Hidup itu seperti menyusuri jalan raya dengan kendaraan. Ada banyak rambu di sana, entah itu berupa lampu lalu lintas, rambu parkir, berhenti, jalan terus, dilarang berhenti, dan lain sebagainya. Entah mengapa, sepertinya tiba masaku untuk mematuhi salah satu rambu di sana.
Banyak orang mengatakan kepadaku bahwa aku berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya, meski aku tidak tahu apapun yang membedakanku. Aku memiliki identitas dan persepsi, tetapi aku menganggap diriku sama dengan orang lain pada umumnya. Bahwa aku tidak memiliki sesuatu yang mereka sebut "unik" dan "spesial". Aku adalah perwujudan bagaimana keluarga dan lingkungan membentukku sedemikian rupa, inilah yang membuatku beranggapan bahwa aku sama. Maksudku, bukankah setiap orang dibesarkan lewat interaksinya? Bukankah aku juga tumbuh dan berkembang dari interaksi itu?
Namun, ternyata aku salah dan mereka benar. Aku (sedikit) berbeda.
Ketika aku menyadarinya, entah mengapa rasanya itu membuatku ingin meninggalkan tempat yang kudiami saat ini. Aku hanya tidak mengerti, itu yang kupikirkan ketika mereka mengatakan bahwa (seharusnya) aku tidak perlu peduli. Aku mengira selama ini aku dapat menghubungkan segala sesuatu dengan baik, ternyata apa yang kulakukan tak lebih dari sekadar kegagalan yang tiada arti.
Perasaanku bercampur aduk kala menulis hari ini. Sedikit perasaan terikat, sedih yang tidak dapat kupahami, kekecewaan yang terpendam lama, dan...aku tidak tahu lagi.
Bisakah kalian memahami arah pembicaraanku hari ini?
Jika tidak, aku akan mencoba menerangkannya sebaik mungkin.
Singkatnya, aku akan berhenti menulis. Inilah rambu hidup yang kulihat hari ini. Entah berapa lama aku harus berdiam di sana, tetapi yang jelas kendaraanku ini perlu berhenti. Aku bahkan tidak tahu bagaimana dan apa yang kulakukan setelah ini. Tuhan bersamaku selalu, aku tahu. Tuhan tahu apa yang kusembunyikan di balik seluruh pikiranku beberapa hari ini, aku tahu. Hanya Dia dan aku yang tahu persis apa yang menjadi alasan semua ini dan aku tidak akan membaginya.
Sebab, ini adalah persoalanku dengan-Nya. Tak boleh ada yang mengganggu selama aku memutuskan untuk berhenti.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar