Waktu-waktu ketika on the way pulang kuliah adalah waktu yang paling kusuka. Aku bisa memikirkan kejadian hari ini, berpikir besok harus apa, dan menatap langit, entah itu mendung maupun cerah. Ketika aku duduk di atas kendaraan, pikiranku benar-benar liar. Kubiarkan saja, selama itu tidak memikirkan hal yang aneh, termasuk di dalamnya adalah tentang percintaan.
Baru kemarin aku ditelepon Mr. Izz, guru yang selalu jadi favoritku di masa SMA. Mr. Ajung mengundangku untuk datang ke Solo besok Sabtu untuk jadi motivator bagi adik-adik kelasku di SMA dan setiap universitas ada delegasinya. Itu kabar baik tentunya bagiku dan Mr. Izz.
"Aku kangeennn...banget, Sir," kataku di telepon.
"Sama, saya juga kangen kamu,"
Sudah entah berapa bulan kami tidak saling komunikasi dan bertukar pikiran. Dulu di SMA aku dan Mr. Izz selalu sepaket. Kami biasa duduk di jam istirahat dan berdiskusi panjang lebar, entah itu tentang Tuhan, negara, agama, moralitas, dan lain sebagainya.
Di telepon, aku curhat macam-macam kepada sosok guru yang sudah kuanggap ayahku ini. Aku gabung organisasi eksternal, banyak kegiatan, pulang malam, dan lain sebagainya.
"Yaa...seperti itulah mahasiswa, apalagi jadi aktivis," tanggap beliau. "Saya rasa bekalmu dari SMA sudah cukup, kok. Kamu sudah siap menghadapi dunia perkuliahan. Welcome to the life,"
"Welcome to the jungle," Aku tertawa. "Oh, Sir. Aku juga udah bisa bawa motor, kok. Belum dibolehin sih kalau dari Ungaran, tapi sesekali aku minjem motor teman,"
"Bagus. Demi KAMMI?" tanya beliau.
"Demi KAMMI," jawabku dengan tawa, tetapi mantap. Memang itu yang jadi niatanku untuk nekat bawa motor teman kalau di rumah udah nggak sempat latihan.
* * *
Ketika merenung kembali dalam perjalanan pulang dari kampus, pikiranku kembali melayang tinggi. Aku berpikir kira-kira sudah adakah hal yang kulakukan untuk dakwah? Bukankah visiku ke depan adalah dakwah dalam politik?
Mungkin jika ada yang sedikit berubah dariku...aku mulai berani menentang apa yang bagiku nggak tepat. Dulu, aku orang yang ikut-ikutan atau bahkan memilih diam jika sudah punya pilihan. Namun, entah kenapa sejak Pemira, aku kembali mempertimbangkan ulang sikapku yang terkadang cenderung apatis.
Akhirnya, aku mulai melakukan satu dari sekian langkah besar dalam hidup (bagiku): menentang. Ketika Senin kemarin ada pelajaran politik dan dibahas mengenai aksi 4 November, aku bersuara, "Sebenarnya partai-partai Islam itu masuk ke dalam perpolitikan bukan karena ingin membuat Indonesia menjadi negara Islam, tetapi memasukkan nilai-nilai islami ke dalam kehidupan demokrasi di Indonesia. Saya sering bedakan antara kata Islam dan islami. Sebab, saya yakin nilai-nilai islami di agama lain itu sebenarnya ada, termasuk dalam "kakak"-nya Islam, yaitu Kristen dan Katolik,"
Bodo amat nilaiku nanti C, yang penting aku harus bersuara. Setiap kelas, setiap diskusi, adalah kesempatan memasukkan nilai-nilai Islam, batinku saat itu.
Ada satu hal lagi yang masih mengganjal. Keteladanan. Aku...sebenarnya kecewa dengan beberapa orang, tetapi bukan berarti aku menyerah. Apa masalahnya kalau aku yang masih junior dan maba mengingatkan mereka? Aku hanya ingin siapa pun yang memegang tampuk kekuasaan kelak adalah mereka yang juga mewakili Islam. Setiap muslim membawa Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka, tak terkecuali ketika mereka jadi pemimpin dan bergaul dengan yang lainnya. Keteladanan, itulah kunci utama.
Dan tugasku...satu-satunya kontribusi yang bisa kulakukan adalah mengingatkan.
Dear Anissa,
Hamasah!
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar