Langsung ke konten utama

Where Is The Love?

"Mbak Devi, suratnya udah aku siapin! Besok ya aku bawa!" sahutku siang ini di kampus usai kuliah.

Mbak Devi hanya melambaikan tangannya, sekilas aku melihatnya mengangguk sebelum kami pergi berlawanan arah.

"Dia...sama seperti aku juga," kisahku kepada temanku. "Mbak Devi juga diintimidasi teman-temannya. Bayangin deh, jilbabnya lebih panjang dari aku. Pokoknya the best lah. Namun, yaa...gitu. Dia banyak dijauhi teman-temannya juga karena memilih Ahok. Malah dia jadi sukarelawan juga lho di Rumah Lembang selama masa kampanye,".

Rasa sakit dan kecewa itu tertinggal jauh di dalam ulu hati, terus terasa sampai sekarang. Aku bertanya-tanya apakah Mbak Devi merasakan rasa sakit dan kecewa itu. Mulai dijauhi setelah memilih masuk GMNI ketimbang KAMMI, terus berlanjut ketika dia memilih Ahok di Pilkada Jakarta. Coba kalau itu aku yang super baperan ini di posisinya Mbak Devi, nggak tahu deh udah jadi apa. She's great

Namun, tetap saja aku bertanya-tanya dalam hati. Aku tahu ada banyak orang yang mengalami hal yang sama denganku, mungkin ada muslim atau muslimah taat juga yang memilih Ahok kemarin. Aku tidak mengerti mengapa orang bisa menjauh dari seseorang karena perbedaan pilihan politik semata. Beda pilihan masalah demokrasi yang seharusnya biasa di negara yang demokratis ini.

"Where is the love, God?".

Ketika aku membuka Facebook malam ini, mataku masih terus terpaku kepada artikel tentang seorang ustadz yang blak-blakkan menghina fisik seorang artis yang memutuskan melepas hijab. Aku tidak percaya bahkan ada artikel yang membela ustadz tersebut dengan mengatakan bahwa artis tersebut sudah lebih dahulu menghina agama lewat statusnya yang menceritakan pengalaman pribadinya selama di Jepang. Yang katanya mengarah kepada atheisme.

Can you practice what you preach
And would you turn the other cheek

13 tahun aku mendapatkan pendidikan agama Islam dan di sana aku diajarkan bahwa Rasulullah SAW ditegur Allah SWT ketika memalingkan wajahnya dari Abdullah ibn Ummi Maktum yang tunanetra dalam Surah 'Abasa. Memalingkan wajah dari seorang yang memiliki kekurangan saja ditegur sama Tuhan langsung, bagaimana ya kalau menghina fisik seseorang? Kita diajarkan untuk tidak pernah menghina kekurangan fisik orang lain, bagaimana pun orang itu berpandangan dalam spiritualnya, dalam pendidikan agama dan moral.

Can you practice what you preach? Betapa ironisnya memuji dan menghina Tuhan di saat yang sama, dengan posisi sebagai pendakwah.

Orang-orang dari berbagai golongan itu selalu mengatakan bahwa agama ini mencintai perdamaian lebih dari apapun, tetapi di saat yang sama meledakkan gedung, berdakwah dengan lidah yang tajam, menghalangi orang dari rahmat-Nya, dan membuat fatwa seenaknya.

"Where is the love, God?".

Tidak ada yang salah dengan agama yang kugenggam dalam kedua tanganku ini. Kalau kau bertanya apa yang membuat agama ini terlihat seperti itu, maka jawabanku adalah umatnya yang terkadang merasa selalu benar dan mengklaim Tuhan ada di pihak mereka. Mengklaim aksi mereka atas nama Tuhan, padahal mereka tak tahu apa Tuhan ridha dengan perbuatan mereka atau tidak. 

Allah, Allah, Allah, help us
Send some guidance from above
'Cause people got me, got me questioning
Where is the love?


Yours,
Anissa Antania Hanjani


Notes: Inspired a lot from Where Is The Love? by Black Eyed Peas which is covered by Sakurai Sho
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...