Langsung ke konten utama

Hidup Itu Sederhana

"Hidup itu sederhana, jika kita memandangnya sederhana..."

Hari ini edisi pelajaran kebijaksanaan hidup, ya? Kebetulan hari ini ketika pengambilan rapor mid semester, aku mengobrol dengan Mr. Izz tentang banyak hal, salah satunya kalimat di atas. 

Aku tersenyum mendengarnya. Hidup itu sederhana jika kita memandangnya sederhana.

Semua orang jika ditanya apa tujuan akhir hidupnya yaa...mereka akan menjawabnya dengan beraneka macam. Mungkin menjadi orang kaya, lalu beristri atau bersuami yang fisiknya di atas standar, anak-anak yang pintar dan lucu, dan...hidup bahagia selamanya.

Sungguh itu sebuah fairytale yang...aneh. Bermimpi menjadi orang kaya, well...kurasa ada baiknya kita sedikit realistis juga. Tidak selamanya orang kaya itu bahagia, kan? Mereka dilanda kekhawatiran atas hartanya, takut dicuri atau berkurang (jika mereka tidak semeleh). Kadang mereka diincar karena hartanya. Bisa jadi dikhianati juga karena hartanya. 

Pasangan berwajah di atas standar pun...well, sebagian besar orang akan menganggap itu karunia besar dari Tuhan. Namun...bagi yang lain tidak juga. 

Anak-anak yang pintar dan lucu pun begitu.

Entahlah, aku hanya berpikir bahwa...apapun yang Tuhan karuniakan kepada kita, apapun itu, hal itu pastinya istimewa. Karena Dia tahu bahwa kita sanggup dititipi apa yang jadi titipan-Nya. Tuhan Maha Realistis dan Maha Bijak, Dia benar-benar tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

Pepatah mengatakan, rumput tetangga selalu lebih hijau. Tidak juga, menurut Tuhan kurasa begitu. Terkadang rumput kita sendiri lebih hijau, hanya saja karena kita terlalu asyik memerhatikan rumput tetangga, kita tak pernah menyadarinya.

Ingatlah, pandang hidup itu sederhana, maka kita akan dapati betapa hidup itu sesungguhnya benar-benar sederhana.




Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

True Self

Minggu, 15 Oktober 2017 "...sebenarnya banyak sih yang ngomongin kamu di belakang waktu itu, tapi aku juga nggak suka kamu di-judge seenaknya gitu,". "...". "Waktu terakhir main ke sana sih guru-guru juga pada bilang, 'Antania sekarang berubah banget setelah masuk HI,',". "..." * * * Selasa, 5 Desember 2017 "Aku pergi dulu ya ke rumah Ayu!" sahutku dari pintu belakang. "Aku ambil sendiri uang sakunya,". Ini adalah minggu-minggu ujian semester. Aku dan Ayu memutuskan untuk sering belajar bareng. Aku bukan tipikal orang yang biasa belajar di rumah, sih. Beuh, yang ada malah tidur aku kalau di rumah. Meja belajar sama kasur jaraknya cuma dua langkah. Aku menatap kontak WhatsApp-ku sebelum berangkat dan tertegun melihat beberapa kontak yang hilang dari daftar, lalu memutuskan kembali ke kamar sebentar untuk mengecek nomor yang perlu ditambahkan. Ah, aku baru saja ganti HP dan nomornya y...