Ciee...akhirnya ada yang bakal lolos dari ejekan 'jomblo' yang biasanya aku ucapin! Hahahaha.
Kemarin tanggal 20 aku lihat beberapa instastory yang heboh dari alumni and anak-anak ABBS tentang pernikahannya Mr. Dimas. I was just like...okay, I have known it since around April-May that he would marry someone. Not-so-surprising news for me, nggak terlalu mengejutkan buatku karena aku sudah tahu dari lama, tetapi yaa...tetap aja itu kabar bahagia.
Kayaknya masih kemarin deh kejadiannya waktu malam-malam pas perjalanan pulang dari kampus aku ngobrol dengan Mr. Dimas via telepon. Waktu udah asik ngobrol gitu, he told me suddenly, "Saya ta'aruf dengan seseorang,". Aku waktu itu ketawa cekikikan karena satu dan lain hal, tetapi langsung kubalas, "Oh iya? Sama siapa?". As usual sih, beliau suka banget main rahasia-rahasiaan, jadi waktu itu aku nggak langsung tahu, tetapi aku sudah berfirasat beliau pasti menikah tahun ini. Even, ketika beliau akhirnya bilang ke aku pas awal-awal puasa tahun ini, "Insya Allah, akad nikahnya 2 Juli,". Itu aku disuruh nebak siapa calon istrinya, hadeh.
Oke, yang lebih ngeselin lagi, aku sudah nebak bahwa calonnya tuh Miss Lisa. Karena beliau mintanya dianalisis satu-satu aja guru akhwat yang masih single, deduksiku udah nebak bahwa itu Miss Lisa. Nah, itu nggak langsung dikonfirmasi. Aku dibuat kepo beneran selama dua minggu dan akhirnya....tada, undangannya keluar tanggal 21 dini hari via WA dan beneran sama Miss Lisa. Huh, awas ya kalau aku nikah nanti!
Bicara tentang Mr. Dimas, for me, it's just like talking about my big brother instead of my teacher. Iya, in fact beliau memang guruku, tetapi untukku sih kalau ingat betapa seringnya kita berantem karena masalah kecil, itu lebih kayak aku dan adikku. Masalah surat dulu misalnya, hanya gara-gara surat itu basah dan nggak kebaca, aku ngambek waktu itu dan beliau juga marah sama aku kayaknya deh, haha. Ada banyak sih hal yang bikin berantem yang bahkan sometimes aku curhat ke Mr. Izz, but if I remember it, it was kind of....funny and silly of me! Aku kekanakkan banget ya, pikirku waktu ingat itu.
Mr. Dimas banyak banget memberikan kesempatan yang jarang banget aku dapetin sih, meskipun lebih banyak kesempatan yang buatku itu menyebalkan. Misalnya, ketika aku diminta mengganti mengajar pelajaran Sejarah di kelas. Aku kesal sekali beliau memintaku ngajar ketika aku bahkan belum membuka lagi bahannya (yah, itu dilihatin sekelas waktu aku marah gitu sih), tetapi itu benar-benar kesempatan langka. Pernah juga waktu itu aku ngajar pas pelajaran tambahan Sejarah jelang US dan itu kelasnya campur putra-putri. When I taught others, rasanya aku tahu bahwa aku sama sekali nggak cocok jadi guru. How silly of me. Namun, kurasa aku tetap ingin jadi guru karena beliau. Aku nggak tahu kenapa, tetapi yang jelas seperti itu.
Buatku, Mr. Dimas itu senyebelin-nyebelinnya guru. Lagi enak-enak tidur pas pelajaran, kepalaku digeprek pake kertas sebendel dan disuruh hapus papan tulis (dan pas itu aku ngomel-ngomel dalam hati, "Mr. Izz bilang kalau udah paham boleh tidur!"). Kesal kali udah dibanguninnya gitu, terus disuruh hapus papan tulis, hahahahaha. Atau pernah ya waktu mau ambil sepatu pas pulang sekolah, tiba-tiba tanganku digeprek pake kertas terus bilang, "Hey, pulangnya lewat mana ya harusnya!" (pas itu kan pintu keluar cowok dan cewek dipisah, sepatuku di pintu cowok, cuma ambil sepatu doang lho tanganku digeprek, hahaha). Atau pernah pas ujian sekolah kertas ujianku dicorat-coret dengan tulisan, "Wake up!" waktu aku tidur (itu karena aku udah niat juga sih bikin Mr. Dimas kesel tiap beliau jadi pengawas ujian, hahahaha).
