Langsung ke konten utama

Di Balik Layar

Pernah nggak sih kamu membayangkan di pagi hari ketika kamu bangun dari tidurmu sudah ada pertanyaan menggantung di kepala? Siang ketika kamu di kampus pertanyaan itu belum hilang juga. Malam ketika kamu berkumpul dengan keluarga pertanyaan itu masih ada. Lagi, lagi, dan lagi. Kamu terus mengulang hari- hari seperti itu. Pernahkah?

Siang itu aku berdiri di koridor depan kelas di kampus. Dosenku ada di sana kala itu, sedang berdiri di luar juga.

"Mas, saya boleh bertanya?" Aku meminta ijin.

"Nggak boleh," canda beliau. "Kamu mau tanya apa?".

"Pandangan Mas tentang politik dan agama seperti apa?" tanyaku.

"Kok tiba-tiba kamu tanya begitu?".

"Hidup saya berubah," Aku menghela napas. "Setelah aksi 411 dan 212,".

"Hah? Memangnya kamu ikutan?".

"Nggak, Mas,".

Dosenku sepertinya masih penasaran dengan kisahku, tetapi pembicaraan kami terpotong oleh dosen mata kuliahku yang datang tepat waktu.

Awalnya, aku berpikir Tuhan begitu baik sampai memberkatiku dengan kehidupan kampus yang sempurna. Dosen banyak yang mengenalku dan memberiku pekerjaan baru. Punya banyak teman. Dekat dengan kakak tingkat. Begitu ideal dan sempurna sesuai keinginanku. Aku single yang berbahagia, begitu aku mendeskripsikan diriku.

Namun, tidak lama kemudian ketika kasus Ahok bergulir, aku mulai sadar bahwa kehidupanku tidak akan sesempurna itu. Temanku terbagi menjadi dua kubu. Aku yang kala itu sudah masuk di sebuah pergerakan mahasiswa Islam belum terlalu merasakan dinamikanya, tetapi ada beberapa hal di pergerakan tersebut yang kusadari tidak bisa diterima oleh hati nuraniku. Awalnya, aku berusaha menjadi penengah dua kubu tersebut, tetapi akhirnya sadar semuanya sia-sia. Percuma. Minyak dan air tidak akan bisa bersatu. Pemikiran yang ide dasarnya sudah berbeda ya pada akhirnya tidak akan bertemu. Kebaikan yang diperjuangkan juga sudah berbeda.

Akhirnya aku menyadari Tuhan ingin memberiku petualangan baru.

Akhir Oktober 2016 aku mulai bertanya kepada diriku sendiri, "Di mana posisimu?". Keluargaku berlatar belakang Islam nasionalis. Lingkungan pergaulanku Islam formalis. Aku belajar politik. Setelah beberapa lama bertemu orang dan mendengarkan mereka, aku memutuskan, "Ikuti saja kata hatimu dan mana yang kamu yakini benar. Kamu dua kali lulus dari sekolah Islam, semua keputusanmu...aku yakin kamu sudah menimbang baik-baik semua yang kamu pelajari. Empatimu besar, sepertinya kamu lebih yakin bahwa kasih sayang Tuhan lebih besar kepada seluruh makhluk-Nya, bukan?".

Ketika aksi 411 akhirnya berlangsung, kala itu ada instruksi untuk ikut turun, tetapi aku menolak. "Jujur, aku merasa ini terlalu banyak politik yang bermain di sini. Aku nggak mau orang su'udzon juga sama kita. Lebih baik aku menjaga supaya nggak terjadi su'udzon itu," kataku kepada temanku yang bertanya kenapa aku tidak turun.

Sebenarnya, aksi 411 itu masih biasa saja. Aksi 212 yang lebih heboh. Aku mengatakan hal yang sama ketika ada instruksi turun dan tetap menolak, tetapi kala itu ada yang mengganjal. Benar-benar mengganjal. Melihat bendera pergerakanku ada di Jakarta sana membuatku semakin tidak nyaman. Karena kala itu aku sakit, temanku mengajakku untuk istirahat setelah makan siang dan menyaksikan berita-berita itu.

