Langsung ke konten utama

Suratku dari Bumi


Hai sobat.....
jangan ingat s'mua salah
dan kekuranganku...
Tapi...
Ingatlah s'mua canda,
tawa, suka, dan ria
yang pernah ana hadirkan
dalam hidup antum...
26 September 2013Dikirim dari Web

Dari Bumi, Untukmu

Mungkin ini adalah pesan terakhir dariku yang ingin kusampaikan. Pesan baru akan kusampaikan nanti setelah aku sampai di tempat seharusnya. Ketika semua hal sudah kupeluk erat.

Pertama, terima kasih karena selalu menemaniku tertawa dan menangis. Tidak banyak orang melakukan itu untukku. Kau tahu, aku belum pernah dapat sahabat seakrab ini dari TK sampai sekarang. Sahabat yang bisa memahamiku dan kupahami juga. Sahabat yang sama anehnya supaya bisa mengerti keanehanku pula. Sahabat yang sama emosinya supaya bisa berantem denganku juga. Kamu berbeda dengan banyak orang yang kutemui sebelumnya.

Dulu ketika kita pertama kali bertemu, aku takut padamu. Ingatkah kau aku pernah bilang begitu? Aku takut padamu, kamu tidak bisa diajak bercanda. Seiring berjalannya waktu, kamu semakin menyenangkan. Kamu semakin luwes, semakin sering tertawa dan tersenyum. Meski di belakang aku tahu pada akhirnya akan ada titik di mana kamu kesal dan menangis, kamu tampil di depan dunia dengan baik, dengan tawa dan senyum tulus, bukan palsu.

Dulu supaya kamu bisa tertawa, aku harus membuat lelucon yang...well, mungkin bagi orang lain tidak lucu. Eh, tapi aku senang kamu tertawa, sungguh aku senang. Bisa membuatmu tertawa dulu adalah kelegaan tersendiri. Seiring berjalannya waktu, kamulah yang membuatku tertawa. Ketika aku menangis, kamu memang tidak membuat lelucon, hanya perkataan sederhana dari lisanmu yang membuatku tersadar betapa ajaibnya dunia yang kumiliki.

"Aku yakin kamu bisa, duniamu kan penuh imajinasi."

Seiring berjalannya waktu, kamu yang awalnya apa-apa dianggap serius mulai jahil. Lempar uang receh, memanggilku 'Bebek', mengejek, dan lain sebagainya. Berbeda 180 derajat sebelumnya yang awalnya dibercandain malah marah. Namun, aku juga berubah 180 derajat menurutmu, kan? Awalnya ramah mulai sinis. Awalnya sering bercanda sekarang malah marah kalau dibercandain.

Namun, kamu luar biasa. Mau berubah sebanyak apapun aku, aku tetap sahabat bagimu.

Inilah akhirnya. Allah menilai perubahanmu, Sahabatku, seperti dahulu aku menilai perubahanmu ketika kamu bertanya padaku. Allah benar-benar sayang padamu dan bodohnya kita semua lupa manusia bisa berubah lebih baik.

Besok, kelak, kamu akan menerima pesan dariku lagi. Semoga pesan itu kukirim dari belahan dunia yang lain, dengan namamu di sana, kutulis besar-besar. Sekaligus satu kata yang selalu kamu ingin aku mendengarnya, "Sahabatku."

Jika kamu bertanya padaku lagi apa perubahanmu, kamu mau tahu jawabanku? Perubahanmu banyak. Dari awalnya kaku mulai banyak senyum. Dari awalnya emosian menjadi yang paling sabar. Dari awalnya pesimis menjadi optimistis.

Ingat satu hal: tiada satu hari pun dalam hidupku tanpa mengingatmu. Selalu dan selamanya.


Salam hangat dari bumi yang dulu kita pijaki bersama,
Anissa Antania Hanjani



Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...