematuhi nilai dan norma, kau bisa suruh dia menggantinya. Namun, jika orang yang kau suruh itu tidak melakukan apapun, masih mematuhi nilai dan norma, tidak mengganggu apalagi rusuh, apa salahnya? 

Dengar ya, kamu. Demi apapun, aku tidak akan menukar nilai agama yang sudah aku pelajari ini dengan nilai konvensional. Bahkan jika aku tinggal di Amerika Serikat. Dengar? Bahkan jika seandainya aku lahir dan besar di Inggris, di Rusia, di Israel sekalipun, aku tidak akan menukar nilai-nilai dan norma-norma agama yang sudah kudapatkan. Aku akan berusaha menerapkannya dengan baik semua adab yang sudah aku tahu. Tidak peduli apapun yang orang bilang, entah aku terlalu strict, aku terlalu normatif, aku terlalu konservatif, inilah aku. Aku akan mengikuti nilai konvensional selama nilai agamaku tidak tercoreng. Only God can judge me.

Bukankah malah luar biasa seandainya aku terus berjuang agar bisa diterima dan akhirnya berhasil?

Kamu lupa satu hal atau mungkin belum tahu. Syumuliyatul Islam. Universalitas Islam. Islam itu menyeluruh nilai dan normanya. Jika diterapkan di mana saja, akan ada ketenteraman. Tahukah kamu, menurut menteri agama, hadiah terbesar kepada bangsa Indonesia dari umat Islam adalah Pancasila? Tidak ada satu pun nilai Pancasila yang bertentangan dengan Islam. Cari saja nilai Pancasila apa saja dari sila keberapa saja, di Al Qur'an dan Hadits sudah diterangkan. Keren, kan? Kamu bilang karena di Indonesia, aku harus berbaur dengan sistem yang ada. FYI, nilai yang kuanut semuanya sesuai dengan Pancasila. Tenang saja, aku tidak sama dengan yang membombardir Thamrin itu. Aku bukan radikal. 

Kita memang dekat, tapi aku nggak akan membiarkanmu mengubahku jadi tembok dan bunglon. Ingat itu baik-baik.


Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...