Yep, rasanya ini pertama kalinya aku speechless ketika menonton film baru sendirian. Aku tipikal orang yang banyak komentar ketika menonton film di luar bioskop, hahaha.
Arashi lagi, Arashi lagi. Iya, Arashi lagi. For me, mereka adalah semangatku dan film dokumenter ini menerangkan dengan tepat semua alasan mengapa aku (dan mungkin alasan sebagian besar orang) mencintai mereka. Review film dokumenter kali ini akan mengungkapkan banyak kisah di balik kesuksesan Arashi yang sebenarnya kalau mereka tahu, itu tidak hanya di Jepang, tetapi juga di tingkat global.
Film dokumenter ini meliput dua hal. Pertama, persiapan pelaksanaan konser perayaan 15 tahun Arashi di Hawaii. Kedua, tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik kesuksesan Arashi dari sudut pandang para anggotanya dan juga lewat diari Ohno Satoshi, sang leader. Film dibuka dengan review persiapan dan pelaksanaan konser mereka di Hawaii yang megah. Pelaksanaan konser tersebut benar-benar berarti banyak bagi mereka dan itu diungkapkan Matsumoto Jun, "Dengan melaksanakan konser di Hawaii, bagi kami itu seperti mampir sebentar dalam perjalanan panjang kami,".
Hawaii adalah tempat yang berarti banyak bagi Arashi. Di sanalah mereka mengadakan konferensi pers debut mereka, tepatnya di atas yacht di laut teritorial Hawaii pada tahun 1999. Pelaksanaan konser di Hawaii bagi Arashi seperti refleksi bagi perjalanan panjang mereka selama ini. Ditambah lagi, pelaksanaan konser ini sebenarnya adalah atas undangan dari pemerintah Hawaii sendiri.
Dalam persiapan konser tersebut, terlihat betapa sibuknya Matsumoto Jun dalam mengatur para staf agar kelak menjadi konser yang tak terlupakan. Matsumoto Jun yang mungkin oleh sebagian penggemarnya hanya dikagumi ketampanan dan kepiawaiannya dalam menjadi aktor dan penyanyi, sebenarnya adalah mastermind seluruh konser Arashi selama 15 tahun. Semua ide segar Matsumoto Jun itulah yang membuat konser Arashi menjadi tontonan wajib yang tak terlupakan dan berkesan. Sebut saja adanya moving stage yang memungkinkan Arashi dapat mendekati dan menyapa para penonton mereka, lifter yang berwarna-warni, moving up and down stage, dan lain sebagainya. Selain itu, dia juga mengatur kapan musik akustik khas Hawaii bisa dimainkan agar waktunya sesuai dengan sunset terindah di Hawaii, mengatur masuk-keluarnya para anggota Arashi lainnya, urutan dan timing lagu-lagu mereka, pencahayaan, stage, dan lain sebagainya. Setelah semua kesibukan itu, dialah yang pulang paling akhir karena harus rapat dengan para staf hingga larut malam. Bisa dibilang, dia membutuhkan lebih banyak energi dari para anggota Arashi yang lain.
Arashi's concert mastermind, Matsumoto Jun
Dengan tanggung jawab sebesar itu, adakalanya Matsumoto Jun merasa tidak enak dengan para anggota lainnya karena lebih sering berdiri di bawah panggung untuk mengatur mereka dan tahu bahwa berdiri di panggung pun membutuhkan banyak tenaga (kalau menurutku, mungkin tidak hanya karena dia terlihat sok ngatur, tetapi juga karena karena dia yang termuda di Arashi). Ketika mengungkapkan perasaannya kepada para anggota Arashi, mereka meresponnya dengan baik. "Sebenarnya Arashi bisa mengadakan konser seperti itu berkat MatsuJun, kalau itu aku pasti tidak akan sebaik itu," tanggap Sho.
"Arashi itu kan punya kualitas sendiri untuk konsernya. Kalau menurutku, kualitas tinggi yang tercipta karena selama ini MatsuJun yang mengerjakan. Jadi berkenaan dengan tanggung jawab untuk bisa sampai seperti itu, kalau boleh jujur sih aku sepertinya tidak bisa," kata Sakurai Sho menanggapi MatsuJun tentang tanggung jawabnya sebagai penata panggung konser.