Dalam istirahatku, kepalaku dipenuhi ganjalan-ganjalan itu.

"Aku tahu sih mereka berusaha untuk bebersih, berusaha untuk kondusif, tetapi...rasanya ada yang lebih penting dari itu. Berusaha menjaga hawa nafsu, itu yang lebih penting. Rasanya mengganjal banget lihat ada orang yang memang dia non-muslim dan jadi provokator kala itu sampai dipublikasikan KTP-nya seolah-olah mau membuktikan semua non-muslim separah itu. Perlu nggak sih kayak gitu? Aku rasa nggak, deh. Seandainya mereka mau menjaga hawa nafsunya, bukankah cukup dimaafkan saja dan dipulangkan? Seandainya mereka menjaga hawa nafsunya, bukankah orasinya nggak bakalan seperti itu?

"Kalau aksi itu benar-benar membela agama, maka semua akan berada dalam satu komando untuk tidak mendahulukan hawa nafsunya. Rasulullah SAW saja menegur Ali ra yang membunuh orang kafir yang bersyahadat, kalau sampai ada orang yang masih melakukan hal seperti itu bukankah berarti dia tidak menuruti komando? Bukankah sanksi dan dampaknya berat ketika tidak mengikuti komando? Bukankah seharusnya komandannya menegur kalau tidak sesuai komando? Atau komandannya malah mendahulukan hawa nafsunya juga dalam orasinya?".

Pikiran-pikiran itu akhirnya membuatku tertidur.

Hidupku benar-benar berubah pasca kejadian 212, dimulai ketika pada pagi hari aku membaca komando pemboikotan Sari Roti. Aku tidak tahan lagi. Ada yang salah di sini. Aku yang membaca konfirmasi perusahaan dan komando pemboikotan sekaligus saat itu benar-benar merasa ini sesuatu yang di luar akal sehat. Ini konfirmasi perusahaan biasa, hanya menyatakan perusahaan memang tidak terlibat aksi tersebut, tetapi juga tidak menyalahkan si dermawan yang membeli roti-rotinya dalam jumlah besar. Bagaimana bisa ini jadi sebuah "perendahan"? Tidak ada yang salah ketika perusahaan memberikan konfirmasi. 

Ya, akhirnya keluarlah status pertamaku yang mulai mengecam pemboikotan itu. Status yang akhirnya benar-benar mengagetkan semua orang. Status yang mengubah pandangan orang tentangku. Status yang banyak sekali pro-kontra, kalau aku ingat. Sampai akhirnya ketika aku pulang dari kampus, Mama bilang, "Udah, cukup. Kamu jangan balas komentarnya lagi,".

"Ramai ya?" tanyaku.

"Kamu nggak tahu ada juga yang bilang kalau kamu mengecewakan agama," kata Mama kala itu.

Mama dan aku memang sepemikiran, sehingga Mama menanggapi statusku dengan emoji love. Aku tahu Mama sejak pagi sudah membacanya dan hanya mengangguk setuju saja, lalu beliau melanjutkan pekerjaannya. 

Aku menuruti Mama. Kudiamkan saja komentar-komentar itu di halamanku.

Di kamar, aku mulai menarik napas. Ini sudah saatnya, batinku. Aku tidak mau munafik dengan mengiyakan saja apa yang dikatakan temanku. Tidak. Sudah saatnya aku memiliki pola pikir sendiri dan mengikuti kata hati. 

"Aku percaya Tuhan begitu murah hati," kataku dalam hati.

Aku mulai membaca banyak hal lagi. Membaca penelitian yang diedit Gus Dur yang berjudul Ilusi Negara Islam. Membaca tulisan-tulisan Ben Anderson, Prof. Sayed Khatab, dan lain sebagainya. Mulai menulis lagi, lalu membaca lagi.

