Hari ini baru aja baca status tentang ustadz yang dipersekusi di Bali. Yaa...si ustadz yang dulu menghina fisik artis. Ada yang minta pemerintah bersikap, tetapi ada juga yang bilang, "Kalau tak ada asap, ya tak akan ada api,". Begitu seterusnya.
Lucu nggak sih, dari satu topik ini saja aku jadi pusing sendiri dan akhirnya memutuskan jalan kaki ke sungai dekat rumah sore ini biar dapat pencerahan (ahahaha...berasa orang bertapa nggak sih?).
Waktu-waktu senggang sore di luar rumah membawa pikiranku ke banyak tempat. Teringat kemarin aku memutuskan untuk unfollow Ustadz FS. Teringat instastory teman-teman tentang FS melawan AJ di sebuah stasiun TV kemarin. Banyak hal yang masuk ke dalam pikiranku sore ini dan itu membuatku tersadar, sekaligus menemukan pertanyaan baru.
Aku tersadar, sebenarnya alasan mengapa aku menentang ide-ide khilafah dan ideologi transnasional ternyata sudah lama. Sejak melihat bendera hitam putih bertuliskan kalimat-kalimat Tuhan berkibar, menjadi identitas organisasi mereka. Awalnya dari pertanyaan, "Kenapa sih orang mau capek-capek demo buat begituan?" sampai kepada pernyataan, "Ide dan aksi mereka paradoks. Aku nggak bisa mendukung ideologi yang dari aksi perjuangannya saja sudah paradoks,".
Katanya sih demokrasi itu thagut, tetapi memperjuangkan idenya kok lewat saluran demokrasi?
Katanya sih khilafah itu solusi terbaik, tetapi fakta sejarahnya apakah semua khilafah menjadi solusi terbaik di setiap jamannya? Padahal kekhilafahan yang sering kali diceritakan Ustadz FS sistemnya berbeda-beda.
Katanya sih ide ini juga menentang bela negara, nah terus peperangan-peperangan jihad yang dilakukan itu kan bentuk bela negara. Supaya bisa beribadah dengan tenang. Waktu Baghdad diserang Mongol misalnya. Nah, kalau bela negara aja ditentang, bagaimana aku bisa percaya ide ini membawa maslahat?
Lagipula, aku punya banyak sekali pertanyaan tentang ideologi seperti itu.
Terus kalau aja nih ide khilafah ini jadi, mau kekhilafahan ala siapa? Kekhilafahan ala Khulafa'ur Rasyidin? Umayyah? Abbasiyyah? Utsmaniyyah? Padahal mereka sistem pemilihan pemimpinnya aja berbeda-beda. Jangankan antar kekhilafahan, Khulafa'ur Rasyidin aja dari Abu Bakar ra. ke Umar ibn Khattab ra. ya sistem penunjukkannya beda-beda.
Terus kalau aja ide ini jadi, bagaimana dengan tradisi-tradisi masyarakat yang hidup karena ideologi Pancasila? Mau dihapus begitu saja? Memang semudah itu ya? Soalnya sih, banyak banget tokoh pejuang ideologi beginian menentang tradisi-tradisi masyarakat tertentu. Wajar kan aku memprediksikan kemungkinan tradisi-tradisi itu bakalan dihapus? Mengganggu syariat, katanya sih begitu.
Duh, dari berita aksi persekusi ini tiba-tiba pikiranku sampai khilafah-khilafah.
Mungkin aja karena sebelumnya sih ustadz yang dipersekusi itu mengatakan, "Kalau lihat tanda + di ambulan masjid, mohon dipilok saja, diganti bulan bintang,". Kurasa ya...dari hawa-hawa ngomong begini, kemungkinan dia sangat mendukung ide khilafah.
Ah, nggak ngerti lagi sama ide-ide paradoks itu.
Namun, aku sekaligus mengerti mengapa orang yang berilmu juga bisa jatuh dalam paradoks. Dulu aku sempat berpikir itu karena berita dan website rujukannya hoaks. Ternyata, bukan hanya itu. Bisa juga seseorang setuju karena menemukan pemikiran yang mengarah ke sana.