Dalam pengadaan konser seperti itu, tentunya akan ada perbedaan pendapat di antara para anggota Arashi yang terkadang menimbulkan suasana tidak enak. Hal ini menjawab pertanyaan banyak orang tentang ada-tidaknya pertengkaran di antara sesama anggota (karena selama ini sih mereka kelihatannya rukun-rukun saja). Ohno Satoshi, sang leader, mengungkapkan hal tersebut, "Pada konser perayaan 10 tahun (5x10 Anniversary Tour-red), aku kan gladi bersih lagu soloku, terus MatsuJun bilang, 'Kamu nyanyi full satu lagu aja', tapi bagiku aku nggak mungkin kuat nyanyi satu lagu penuh. Aku kan juga keras kepala orangnya, kayaknya waktu itu aku bilang, 'Nggak apa-apa, segini aja'. Terus tahu-tahu MatsuJun nggak ada. Di situ aku berpikir, 'Duh, aku tadi salah ngomong apa ya,'. Aku masih inget banget itu,".
"Kamu ingat, nggak?" tanya Aiba.
"Ingat," jawab MatsuJun.
"Berarti kalian berdua sama-sama ngerasain suasana nggak enak gitu ya?" kata Nino.
"Maaf, kalau boleh jujur, aku sebel banget waktu itu," ujar MatsuJun, disambung tawa oleh anggota Arashi lainnya.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa sebel banget?" tanya Sho.
"Kalau melihat urutan konser secara keseluruhan waktu itu, kalau nanti di bagian itu nggak ada jedanya, kita nggak bakalan punya waktu buat pindah tempat. Aku minta dia supaya lagu solonya dibikin lama aja buat persiapan lagu berikutnya. Makanya waktu itu kalau memang nanti waktunya kurang, ya (harus) nyiapin hal yang beda atau gimana gitu. Aku ngomong macam-macam, tetapi dia bilang, 'Nggak ah, pokoknya aku nggak mau. Aku bisanya segini aja! Mau ngomong gimana aja, pokoknya aku bisanya segini aja!'. Aku bilang, 'Ya udah. Nggak usah, nggak apa-apa,'. Aku masih ingat," jelas MatsuJun panjang.
"Aku juga selalu berpikir. Aku sampai sekarang nggak bisa bilang, 'Maaf ya,'," kata Ohno.
Di balik pelaksanaan konser, selain Matsumoto Jun yang selalu terlihat sibuk, ada juga Aiba Masaki yang selalu bersemangat mengikuti segala latihan hingga gladi bersih pelaksanaan konser. Dalam Arashi, Aiba yang selalu ceria adalah moodmaker. Dialah yang paling banyak berkeringat ketika persiapan pelaksanaan konser karena semangatnya dan sifatnya yang pekerja keras. Karena sifatnya itulah, dulu dia pernah opname di rumah sakit karena penyakit pneumothorax pada tahun 2002 karena terlalu banyak berlatih saxophone untuk sebuah tantangan yang mengharuskan Aiba memainkannya. Paru-parunya berlubang akibat latihan tersebut. Akibatnya, pekerjaan itu pun terpaksa ditunda.
Aiba dan latihan saxophone-nya pada tahun 2002
Di balik sakitnya, Aiba sempat berpikir inilah akhir dari karirnya sebagai Arashi. Ada banyak hal yang memungkinkannya tidak kembali karena pekerjaannya menyanyi dan menari akan memperparah penyakitnya. Dokter mengatakan kepada Aiba bahwa akan ada kemungkinan paru-parunya berlubang di tempat yang sama dan kemungkinan kambuhnya tinggi. Hal tersebut juga menyakitkan baginya karena dalam sebuah acara fans di Hawaii setelah keluar dari rumah sakit dia harus absen di berbagai kegiatan karena belum dapat banyak bergerak. Melihat 4 anggota Arashi lainnya menyanyi di atas panggung memberikan perasaan tidak enak dalam dirinya. Konser perayaan 15 tahun di Hawaii membuat Aiba senang karena akhirnya dapat berdiri di panggung Hawaii, tempat yang paling diidam-idamkannya. "Bukan karena akhirnya aku mendapatkan apa yang kuinginkan, tetapi karena rasanya aku seperti bisa mengambil barangku yang tertinggal," jelas Aiba.
