Langsung ke konten utama

Gekkou

Unch, yang sebentar lagi 20 tahun.

Aku jujur aja deg-degan sih memikirkannya. Ya ampun, cepat banget sih waktu berlalu. Nggak kerasa banget udah masuk zona dewasa muda. Sebentar lagi berkarir lalu...menikah.

Menikah ya?

Dua hari lalu teman-temanku mencurahkan perasaan mereka tentang laki-laki yang mereka suka. Mengejutkannya, meski sudah punya pacar, mereka pun tetap bisa suka dengan orang lain. Haha, apalah aku ya yang pacarannya sama buku dan jurnal. Eh, tapi kurasa mereka sudah di tahap menentukan perasaan, deh. Mereka ada di tahap mencari dan menemukan sosok laki-laki ideal di mata mereka. Ternyata, bahkan pacar mereka sekali pun tidak masuk kategori ideal untuk mereka. Yah, meski pacar mereka beneran sayang dan setia.

Hari ini aku menatap langit lagi seusai ujian dan bertanya-tanya apakah diriku sendiri sudah menetapkan laki-laki seperti apa yang ingin kunikahi...mungkin dalam beberapa tahun lagi. Kurasa belum, sih. Namun, aku selalu tahu seperti apa laki-laki yang kusuka dan punya poin plus di mataku. Err...minimal mereka harus seperti Sakurai Sho (ketinggian, woy!). Bisa main musik, pintar, dan selera humornya bagus.

Mr. Izz bilang, aku benar-benar harus mencari laki-laki yang berbanding terbalik denganku. Dulu sih, beliau sempat bilang andai saja aku menikah dengan almarhum sahabatku, kami akan terus bertengkar karena sifat kami nyaris sama. Sama-sama kerasnya. "Kalau kamu sama yang satunya (merujuk ke sebuah inisial pokoknya dan aku masih suka sama dia), paling nggak jauh lebih damai," kata Mr. Izz sambil tertawa. 

Dan aku setuju.

Jujur saja, melihat orang-orang di sekitarku sekarang, ada dua orang yang mendekati tipeku. Saat bersama mereka, aku bisa tertawa lebar. Mereka juga pintar dan bisa diajak bertukar pikiran. Satu bisa main gitar, yang satu...nggak tahu sih, tapi bacaannya bagus. Keduanya punya kelebihan masing-masing, tetapi yang jelas mereka bisa membuatku tertawa lebar.

Aku kaku dan cukup sadar diri mengenai hal itu. Aku tidak bisa memulai obrolan ringan dengan lawan bicara untuk pertama kalinya. Aku tidak bisa berbasa-basi dan lebih suka to the point. Aku akan diam saja kalau sudah kehabisan sesuatu untuk diobrolkan. Laki-laki yang akan menikah denganku kelak harus melengkapi kelemahan-kelemahanku itu. Yaa...kalau aku dapat suami yang introvert juga, jadi apa rumahku? Nanti berasa kuburan.

Sebab, dengan menikahinya aku ingin berubah jadi pribadi yang jauh lebih santai. Itu saja.


Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...