Minggu, 15 Oktober 2017
"...sebenarnya banyak sih yang ngomongin kamu di belakang waktu itu, tapi aku juga nggak suka kamu di-judge seenaknya gitu,".
"...".
"Waktu terakhir main ke sana sih guru-guru juga pada bilang, 'Antania sekarang berubah banget setelah masuk HI,',".
"..."
* * *
Selasa, 5 Desember 2017
"Aku pergi dulu ya ke rumah Ayu!" sahutku dari pintu belakang. "Aku ambil sendiri uang sakunya,".
Ini adalah minggu-minggu ujian semester. Aku dan Ayu memutuskan untuk sering belajar bareng. Aku bukan tipikal orang yang biasa belajar di rumah, sih. Beuh, yang ada malah tidur aku kalau di rumah. Meja belajar sama kasur jaraknya cuma dua langkah.
Aku menatap kontak WhatsApp-ku sebelum berangkat dan tertegun melihat beberapa kontak yang hilang dari daftar, lalu memutuskan kembali ke kamar sebentar untuk mengecek nomor yang perlu ditambahkan. Ah, aku baru saja ganti HP dan nomornya ya. Harusnya nomornya bisa awet sih, eh malah hangus setelah lama nggak diisi pulsa. Perkara ganti nomor ini nih yang bikin riweuh karena sebagian besar nomor HP aku taruh di SIM card yang hangus, akhirnya hilang semua. Haha. Kebiasaan jelek yang terbawa dari asrama ini, sih.
Aku mengecek lagi daftar kontakku dan menyadari bahwa nama Mr. Izz tidak ada. Ah, nope. His number is important. Very important. Aku memutuskan membuka buku kenangan dan menambahkan nomor beliau. He's just active a while ago.
Jemariku mengetuk touch screen dan mulai menulis pesan, tetapi aku merasakan hatiku menggeleng kuat-kuat.
"Tidak, tidak sekarang," ujarku pelan dengan penuh keraguan.
Look at yourself, now! I mean, he will be really disappointed when he knows that you almost give up. You locked yourself in your bedroom for a week. You lost your appetite, confidence, happiness, because of what you listened on October 15. If he knows that you are very pathetic now, what will he say?
Aku kembali melangkah ke pintu belakang, bergegas keluar dari rumah dan pergi belajar bersama.
* * *
Aku suka saat-saat berada di rumah Ayu. Senang kalau dia mempersilakanku mencicipi masakan enak buatan Bu Nem atau Mbak Tari. Senang kalau kucingnya, Iyong, pulang ke rumah. Senang jika ada film bagus yang bisa kami tonton untuk refreshing sejenak. Senang melihat rak bukunya yang penuh.
Ayu hari ini sebenarnya sakit, padahal sebelumnya kami janjian untuk belajar bersama di Antara Kata, sebuah kafe yang terletak tak jauh dari kampus. Sebelum aku memutuskan untuk belajar di tempat lain sendirian, Ayu memintaku datang ke rumah untuk belajar bersama.
Dan...di sinilah aku akhirnya.
Jam menunjukkan pukul 18.30. Aku baru saja selesai salat maghrib setelah sebelumnya kami nonton film dan mengobrol khas anak perempuan. Ketika fokusku kembali kepada laptop dan mulai belajar, untuk beberapa saat hatiku gelisah melihat icon WhatsApp PC yang terbuka. Mengingatkanku kepada nomor Mr. Izz yang baru saja aku tambahkan hari ini.
He must already hear one or two words about me, it's impossible he doesn't know what happens to me after graduating, pikirku gelisah. They often come and December 2 they just celebrated Teacher's Day. How come he doesn't know anything? He must know. Nobody forgets how close I am with him, up until now.
But...from many people who clearly stated their disappointments to me after those things, I am scared if he becomes one of them. I don't care anymore if it's other people, my old friends, or whatsoever. But, please...not him too.
Then, let's write an apology. At least. Tell him that it's your decision after all. Tell him all. Your views. Your new values. Your new happiness. Everything.
Dengan penuh keraguan, akhirnya aku memberanikan diri membuka kontak beliau dan menulis. Mencoba menceritakan pelan-pelan dan hati-hati apa yang akhirnya menjadi pemahamanku sekarang setelah belajar. Bahwa setelah belajar satu setengah tahun aku semakin bangga dengan betapa universalnya agamaku. Bahwa setelah belajar banyak hal aku sadar bahwa ada banyak perbedaan yang dibiarkan Tuhan sebagai rahmat.
Pikiranku mulai penuh saat itu dan hatiku rasanya sudah menggelembung ingin memuntahkan semuanya, tetapi aku memutuskan menahan beberapa rasa kecewa dan marah yang ingin sekali kuluapkan di chat itu. Rasa marahku ketika mereka mengkritik pandangan politikku, padahal mereka saja tidak pernah belajar politik, hanya mendengar dari kanan-kirinya yang katanya aparatur negara, dan tahu teorinya saja tidak. Rasa kecewaku ketika mengingat sebagian besar mereka mahasiswa, tetapi cara berpikirnya tidak berbeda dengan anak SMA. Sudah belajar bahwa segala sesuatu didasarkan pada fakta, lalu diujikan dalam teori, tetapi tidak mempraktikkannya.