Setelah sehari sebelumnya Hawaii dilanda hujan deras, pada hari pelaksanaan konser cuaca benar-benar terik sehingga memberikan tantangan berat bagi Arashi di atas panggung. Dalam cuaca terik tersebut, ada Sakurai Sho yang justru memikirkan perasaan penonton yang akan datang ke konser mereka. Atas inisiatif Sho, berbagai penjual makanan, minuman, dan tempat istirahat disediakan di luar tempat konser agar penonton merasa nyaman ketika menunggu. Selain itu, dia terus aktif sebagai penghubung bahasa antara Arashi dan staf Jepang dengan staf Hawaii karena kemampuannya dalam bahasa Inggris yang baik.
Sakurai Sho yang memikirkan perasaan orang lain adalah sosok yang dapat diandalkan bagi anggota Arashi lainnya. Dialah yang menjadi penghubung antara Arashi dengan orang-orang yang mereka ajak untuk bekerja sama. Ohno mengungkapkan, "Saya sering disebut sebagai leader Arashi, akan tetapi kalau boleh jujur saya tidak pernah melakukan apapun sebagai seorang leader. Sebenarnya, leader bayangan yang selalu menopang Arashi adalah Sakurai Sho,".
Arashi's shadow leader, Sakurai Sho
Di balik "posisinya" (karena Sho sendiri nggak pernah merasa dialah leader bayangan) sebagai leader bayangan, Sho selalu mengkhawatirkan masa depan Arashi. Dia mengungkapkan bahwa dulu dia sempat berpikir Arashi hanya akan bertahan hingga di usianya yang ke-25. Karena kekhawatirannya akan masa depan Arashi itulah pada 5 Agustus 2002, sehari sebelum konser Iza, Now!, terjadi pembicaraan panjang para anggota Arashi di kamar Ohno dari malam hingga jam 5 pagi. Momen tersebut diabadikan dalam lagu mereka, Sketch.
"Rasanya butuh waktu yang lama untuk membentuk sebuah Arashi," ungkap Sho.
Pada hari-H pelaksanaan, sebuah insiden menyebabkan perubahan dalam konser. Kazunari Ninomiya mengalami kecelakaan. Pinggangnya terasa sakit karena ototnya tertarikhingga kakinya mengalami kebas. Akhirnya, ketika persiapan lagu Monster pada hari pertama seharusnya mereka jump up, atas inisiatif Matsumoto Jun dan anggota Arashi lainnya, mereka hanya melakukan slide up. Nino tetap bertahan di atas panggung hingga akhir konser meski sakit. Berkat profesionalitas Nino, konser hari pertama berjalan dengan lancar.
"Mereka sudah datang jauh-jauh ke Hawaii untuk melihat penampilan kita, tetapi kalau karena alasan pribadi kemudian kita malah menurunkan kualitas, bagi saya itu tidak dapat dimaafkan," ungkap Nino.
Kazunari Ninomiya yang profesional
Nino dapat mempertahankan profesionalitas kerjanya berkat ketegasan Ohno ketika suatu hari Arashi pergi bersama untuk makan soba. Ketika dia mengungkapkan pendapatnya untuk menyerah kepada pekerjaan dan mencoba mengalahkan senior mereka, Ohno dengan tegas berkata, "Nggak mau! Orang yang nggak mau berusaha untuk hal-hal di depan matanya saat ini tuh terus mau berusaha untuk apa lagi?". Nino terus mengingat kalimat tersebut hingga sekarang dan menggunakannya sebagai pedoman untuk tetap mempertahankan profesionalitas kerjanya.
Di balik semua anggota Arashi yang berbeda, terdapat Ohno Satoshi sebagai leader yang tidak banyak bicara. Ohno adalah orang yang baru akan mengambil keputusan jika Arashi menemui jalan buntu dalam permasalahan mereka (terlihat banget di sini bahwa dia adalah leader yang demokratis). Meski merupakan seorang leader, dia sempat memiliki keinginan keluar dari Arashi pada tahun 2006-2010 karena pekerjaannya tidak memberikannya banyak waktu liburan untuk dirinya yang berjiwa bebas. Konser perayaan 15 tahun mereka di Hawaii semakin menentramkan perasaan galau Ohno dan memantapkan dirinya, sehingga dia menitikkan air mata ketika mengungkapkan perasaan terima kasihnya pada akhir konser.