Namun, he is the second person who can read my feeling.
Beliau tahu aku capek waktu ngurus berkas ke Turki dan waktu itu aku harus cari laptop guru untuk scan berkas, so ketika waktu itu dalam pikiranku aku berusaha nggak minjem laptopnya Mr. Dimas setelah kesal aku dibilang anak manja, beliau langsung ambil berkas-berkas dari tanganku. "Mau diapain, Sir?" tanyaku.
"Di-scan, lah!".
Aku nggak tahu sih, tetapi beliau sepertinya tahu aku nggak tahan kalau lama-lamaan berantem. Setelah sekitar berapa hari gitu argued, kita ngobrol. From the deepest of my heart, aku suka cara beliau ketika menyelesaikan berantemnya denganku. He told me his point of view, he gave me the chance to told mine, tried to understand, setelah itu saling minta maaf. Lupakan. Selesai. Aku pingin tahu ada berapa banyak ya orang di dunia ini yang bisa seperti itu. Aku soalnya tidak menemukan hal itu ketika dulu beberapa kali ada permasalahan dengan temanku di asrama. Mostly judgemental opinion, terkesan I know everything about you because there was someone like you before, dan beberapa kali bahkan di forum terbuka.
Satu kesamaan yang bisa kutarik dari Mr. Dimas dan Mr. Izz adalah beliau berdua sama-sama memandang bahwa setiap individu itu punya karakternya sendiri, that is why I like to spend my time with both of them.
Belum lagi some little treats favoritku: HiLo campur Oreo dan esnya sedikit. Setelah lulus pun ketika aku main bahkan masih dibeliin.
Belum lagi ketika aku curhat tentang ini dan itu, baik ketika masih sekolah maupun sudah ngampus. I keep contacting Mr. Dimas and Mr. Izz even after graduation, beliau banyak membantuku adaptasi dengan kehidupan kampus.
Dan masih banyak lagi.
Pertamanya aku mengira sih bahwa aku dan Mr. Dimas nggak bakalan nyambung. Ada banyak banget yang jauh beda antara aku dan beliau. Aku yang biasanya agak urakan, beliau yang strict banget masalah kesopanan. Aku jengkel ketika dulu sering banget dikoreksi, "Ngomong sama guru tuh harusnya pake saya!" karena hey, coba deh ngomong juga hal yang sama ke teman-temanku, kenapa cuma aku sih. Now, his lesson is very useful in campus. Mana berani sih aku urakan di depan dosen dan ngomong pake 'aku', hahaha. But, kita sama-sama suka kopi. Makasih lho ya kopi Jambi waktu itu, aku pulkam jadi nggak bisa tidur.
Selain itu, hm, aku nggak mengira sih sebenarnya kalau beliau marah itu marahnya mengerikan, sementara aku mah kalau marah ya marah aja. Dulu aku pernah marah sama Mr. Izz juga, tetapi nggak tahu kenapa waktu itu nggak jadi marah. Mr. Izz dibawa santai aja kalau aku marah. Mr. Dimas? No, jangan harap. Kalau dari awal aku udah bad mood, ngomongnya nggak santai, beliau marah langsungan. Iya aku langsung turun marahnya, tetapi di saat yang sama aku kayak, "Duh, gawat. Mati aku,". Namun, kami juga sama-sama suka candaan yang sedang-sedang saja.
Dan itulah kenapa aku lama-kelamaan mikir, "Ternyata bisa nyambung ya,".
That is why, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak. Sangat. Aku sulit menjelaskannya, tetapi banyak sekali hal yang membuatku ingin mengucapkan banyak terima kasih untuk semuanya. Duh, bahkan mengucapkan terima kasih saja bisa serumit ini.
Oh ya, suratku gimana ya, Sir?
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar