Langsung ke konten utama

Introduction

Hidup itu bagai melewati ombak di lautan. Itu sungguh benar adanya.

Ini hampir dua bulan lebih sahabatku tiada, tetapi Dia tidak membiarkanku sendiri. Aku tetap tertawa, tersenyum ceria. Hari-hariku perlahan berubah. Ombak itu semakin tenang, tenang, dan akhirnya lautan kembali terlihat bersahabat bagiku. Setenang kehidupanku kini.

Aku dapat teman baru, kurasa. Duh, tidak menyangka. Aku jarang bicara dengannya, dialah yang memulai perkenalan itu duluan. Meski faktanya aku tahu namanya dan dia tahu namaku. Kami sebatas itu dulu.

Kami memang tidak banyak bicara sih, saat bertemu. Namun, di chat, kami banyak tertawa. Bersaing, lebih tepatnya. Nilai bahasa Inggris kami sama-sama baiknya. Try out terakhir, aku peringkat pertama, dia kedua, dengan selisih dua poin. Tipis sekali. Kami sama-sama bertekad akan mengalahkan satu sama lain dan meraih nilai 100 saat UN nanti.

Lucu. Pertama, kuingat dia adalah "psikopat". Sejenis itu lah. Habis dia aneh, mengatakan hal-hal semacam potong tangan atau itu lah. Sering bawa pisau ke sekolah, hihi...ternyata buat kupas buah. Dia bawa kabel rol sendiri juga, kelas kami pernah pinjam. Wah, sebenarnya dia bawa apa ya pas ke sekolah?

Dunno, but I know that it's funny to start it again, hm?




Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...