Ohno Satoshi, sang leader Arashi
Berkat kemantapan hatinya dan keputusannya untuk tetap bertahan, Arashi tetap bertahan seperti sekarang. Tentunya hal ini akan berbeda jika saja Ohno memutuskan untuk keluar.
Dokumenter ini benar-benar menampilkan fakta luar-dalam Arashi yang jarang diketahui. Ada begitu banyak hal yang dapat kuambil sebagai pelajaran, tetapi apa yang benar-benar penting adalah kekompakkan dan profesionalitas kerja. Aku kagum bagaimana Arashi menjaga anggota mereka satu sama lain agar terus selalu bersama, baik di dalam konser. Semua hal yang dicapai Arashi saat ini adalah berkat kerja keras mereka membangun grup. Kesuksesan mereka bahkan sempat dikaji dengan adanya mata kuliah tentang Arashi di Universitas Meiji.
Setelah melihat dokumenter ini, aku semakin mengagumi Arashi karena mereka tampil apa adanya. Ketika kebanyakan idol grup berusaha tampil seganteng mungkin dengan cara operasi plastik sampai menjaga image mereka, Arashi tampil apa adanya. Mereka enjoy saja di atas panggung dengan diri mereka apa adanya, berbaur dengan para staf sebaik mungkin (di Jepang, Arashi dikenal sebagai idol group yang paling mudah diajak bekerja sama), tetapi tetap profesional. Di luar pelaksanaan konser Hawaii ini, dalam berbagai variety show yang mereka bawakan (Arashi ni Shiyagare dan VS Arashi), mereka nggak ragu untuk tampil sekonyol-konyolnya, maupun berbaur dengan komedian dalam lawakan mereka.
NHK kali ini benar-benar menyajikan sebuah dokumenter yang menjanjikan karena banyak orang jarang mengetahui persiapan konser megah Arashi. Penggunaan 15 kamera ketika Arashi berkumpul dan mengungkapkan perasaan mereka masing-masing juga memberi kesempatan kepada penonton untuk melihat ekspresi wajah masing-masing anggota saat mendengarkan ungkapan perasaan yang lain. Fokus kepada ekspresi wajah itulah yang membuat penonton dapat menilai Arashi benar-benar tampil apa adanya. Tanpa permak. Tanpa skenario. Tanpa setting apapun. Orang waras tentunya tidak akan bisa mempertahankan kekompakkan selama 15 tahun jika mereka hanya berakting saja mengenai kebersamaan tersebut.
Ya, pada akhirnya inilah yang membuatku benar-benar menyukai mereka. Sebagai artis dengan pendapatan mencapai sekitar Rp 7 triliun, mereka tetap memiliki sesuatu yang terpenting sebagai seorang manusia: hati. Berkat itulah mereka dapat menyanyikan lagu dengan pesan-pesan bermakna dalam kehidupan, dicintai oleh banyak orang, mempertahankan kekompakkan, dan peduli dengan sesamanya. Mereka tidak sempurna, tetapi itulah yang membuat mereka dicintai. Karena mereka mengakui ketidaksempurnaannya dan saling berusaha satu sama lain untuk menutupnya dengan kelebihan masing-masing.
Sebagai informasi, pelaksanaan konser perayaan 15 tahun ini sangat menyokong perekonomian di Hawaii dan oleh karenanya didukung penuh oleh pemerintah Hawaii. Konser tersebut dihadiri 200.000 orang sehingga kamar-kamar hotel dekat tempat konser semuanya penuh. Bendera Arashi dikibarkan setelah bendera Amerika Serikat dan Hawaii. Tanggal 19 September 2014 diperingati pemerintah Hawaii sebagai Arashi Day (Hari Arashi).
Yours,
Anissa Antania Hanjani







Komentar
Posting Komentar