Langsung ke konten utama

Special Edition: ABBS Teachers! (2)

Mau lanjut aja sih dari special edition yang sebelumnya juga, berhubung ada yang minta juga. Oke deh, let's begin.

Kalo ada guru yang akhir-akhir ini jadi lebih dekat sama aku, itu ada. Miss Anis. Selain aku les sama beliau (sekaligus curcol, hihi...), beliau juga enak kalau diajak bercanda. Miss Anis masuk waktu aku kelas XI semester pertama, micro teaching di kelasku juga pas itu. Beliau masuk gantiin Miss Ana, guru Matematika yang sebelumnya. Biasanya kalau aku ke kantor guru lantai bawah, ngepasin Mrs. Iffah lagi nonton drama Korea, Miss Anis juga ikutan. Aku melongo aja liatnya, ngebayangin kalo aja di saat ini aku duduk di kantor guru sekolah negeri kayak di SMP-ku dulu, pemandangan seperti ini adalah yang paling jarang dijumpai. Kan gurunya udah berumur semua. Sometimes hal-hal kecil kayak gini buat aku bersyukur masuk ABBS, karena guru-guru yang masih muda jadi mereka bisa dengan gampang mengikuti dunia kita, mengawasi kita juga.

Next, Mrs. Iffah. Dulu jadi wali kelasku pas kelas XI. Kangen kalo pas pagi-pagi Mrs. Iffah nertibin kita semua, "Antaniaa...duduk di tempatmu!", "Selvi! Kembali ke tempat duduk!", blablabla and so on gitu deh. Kalo tau ada dari kita yang belum sarapan, Mrs. Iffah pasti nyuruh kita sarapan dulu. Beliau menikah waktu kita kelas X semester dua, terus akhirnya melahirkan pas kita kelas XI semester dua, lebih tepatnya pas akhir tahun dan alhamdulillah pelajaran bahasa Indonesia udah selesai semua materinya. Beliau juga yang ngasih kita project akhir tahun bikin film dan jadi deh itu yang paling bagus punyanya anak kelas Yunus yang 'Di Balik Tata Tertib' itu. Kelas kita sendiri ga jadi filmya -_- kamera rusak, pokoknya banyak kendala pas itu.

Kalo ada guru yang kalimat-kalimatnya bikin baper, ada kok. Miss Wochy. Bawa perasaan banget kalimatnya atau mungkin imajinasiku yang bikin aku sendiri baper kali ya :v haha...gitu deh pokoknya. Beliau kali ini yang menjadi semacam tim sukses UN buat kelas XII, mungkin soalnya beliau juga wali kelas XII Sumayyah. The thing yang paling menonjol dari beliau itu...English-nya yang super British. Iya, British. Gara-gara beliau aku sekarang juga pake British, soalnya keliatan lebih murni gimana gitu English-nya. Lagian pengucapan can't itu lebih jelas kalo di British, yang American ribet musti pasang kuping jelas-jelas buat bisa bedain itu can atau can't. Oh ya, yang bikin ngiri sih...Miss Wochy hobi mampir ke Perpustakaan Ganesha. Dari dulu pingin ke sana gara-gara ceritanya Miss Wochy tapi belum bisa -_-.

Then, Miss Nia. Beliau ini lulusan Gontor. Keren deh, pokoknya. Pada awal pelajaran beliau biasanya ngabsen kita satu-satu, entah itu sekedar ngabsen, dibagiin ulangannya, atau kuis dadakan. Kadang cuma bisa melongo kalo beliau lagi ngomong pake bahasa Arab, berusaha ngerti kalimatnya gitu. Sekarang beliau lagi nyelesaiin tesis juga di bidang ekonomi syariah, lagi penelitian tentang metode syariah yang diterapkan oleh pedagang-pedagang Cina, jadi objek penelitian beliau itu Cina muslim gitu deh. Ganbatte!!

Maybe udahan dulu kali ya? Ntar disambung lagi kapan-kapan.






Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...