Langsung ke konten utama

Exorcism: Believe It For Real

Oke, ini mungkin akan jadi salah satu posting terhoror di blog ini, but this is from my own experience and it just happened this evening. Percaya atau nggak, terserah aja. Logis atau tidak, aku sendiri juga nggak tahu. But, I believe it for real, because it is happened to me.

Sore ini aku ruqyah. Honestly, I have a problem with my unstable emotion, so that we, my parents and I, agree that we have to do something. Ruqyah adalah alternatifnya. Well, aku pertamanya bukan nggak percaya. Hanya skeptis. Aku belum pernah mengalami ini soalnya, jadi sore itu waktu datang ke ruqyah center ya aku biasa aja. A bit angry, to be exact, because this afternoon I just felt uneasy with my parents due to our argument.

Aku jujur aja skeptis masalah ruqyah ini. Kalau emang aku diganggu jin, well, nggak ada perasaan aneh kok waktu dengerin atau pas lagi ngaji. Biasa aja. Pokoknya semua biasa. Jadi, gimana reaksiku kalau aku yang biasa-biasa aja, yang cuma punya masalah dengan energi negatif dan emosi yang nggak stabil, akhirnya ikut ruqyah?

Okay, this is what exactly happen.

Aku nggak tahu kenapa sih, tapi pas akhirnya ruqyah dimulai, rasanya ada sesuatu lain yang mengambil alih tubuhku. But, exactly, I don't know what it is! Kepalaku mulai geleng-geleng sendiri. God, I mean, this is so strange. Kesadaranku waktu itu mencoba menghentikan gerakan kepalaku, but it is failed. Gagal. Kepalaku hawanya panas dan rasanya tiba-tiba aku ingin menangis. Dari tangisan yang awalnya pelan, tiba-tiba kencang, terus aku jerit-jerit. I even can't control my body for real. Dan aku tahu sesuatu. Itu air mataku yang mengalir, tapi tangisan itu bukan aku yang pingin. Dan jeritan itu, aku tahu pita suaraku yang bergetar, but I never scream louder than that time. Rasanya seperti jeritanku waktu naik roller coaster, tetapi sedikit lain. Jeritanku waktu naik wahana ekstrim nggak pernah seperti cewek yang histeris.

I lose my control totally at that point, for...I think it is a short time, but I don't know exactly how long. Ketika aku mendengar suara ustadz yang memintaku mengambil alih tubuhku, aku paksa kesadaranku untuk bangkit kembali, lalu perlahan menarik napas. Aku nggak pernah menangis histeris sampai menjerit seperti itu, bahkan ketika orang terdekatku meninggal, and it makes my breath a bit faster.

Dan akhirnya ketika terapi selesai, kesadaranku mulai penuh, tetapi aku dilanda kebingungan. Why am I crying? Why am I screaming? What for and why? Aku terus bertanya-tanya dalam hati dan mencerna pelan-pelan kejadian tadi. I never feel something out of my logic before and I need time to understand what just happen. 

Ustadz setelah itu menerangkan apa yang terjadi kepadaku kemungkinan karena beban pikiran dan kesedihan yang terlalu lama, melihat reaksiku tadi yang menangis sampai jerit-jerit seperti itu. Kata beliau sih, there must be a time when I was too sad and that negative energy started to control my body since that. Aku mencoba me-recall memoriku. Kapan aku pernah terlalu sedih? Waktu SMA mungkin?

Ah, ya. That time. Ketika sahabatku meninggal. Aku sampai menangis berhari-hari dan jarang ngobrol seminggu. The biggest sadness I've ever felt in my life.

 I never know that his departure will bring such an impact in my life.

Then, they ask me to continue my ruqyah at home and drink kapsul bidara. I do it for real, karena aku penasaran sekaligus ingin mengusir beban yang selama ini menguasai tubuhku. So this night, setelah salat Isya', aku mencoba mengambil kapsul bidara, membacakannya ayat kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas. You know, there it comes again! Ketika aku hendak mulai minum kapsulnya, tangan kiriku bergerak di luar kendaliku. Again, I try to stop it. Semampuku. Karena aku masih dalam kesadaran penuh. Aku paksa tangan kananku mengambil kapsul dan hendak meminumnya, tetapi gerakan tangan kiriku membuat ini sama sekali nggak nyaman.  

Oh my, for God sake! 

Aku meletakkan kapsul tadi dan memaksa tangan kananku mengambil ponsel di meja belajar untuk menelpon orangtuaku yang jarak kamarnya agak jauh dari kamarku. Gagal lagi, kali ini karena ternyata pulsaku habis. Aku memaksa diriku berdiri, dengan gerakan-gerakan aneh di tangan kiriku, lalu beranjak pergi ke kamar orangtuaku dengan tetap berusaha tenang. Aku nggak boleh panik. Kamarku letaknya di kos-kosan putri, bakalan bikin heboh kalau aku teriak panik dan bilang tanganku bergerak di luar kendali.

I enter my parents bedroom and they help me. Aku terus memaksakan pikiran dan hatiku untuk berkata bahwa siapapun yang ada di tubuhku harus keluar saat ini juga. Tubuh ini milikku dan aku milik Tuhan. Sambil terus istighfar dan membaca Al Ikhlas. I keep reciting that and controlling my mind. Ustadz bilang aku lebih kuat daripada adikku ketika diganggu, so I try to keep my mind and consciousness as stable as possible. Ketika akhirnya gerakan itu berhenti, itu melegakan, tetapi meninggalkan rasa sakit sampai saat ini ketika aku menulis.

But, for God sake, I believe it. Aku sudah mengalaminya sendiri.


Yours,
Anissa Antania Hanjani 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...