"Aku terima kamu jatuhkan dengan kritikmu, toh biasanya temanku juga melakukannya. Namun, lakukan itu dengan fakta dan teori! Kalau cuma katanya tetangga doang, anak SMA juga bisa! Kamu sebenarnya kuliah ngapain aja, sih?".
"Kamu nggak sebaiknya membuat perkataan sesat seenaknya. Kamu nggak belajar komunisme, tapi seenaknya aja bilang komunisme ini dan itu. Tempatkan ilmu di porsinya, dong! Kamu boleh marah kalau aku seenak jidat bikin rumus matematika, padahal aku nggak bisa. Aku juga harusnya marah karena kamu, orang yang basisnya saja bukan politik, seenaknya aja bikin statement seperti itu!".
Ah, aku bisa merasakan kemarahan-kemarahanku yang lama kupendam dan memutuskan kata-kata di atas berganti dengan kekesalan-kekesalan biasa dan perkataan-perkataan yang wajar.
Dan...tanpa sadar itu membuatku bergumam sendiri.
"Kamu kenapa, Nis?" tanya Ayu.
"Ini...sedang menulis," jawabku.
* * *
Aku sadar, sebenarnya setelah lama mencari jawaban atas pertanyaan, 'Who am I?', ternyata bisa disimpulkan bahwa aku ini lucu juga.
Banyak orang bilang bahwa aku kuat. Aku sulit ditaklukkan. Cerdas. Dapat mempengaruhi orang lain dengan kata-kata. Sulit untuk membuatku jatuh. Namun, mudah rasanya bagiku menjatuhkan diri sendiri dengan mendengar apa yang seharusnya aku abaikan saja. Aku dapat tumbang ketika membiarkan diriku membenarkan apa yang dikatakan orang lain.
Aku berada di titik terendah dalam hidupku selama seminggu karena membiarkan orang lain mengubah mindset-ku. That I betray my religion. That I don't know any single thing about it. That I make people disappointed with my so-called sudden change.
Namun, akhirnya mataku terbuka lebar.
Orang lain mungkin tidak akan bisa menjatuhkanku dan membuatku takluk. Hanya diriku sendiri dan Tuhan yang bisa membuatku jatuh dan takluk.
Lalu, apa yang aku punya? Mengapa aku bisa melakukannya?
Aku ingat ada banyak orang yang juga menanyakannya. Mengapa aku bisa sekuat itu? Bagaimana bisa aku tahu sesuatu? Ketika memikirkan ulang jawabannya, sebenarnya bahkan aku pun tidak tahu bagaimana bisa aku melakukannya. Selama ini siklusnya kira-kira seperti ini, ada masalah di depan mata, aku menghadapinya, lalu selesai. Selalu seperti itu. Sebab, terkadang ada saatnya aku bahkan bisa begitu bodoh ketika menghadapi pertanyaan dan permasalahan yang sebenarnya jawabannya begitu sederhana dan mudah dipahami. Kekuatanku untuk menghadapi masalah dan pertanyaan selalu datang begitu saja dari dalam, lalu membereskan semuanya. Pada akhirnya, aku mendeskripsikan kekuatan ini sebagai kemampuan misterius.
Ketika aku menceritakan hal tersebut kepada seseorang yang sudah kuanggap sebagai mata ketiga, dia menjawab, "Unknown strength = God,".
"Jadi, apakah aku mengkhianati agamaku sendiri ketika Tuhan masih bersamaku?" tanyaku.
"Aku tidak berpikir kamu mengkhianati agamamu," jawabnya.
Aku mengerti semuanya sekarang. Bahwa selama ini aku begitu lemah dan tanpa kemampuan misterius itu aku bukan siapa-siapa. Tuhanlah yang menguatkanku. Tuhan yang aku kira selama ini marah karena aku memihak orang yang berbeda cara mengimaninya yang didemo pada 2 Desember tahun lalu.
Aku selama ini percaya bahwa Tuhan itu penuh kasih dan cinta.
Dan saat ini aku semakin percaya hal itu.
Bahwa cinta Tuhan melebihi murka-Nya yang diklaim kelompok tetangga.
Ah, lagipula aku tidak lahir untuk menyenangkan hati semua orang. Membuat diriku sendiri bahagia saja masih susah, kenapa aku harus repot-repot menyenangkan orang lain dengan menyetujui pandangan mereka?
* * *
Selasa, 5 Desember 2017 sekitar pukul 21.00
Aku merebahkan diri di tempat tidur. Sudah jam segini ternyata. Malam cepat juga ya datangnya.
Aku melihat icon WhatsApp di HP-ku yang tiba-tiba muncul lagi ketika sudah kuhapus tadi. Dahiku mengernyit tidak mengerti. Aku pun bangkit dan duduk di tepi kasurku.
Pesanku sudah dibalas ternyata.
'Wow, it's a long word...really. I am so happy that you become the way you are right now. I never want you to be who you are not. I believe that what you have gone through so far is a beginning of your journey. I am so glad that we have met and shared many things. You have and will always become a great ears for others. Keep on doing what you are doing. But, always remember our main goal of being a muslim: make others safe and secure when we are around them,'.
Ada sesuatu dalam hatiku yang pergi dan perlahan-lahan membuatku merasa ringan.
Uh, kok tiba-tiba aku jadi cengeng begini?
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar