Langsung ke konten utama

Yameru(?)

Hidup itu seperti menyusuri jalan raya dengan kendaraan. Ada banyak rambu di sana, entah itu berupa lampu lalu lintas, rambu parkir, berhenti, jalan terus, dilarang berhenti, dan lain sebagainya. Entah mengapa, sepertinya tiba masaku untuk mematuhi salah satu rambu di sana.

Banyak orang mengatakan kepadaku bahwa aku berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya, meski aku tidak tahu apapun yang membedakanku. Aku memiliki identitas dan persepsi, tetapi aku menganggap diriku sama dengan orang lain pada umumnya. Bahwa aku tidak memiliki sesuatu yang mereka sebut "unik" dan "spesial". Aku adalah perwujudan bagaimana keluarga dan lingkungan membentukku sedemikian rupa, inilah yang membuatku beranggapan bahwa aku sama. Maksudku, bukankah setiap orang dibesarkan lewat interaksinya? Bukankah aku juga tumbuh dan berkembang dari interaksi itu?

Namun, ternyata aku salah dan mereka benar. Aku (sedikit) berbeda.

Ketika aku menyadarinya, entah mengapa rasanya itu membuatku ingin meninggalkan tempat yang kudiami saat ini. Aku hanya tidak mengerti, itu yang kupikirkan ketika mereka mengatakan bahwa (seharusnya) aku tidak perlu peduli. Aku mengira selama ini aku dapat menghubungkan segala sesuatu dengan baik, ternyata apa yang kulakukan tak lebih dari sekadar kegagalan yang tiada arti. 

Perasaanku bercampur aduk kala menulis hari ini. Sedikit perasaan terikat, sedih yang tidak dapat kupahami, kekecewaan yang terpendam lama, dan...aku tidak tahu lagi.

Bisakah kalian memahami arah pembicaraanku hari ini?

Jika tidak, aku akan mencoba menerangkannya sebaik mungkin.

Singkatnya, aku akan berhenti menulis. Inilah rambu hidup yang kulihat hari ini. Entah berapa lama aku harus berdiam di sana, tetapi yang jelas kendaraanku ini perlu berhenti. Aku bahkan tidak tahu bagaimana dan apa yang kulakukan setelah ini. Tuhan bersamaku selalu, aku tahu. Tuhan tahu apa yang kusembunyikan di balik seluruh pikiranku beberapa hari ini, aku tahu. Hanya Dia dan aku yang tahu persis apa yang menjadi alasan semua ini dan aku tidak akan membaginya.

Sebab, ini adalah persoalanku dengan-Nya. Tak boleh ada yang mengganggu selama aku memutuskan untuk berhenti.


Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...