Namun, seolah jam pasir, waktu memberiku lebih banyak lagi kejadian yang memberiku babak kehidupan yang baru. Grup pertemananku membahas sinis pasangan calon gubernur DKI yang non-muslim. Teman-temanku di kampus yang berdomisili di Jakarta yang mengisahkan banyaknya dakwah-dakwah kebencian setiap salat Jumat di masjid dan penolakan salat jenazah bagi yang memilih gubernur non-muslim. Dua hal tersebut memberikan pengaruh besar untuk langkah yang kuambil kemudian. Aku akhirnya memutuskan keluar dari grup pertemanan karena tidak mau berdebat.

"Lebih baik begini, menghilang saja," ucapku meyakinkan diri. "Aku menghargai setiap kenangan dengan mereka, jadi aku tidak mau mengotorinya dengan berdebat. Lagian, hh, bukankah mereka tahu pemikiranku berbeda? Kenapa masih dibahas juga, sih,".

Waktu akhirnya menelanku sendiri. Aku disibukkan kembali dengan kuliah-kuliahku. Aku yang mendapatkan kemudahan untuk menggunakan perpustakaan fakultas bahkan pada jam istirahat karyawan memanfaatkan hal itu dengan mengakses jurnal dan membaca. 

Sampai akhirnya saat itu datang.

"Mereka curhat sama aku, An, dan mereka nge-judge kamu macam-macam. Eh, tapi kan mereka nge-judge kamu gitu karena kamu pintar, yakin deh,".

Satu perkataan dan fakta itu menumbangkanku.

Aku kehilangan kepercayaan diri dan sempat memutuskan berhenti menulis. Aku gagal, pikirku berulang-ulang. Pikiran itu akhirnya membuatku jatuh semakin dalam. Aku berada di titik terendah. 

Dulu Mama berkata, untuk membuktikan kebenaran yang kuyakini, aku cukup memberikan prestasi yang membuat mereka diam. Namun, ketika bahkan mereka tidak akan percaya apapun usaha yang kulakukan, untuk apa pembuktian itu? Untuk apa jadi pintar segala?

* * *

"Hey, kenapa hidupmu berubah karena itu?".

Dosenku masih ingin bertanya mengenai kisah itu, tetapi aku memilih duduk karena dosen mata kuliahku sudah datang. Tidak enak rasanya aku menyingkir ke belakang dan ngobrol-ngobrol.

Kepalaku terus tertunduk ketika berjalan, masih dalam tahap pemulihan kepercayaan diri. Namun, aku tetaplah aku. Aku terus mengejar apa yang ingin kulakukan.

Apa motivasimu mengikuti Global Undergraduate Exchange Scholarship ke Amerika Serikat?

Pertama, aku ingin tahu bagaimana rasanya menjadi minoritas. Ingin tahu rasanya didiskriminasi karena agama itu seperti apa. Ingin tahu bagaimana rasanya orang takut kepadaku karena berpikir aku bisa melempar bom molotov sewaktu-waktu. Aku ingin mengalami hal seperti itu. Aku lebih kuat didiskriminasi karena keuangan dan agamaku ketimbang di-judge karena perbedaan pemikiranku dalam politik dan agama.
"Kejar saja impianmu itu," kata temanku yang non-muslim. "Supaya kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku di negara ini,".

Kedua, aku ingin bertemu dan berinteraksi dengan mereka yang mengalami hal seperti itu. Mendengarkan kisah-kisah mereka. Bertukar ilmu seputar menjalankan syari'at agama sebagai minoritas. 

Ketiga, aku ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menggantung di kepalaku setiap harinya: sejatinya bagaimana agama dan politik berjalan seharusnya? Aku mendengarkan ceramah Mufti Ismail Menk tentang Al Maidah ayat 51, tetapi jawaban beliau benar-benar berbeda dari apa yang dipahami orang-orang itu dan menjadi jawaban yang paling bisa kuterima sejauh ini. Apakah ada ahli tafsir dan politik lain yang serupa? Aku sangat penasaran.

Keempat, pada akhirnya aku ingin sekali melindungi hak minoritas di negara ini. Aku yakin mereka berhak menjadi pemimpin. Aku hanya harus mencari satu penjelasan lain selain apa yang disampaikan Mufti Ismail Menk.

"Tapi, Nis, di sana kan liberal,".

Pernahkah kamu menonton What Would You Do?


Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...