Langsung ke konten utama

Moving On, Moving On

Sabtu malam kali ini kuhabiskan di kampung halaman tercinta yang baru kutinggalkan sekitar seminggu lebih. Aku juga baru selesai ujian. Segala sesuatu baru saja selesai. Tinggal menunggu hari Senin untuk menjalani aktivitas-aktivitas baru di sekolah yang sudah aku rindukan lama sekali. Pelajaran-pelajaran, mentoring, ekstra, kegiatan seni budaya. 

Sabtu malam. 

Aku heran kenapa waktu itu selalu diidentikkan dengan apel pacar trus keluar dan kencan. Kenapa ya? Siapa yang memulai tradisi ini? Padahal orang jaman dulu saja nggak berani apel pacar trus ngajak keluar, bisa kena amuk orangtua gadisnya. And well, mereka yang punya pacar bisa seenaknya ngejek yang single, lalu membanggakan pacarnya di media sosial.

It's disgusting. Aku juga bukan tipe orang yang bakalan mupeng banget kalau ada yang pamer kemesraan di media sosial. Sebaliknya, hanya ada rasa jijik. Kasarnya mungkin aku bakalan bilang, "Dih, murahan banget," tapi cukup di dalam hati. 

Ada sebuah meme yang menggambarkan perasaanku dengan lebih tepat. Yah, hanya tulisan dan sedikit gambar, tapi tulisannya pas dengan apa yang kupikirkan. Isinya kira-kira begini, 'Situ bangga punya mantan banyak? Lo laku atau murahan?'

Kuakui dulu aku memang pernah pacaran. But it's just for only once in my life time dan itu pun long distance relationship. Sekali seumur hidupku, setelah itu aku nggak mau pacaran lagi sama siapa pun di muka bumi ini. Aku trauma. And after several times, exactly when I have studied in my great senior high school, aku mendapatkan pembenaran atas apa yang kuputuskan. Iya ya, pacaran haram. Iya ya, jadi cewek ga boleh murahan. Al Isra' ayat 32 menjelaskan kita tidak boleh mendekati zina. Pacaran adalah salah satu bentuk pendekatan kepada zina. Apa nggak sedikit sih yang awal mulanya cuma pacaran, cuma saling bilang sayang, cuma pegangan tangan, cuma pelukan, pada akhirnya harus married by accident? And itu dimulai dari kata 'cuma'. Karena meremehkan hal yang boleh jadi...yah, begitulah.

Sabtu malam. Remaja yang baru saja putus cinta atau gagal move on dari mantannya nyetatus ria di Facebook, saling ngode satu sama lain. Itu juga nggak kalah menjijikkannya, tapi lebih sering membuatku tertawa dibanding jijik. T-e-r-t-a-w-a. Iya, karena aku teringat pada apa yang Mama sering katakan kepadaku. Cowok dan cewek itu ditebar di seluruh dunia ini and please, why do you just see her / him? Apalagi parahnya mereka belum halal satu sama lain atau bahasa yang lebih tepat menjelaskannya adalah belum menikah. Belum terikat secara resmi oleh agama. 

Ya ampun, batinku. Ada begitu banyak manusia yang hidup di muka bumi ini. Kalau sudah menikah I think it's okay if he / she can't forget her / his mate. But, kalau yang belum? Ampun, ada begitu banyak cara untuk jatuh cinta lagi dan dia memilih buat nungguin yang nggak jelas untuk melanjutkan hubungan yang sama nggak jelasnya. Pacaran lagi, mesra-mesraan lagi.

Yah, kembali ke pertanyaanku tadi. Siapa yang memulai tradisi ini? Entah. Namun entah kenapa ingin kusalahkan televisi atas seluruh kejadian nggak jelas ini. Remaja diajari bahwa keren itu berarti harus punya kendaraan merk Jaguar atau Kawasaki Ninja. Remaja diajari bahwa gaul itu berarti harus berpesta. Remaja diajari bahwa pasangan idaman itu yang cakep, putih, tajir, dan lain sebagainya. Remaja diajari bahwa tanda ganteng atau cantiknya seseorang itu dilihat dari seberapa banyak mantan yang dia punya.

Dunia ini sudah gila.

Aku nggak heran kalau nanti kulihat anak-anak bakalan mengalami pubertas yang amat cepat kalau setiap hari disuguhi tontonan sampah yang berisi kehidupan hedonis dan hura-hura sebagai pembenaran atas sebuah pepatah bahwa muda itu foya-foya, tua nantinya kaya raya, mati tenang aja ntar masuk surga. Pacaran, berpesta, pamer kendaraan, pamer harta kekayaan, dan lain sebagainya.

Sungguh dunia ini sudah gila.

Sudahlah. Moving on, moving on.







Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...