Beberapa minggu lalu, aku mengikuti sebuah perkuliahan tentang kritik terhadap demokrasi. Pembicara tersebut, ehem, sudah diketahui pendengarnya bahwa beliau anggota ormas yang mendukung ide-ide khilafah. Kemudian, beliau memaparkan kritik terhadap demokrasi menurut buku Plato yang berjudul The Republic. Sistem itu tidak ideal karena ini berarti orang baik dan orang jahat akan satu suara, begitu katanya dengan memaparkan buku tersebut. Jika seandainya yang memilih mayoritas orang-orang jahat, maka suara mereka akan tetap sah karena caranya demokratis.
Lalu, apa solusinya menurut Plato? Panjang banget kalau dipaparkan di sini. Singkatnya, menurut Plato, yang memerintah seharusnya filsuf. Filsuf dianggap memiliki kebijakan, sehingga mereka pantas memerintah.
"Implikasinya ide Plato sama seperti khilafah," Aku teringat perkataan temanku ketika si pembicara memaparkan solusi Plato. "Yang memerintah ya yang tahu kebijaksanaan. Eh, tapi ini mustahil. Sangat. Ide ini berjalan ketika yang memerintah Nabi Muhammad SAW. Sekarang susah dan bisa dibilang beneran mustahil,".
Ketika ada kesempatan untuk bertanya, aku mengacungkan tangan.
"Saya ingin menyampaikan pernyataan," ijinku. "Maaf, saya tidak sependapat dengan ide Plato. Saya mendasarkan ini dengan teorinya Sigmund Freud yang menyatakan bahwa manusia terbagi menjadi id, ego, dan super ego. Apakah filsuf akan terus berada dalam super ego? Mereka hanya manusia biasa. Mereka juga punya peluang jatuh ke dalam id, bukan?".
Aku tiba-tiba mengerti mengapa temanku mengatakan ide Plato ini mustahil. Alasannya sederhana, karena filsuf hanya manusia biasa. Filsuf bukan nabi yang sempurna dan dijamin akan selalu membawa kebajikan. Mereka bisa saja jahat.
Sigmund Freud membagi jiwa manusia dalam id, ego, dan super ego. Ego berada di tengah-tengah, id adalah nafsu, dan super ego adalah kebajikan. Ketika manusia sedang melaksanakan aktivitasnya seperti biasa, mereka berada dalam ego. Biasa-biasa saja. Ketika mereka melakukan kejahatan, mereka jatuh ke dalam id. Ketika mereka melakukan kebaikan, mereka ada dalam super ego.
Singkatnya, temanku mengatakan ini mustahil karena manusia yang posisinya selalu berada dalam ego dan super ego hanyalah Rasulullah SAW. Sisanya? Mereka punya peluang jatuh ke dalam id. Filsuf punya peluang demikian, toh mereka manusia biasa.
Implikasinya adalah tanpa manusia seperti Rasulullah SAW, ide-ide yang mereka kumandangkan mustahil dilaksanakan.
Sekaligus itu membuatku mengerti ada alasan mengapa orang yang belajar macam-macam pun bisa mendukung ide-ide tersebut.
"Lalu, sebaiknya mereka diapakan?" tanyaku sore itu kepada diriku sendiri.
Apakah melarangnya bicara di depan umum dan merampas kemerdekaannya untuk berbicara adalah solusi terbaik?
Jujur saja, aku masih bingung. Aku sadar itu tindakan egois. Aku pernah mengalaminya ketika dipaksa harus setuju oleh sebuah pemikiran karena keadaan dan rasanya tidak nyaman. Namun, di sisi lainnya aku merasa itu tindakan yang perlu. Toh, kita bisa bertahan sejauh ini dengan Pancasila karena ada pelarangan ideologi komunisme. Meski cara untuk mempertahankannya sangat tidak manusiawi.
Aku tahu dan sudah belajar bahwa melarang ideologi itu merupakan suatu hal yang mustahil, apalagi di era globalisasi. Orang ilmu sosial pasti paham alasannya. Karena manusia pada dasarnya perlu ideologi untuk menentukan hidupnya dan mereka punya hak untuk memilih ideologi mana yang ingin dianutnya.
Apakah pada dasarnya manusia harus bersikap egois untuk mempertahankan sesuatu? Seperti ideologi, misalnya?
Because a man's terrorist is another man's freedom fighter.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar