Langsung ke konten utama

Spare Time

Jumat adalah waktu terluangku dalam seminggu ini. Jumat kemarin terutama. Setelah kuliah bahasa Indonesia, aku ikutan mengecat sekre, lalu pergi ke minimarket dengan motornya Faifda.

Dengan motor?

Yup. Aku diam-diam tanpa sepengetahuan Mama dan Papa nekat meminjam motor teman lalu meluncur ke jalanan Tembalang yang padatnya bukan main. Pertama kali melakukannya pas Pemira dulu, aku memamerkannya ke semua orang. Termasuk ke Mas Jadug yang tahu banget masalahku ini.

"Mas Jadug,"
"Hm?"
"Aku mau pamer,"
"Apa?"
"Aku udah dua kali bawa motor sendiri tadi,"

Khasnya Mas Jadug, dia menepuk dadanya setelah aku mengatakan itu. "Akhirnya ya," katanya.

"Emang kenapa, sih?" tanya Mbak Patria yang saat itu kebetulan sedang duduk di depannya.

"Itu tuh kemajuan besar buat dia," jawab Mas Jadug.

Saat meminjam motor itu, aku belajar banyak hal. Teknik parkir, mengeluarkan motor, menyeberang jalan, memutari bundaran, putar balik, pokoknya banyak banget yang kupelajari. Jujur aja, malah aku lebih senang begini. Di rumah mah mana bisa aku belajar teknik parkir. Aku merasakan asiknya bawa motor itu bukan pas latihan sendiri di jalanan dekat rumah, tapi ya malah di Tembalang itu.

Kembali ke cerita. Tujuanku ke minimarket adalah beli sesuatu buat menjenguk Dito yang kena tifus. Karena aku bingung orang tifus harus makan apa, aku akhirnya beli larutan penyegar dua botol. Di angkatanku, ada dua orang yang sedang opname: Fatin dan Dito. Fatin...aku yakin dia udah banyak yang jengukin, sementara Dito mungkin belum banyak yang datang. Lagipula, aku sekelas dengan Dito. Dia akhirnya kuprioritaskan untuk kujenguk duluan.

Saat di rumah sakit, kami ngobrol macam-macam. Aku mengerti dari sudut pandangnya, aku terlalu sibuk sampai mengabaikan waktuku untuk ngumpul dengan anak angkatan. Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin kukatakan kepadanya. Bukan karena aku nggak mau ngumpul sama anak-anak angkatan, tetapi aku punya pertimbangan sendiri di balik layar yang nggak bisa kujelasin ke dia. 

Namun, aku berterima kasih sejujurnya dengan Dito. At least, aku tahu pandangan orang bagaimana tentangku. 



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...