Langsung ke konten utama

Natsu no Namae

Once, I ever found myself fell in love with someone. That overwhelming feeling filled me and made butterflies flew on my belly. It was such a long memory, but I remembered it clearly. I smiled like crazy when he smiled and threw some silly jokes. We laughed at our embarrassing common things. I knew him well, so did he. But, I never knew his feeling towards me. The thing that I was sure about it was I...was kind of sad when he was sad, I was happy when he was.
 
It has been almost 4 years ago, but I remembered it clearly. The feeling when I felt that this friendship zone would be long last. It was much more better than the risk I should face if he knew, I thought. I never got any brave to say it, aside from my religion dogma, because it was already better this way. I thought he never knew it.
 
Well, I did many things to make him saw me. Even the most silly things. I made my best effort, inside and outside, so that he would say, "I knew it! I never doubt you! You are the best!". Win something, did something. Embarrassing, but at the same time I felt goosebumps when he called my name and supported me. Ha, those crazy moments.
 
I knew many things about him that many people didn't. Felt like special when I knew it. Like, I claimed this area to be mine only.
 
But, it was 4 years ago in that summer.
 
We walked on our path since that. I do many things I like, so does he. I make my own limelight and special mark. I distinguish my work than others. Just to make everything as it is. Rather than him, I do it to satisfy myself. To mark my future target. 

But, at the same time it gets me question myself in an anxiety and curiosity.

"Did he ever know about it?".

"Did he know my feeling?".

Every time I see his pictures on social media, my curiosity fills me as hell. I am kind of praying that time machine would exist so that I could back to 4 years ago. Just only to see whether he knew it or not. Strangely, I hope that he would know it and felt the same thing.
 
But, my study now is much more important than that shiny past.
 
But, my curiosity would never let me escape.
 
 
Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...