Langsung ke konten utama

Straight Things Out

Satu bulan di semester ketiga berjalan lancar. Beberapa mata kuliah lancar, meski beberapa juga aku menemui kesulitan. Uh, terutama Hukum Internasional dan Hukum Pidana Internasional, aku nggak ngerti lagi itu kenapa bisa susah banget (kecuali pas HPI belajar tentang ekstradisi sih, itu favorit banget). Um...sisanya lancar, bisa dibilang begitu, meski aku butuh banyak bantuan di Studi Eropa. Studi Keamanan, seperti yang diduga, menjadi mata kuliah favoritku. Tugasnya susah sih, disuruh mengkritik tesis dan esai di jurnal internasional gitu, tetapi berkat bacaan-bacaan itu wawasanku bertambah. Aku berusaha mengerjakannya dengan baik juga meski harus begadang karena ingin membuat dosenku, Mas Rosyid, terkesan dengan tulisan dan analisisku. Alhamdulillah, response paper-ku minggu lalu menjadi favorit beliau dan salah satu yang terbaik.

Organisasiku lancar. Aku dan Satya bertanggung jawab untuk mentoring PKM. Satya itu partner kerja paling menyenangkan. Selain ngobrolin masalah mentoring PKM, kami sering diskusi akhir-akhir ini. Minggu lalu aku dan Satya ngobrol masalah tugas Studi Keamanan. Gaya analisis kami beda, dia lebih suka menggunakan konsep (terutama filsafat) dan aku lebih suka menggunakan fakta lapangan untuk menerangkan konsep dan teori, tetapi perbedaan itu membuatku lebih enjoy untuk diskusi dengannya.

Aku sering menghadiri diskusi juga akhir-akhir ini. Terakhir yang kuhadiri itu diskusi masalah Rohingya. Usai diskusi masalah Rohingya kemarin, Sihono bertanya, "Nis, kamu mau nggak diundang jadi pembicara di forum?".

"Boleh. Nggak masalah,".

"Oke, nanti ya, nunggu isu lagi,".

Apa yang membuatku lebih senang adalah pertemananku juga lancar. Jauh lebih lancar ketimbang SMP dan SMA. Aneh ya, karena aku tahu betapa sulit rasanya hang out dengan orang yang berbeda-beda. Aku tidak punya teman yang terlalu jauh, tetapi bukan berarti aku nggak punya teman dekat. 

Kehidupan rumahku juga...sangat lancar.

Ah, yokatta. Syukurlah.

Kehidupan perkuliahan (dengan berbagai usaha dan percobaan) bisa menyenangkan seperti ini.

Well, still I need to work in some stuffs. Ada beberapa hal yang membuatku tidak terbiasa. Pertanyaan Mas Rizki waktu itu misalnya, perkara apakah aku akan mencalonkan diri sebagai kandidat senat fakultas tahun ini karena sudah ambil LC. Meski aku akhirnya bilang iya, tetapi rasanya belum yakin. Am I capable for that? Shall I go? Aku masih dihantui pertanyaan-pertanyaan itu.

"HI butuh peningkatan kualitas dan kaderisasi juga, kenapa kamu nggak mau?".

Aw. come on! Tunggu aku meluruskan hati dan pikiranku dulu.

Senat mahasiswa, meski itu di tingkat fakultas, bukan pekerjaan mudah. Rapat sampai malam, ketemu intrik kepentingan, menyalurkan aspirasi, advokasi ke dekanat, sidang perma, uh! Aku memang sudah belajar itu semua, tetapi entah mengapa...for this time, aku belum terlalu yakin. Aku ragu sama diriku sendiri. Aku juga punya mimpi dan visi yang lain. Dan untuk sejujurnya, aku jijik. Politik yang aku pelajari ketika posisiku sebagai akademisi akan berbeda praktiknya ketika aku menjadi praktisi. Dalam praktiknya, politik tidak sesuci yang aku pelajari di buku. Sebaliknya, begitu menjijikkan.

Selain itu, sepertinya aku juga harus meluruskan beberapa hal. Misalnya:

"Nis, kamu belajar terus ya?".
"Anissa aja bisa tidur pas seminar! Kita malah main uno ya, hahaha,".
"Kamu kalau refreshing ngapain? Baca buku?".
"Kamu nggak pernah main game gitu?".

Well guys, aku nggak sesempurna yang kalian pikirin, nggak serajin yang kalian kira, dan nggak sepintar yang kalian duga. Orangtuaku aja cuma geleng-geleng kalau aku kasih KHS tap semester, soalnya mereka nggak percaya. Mereka tahu aku nggak pernah belajar di rumah.

Like, Papa. Beliau biasanya bilang, "Kapan Papa lihat kamu belajar? Nggak pernah. Sampai rumah langsung tidur. Rajin apanya,".

Aku malaaas...banget belajar kalau di rumah. Kalau lagi tetgelitik sesuatu aja aku baru belajar. Di rumah aku biasanya jadi fangirl Arashi: nonton klip konser, performance, drama, variety shows, nyanyi-nyanyi nggak jelas di depan kaca. I do it all sambil teriak, "Arashi! Arashi!" nggak jelas gitu. Atau kadang malah nonton Naruto dan Boruto, hahaha, aku masih suka anime lho. Atau...aku akan main game, mau online atau offline.

Manusiawi banget kalau biasanya aku bisa tertidur di seminar atau ketika kuliah. I am tired karena nggak naik motor ke kampus. Kadang kalau ada tugas dan tahu bakal begadang, aku akan tidur di kendaraan pas pulang dari kampus. 

Beberapa kali aku sempat frustasi juga di perkuliahan karena banyak hal yang nggak nyantol di kepala. Rasanya kayak jadi orang paling bego gitu. But, I am really trying and doing my best. Pas aku nggak paham Hukum Internasional dan Hukum Pidana Internasional, aku sampai minta tugas sama Mbak Ika biar aku bisa paham. I ever became the dumbest student in school

I think, kuncinya hanya satu: good time management. Aku mengatur waktuku sendiri kapan harus main, kapan organisasi, kapan ngumpul-ngumpul sama anak-anak, kapan kongkow buat diskusi bareng, kapan harus belajar, kapan harus party



Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...