Malam ini tidurku tidak nyenyak.
Hatiku terus bertanya-tanya, menerka-nerka. "Genki? (Baik-baikkah?)" tanyaku terus-terusan kepada langit-langit yang tentu saja tidak akan berbicara untuk menjawabku.
"Genki ni shitemasu ka? Apakah kau baik-baik saja?"
Karena terus-menerus menatapnya, aku seakan meminta langit-langit kamar berbicara untuk menjawabku. Entah apalah yang ia pikirkan melihatku. Iya, aku, si manusia bodoh yang menerawangkan kegelisahan hatinya kepada langit-langit. Seakan aku menyalahkan langit-langit atas ketidakmampuanku saat ini untuk tidur nyenyak dan menunggu jari-jemari matahari memasuki jendela.
Aku terus berpikir, apa jadinya jika seseorang yang begitu berharga bagimu saat ini sedang tidak baik-baik saja? Ketika memutuskan untuk terbangun dan menulis, kesadaranku pulih sepenuhnya. Ah, sebab itulah aku terjaga.
Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Membayangkan saja juga tidak bisa. Sama sekali. Entah imajinasiku malah memilih terlelap atau justru akulah yang terlalu cemas hingga segala bayangan terkikis begitu saja. Namun, ada begitu banyak kereta kata-kata yang ingin kulepas menuju ke sebuah stasiun yang saat ini sedang membutuhkannya.
Ah, sebagian besar yang ada di sini adalah omong kosong anak 19 tahun. Boleh jadi orang berpikir demikian.
Namun, omong kosong ini adalah segala apa yang kurasakan dalam kehidupan 19 tahunku.
Bolehkah aku berpikir bahwa bisa jadi ini akan berguna untuk kehidupan 38 tahun milik seseorang?
Di dunia ini, semua orang akan selalu memiliki rasa kecewa akan akhir mimpi mereka, terlepas dari betapa muda atau tuanya seseorang itu. Kemudian, keesokan harinya dia berjalan menjadi seseorang yang berbeda. Di luar kita hanya dapat melihatnya sebagai seseorang yang telah merelakan segalanya, merelakan mimpinya berakhir tidak sesuai dengan asa, tetapi di dalam sesungguhnya dia adalah seseorang yang perasaan kecewanya masih menggantung.
Namun, sehancur apapun hati, peluklah rasa sakit itu. Sambutlah. Perasaan sakit itulah yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya.
Aku pernah memimpikan masa depanku untuk berjalan bersama seseorang, menjadi sesuatu, membahagiakan seseorang, atau membayangkan bahwa seseorang itu masih ada. Ketika rasa sakit datang saat mimpi-mimpi itu hancur dan imaji akan masa depan berubah, aku sadar betapa manusiawinya diriku saat ini. Ah, ya. Bermimpi. Ketika aku tersadar bahwa bermimpi masih sah-sah saja, hatiku yang hancur berkeping-keping kembali menyatu, meski tidak utuh.
Ah, bukankah ketika satu mimpi itu menghilang, kita masih bisa memimpikan mimpi yang lain?
Hatiku pada akhirnya kembali merekah. Ah, kelopaknya tidak utuh, aku tahu. Namun, aku menganggapnya sebagai kenang-kenangan masa lalu. Kelopak yang pergi akan menjadi saksi antara aku dan Dia akan kesiapanku untuk skenario berikutnya.
Rasa sakit itu berubah menjadi keramahan akan takdir-takdir berikutnya yang bahkan aku sendiri tidak bisa membayangkan betapa menakjubkannya kelak!
Aku dan kita semua, keberanian itu akan hilang ketika rasa sakit itu ada. Aku dan kita semua, keberanian itu lenyap saat melewati jalan nan sepi dan dingin di musim itu. Namun, aku dan kita semua akan tetap selamat dalam perjalanan ketika membawa sebuah lentera kecil. Tidak terlalu menjanjikan, tetapi kepadanyalah kita bisa percaya bahwa perjalanan ini akan berujung kepada sesuatu yang indah.
Lentera itu bernama harapan.
Tentu saja, itu juga karena kita tidak dapat berdiri di sana selamanya. Bayangkan jika seseorang hanya diam saja ketika dia terjebak badai salju dengan korek api di tangannya, bahkan meski korek itu menghangatkannya, dia akan mati dalam ganasnya badai!
Iming-iming harapan memang menjanjikan, tetapi hal itu dapat terwujud hanya jika kita berlari melewati jalan sepi nan dingin itu untuk mencari ujungnya. Tanpa berlari, kita akan terjebak seperti orang itu dalam badai salju, mati membeku dalam angan kosong.
19 tahun hidupku ini tidak ada apa-apanya dibanding 38 tahunku, 40 tahunku, atau bahkan 60 tahunku kelak. Akan ada jauh lebih banyak mimpi dan angan yang hancur di depan mata dibanding ketika aku berdiri di angka 19. Hancur sehancur-hancurnya. Namun, inilah kehidupan. Akan ada saatnya aku harus merasakan gilasan roda-roda yang mungkin akan meremukkan semua yang kumiliki, hingga tangisanku tak akan tertahankan lagi.
Aku hanya dapat berjanji kepada diriku sendiri untuk terus bangkit setelah jatuh.
Aku hanya dapat berjanji untuk terus percaya kepada diriku sendiri.
Tidak ada lagi yang dapat dilakukan remaja naif ini selain terus berjanji, berjanji, dan berjanji akan terus bertahan. Hanya inilah yang dapat kulakukan sebagai manusia biasa.
Bahkan meski jika aku menangis, tangisanku tidak akan menenggelamkanku. Cobalah percaya akan hal itu.
(Parafrase lagu Daylight yang dinyanyikan oleh Arashi, special for you who wait in the track of disappointment and hope)
Yours Faithfully,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar