Hidup itu bagai melewati ombak di lautan. Itu sungguh benar adanya.
Ini hampir dua bulan lebih sahabatku tiada, tetapi Dia tidak membiarkanku sendiri. Aku tetap tertawa, tersenyum ceria. Hari-hariku perlahan berubah. Ombak itu semakin tenang, tenang, dan akhirnya lautan kembali terlihat bersahabat bagiku. Setenang kehidupanku kini.
Aku dapat teman baru, kurasa. Duh, tidak menyangka. Aku jarang bicara dengannya, dialah yang memulai perkenalan itu duluan. Meski faktanya aku tahu namanya dan dia tahu namaku. Kami sebatas itu dulu.
Kami memang tidak banyak bicara sih, saat bertemu. Namun, di chat, kami banyak tertawa. Bersaing, lebih tepatnya. Nilai bahasa Inggris kami sama-sama baiknya. Try out terakhir, aku peringkat pertama, dia kedua, dengan selisih dua poin. Tipis sekali. Kami sama-sama bertekad akan mengalahkan satu sama lain dan meraih nilai 100 saat UN nanti.
Lucu. Pertama, kuingat dia adalah "psikopat". Sejenis itu lah. Habis dia aneh, mengatakan hal-hal semacam potong tangan atau itu lah. Sering bawa pisau ke sekolah, hihi...ternyata buat kupas buah. Dia bawa kabel rol sendiri juga, kelas kami pernah pinjam. Wah, sebenarnya dia bawa apa ya pas ke sekolah?
Dunno, but I know that it's funny to start it again, hm?
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar