Langsung ke konten utama

Hello, November

Selamat pagi, November.

Aku kesal karena banyak hal terjadi ketika aku tidak ada. Jadi, setelah hari-hari melelahkan di mana aku harus memperbaiki berkas, membuat surat perijinan (yang pas melobinya ke fakultas aku sampai memohon-mohon sekali, untung ada Mas Muslim), dan menulis berita acara yang berhubungan dengan Pemira FISIP, aku memutuskan untuk mengikuti kuliah lagi. Udah kayak lama banget nggak masuk kelas. Aku udah membolos beberapa mata kuliah satu-dua kali gara-gara Pemira, sebaiknya aku harus mengejar ketertinggalanku.

Rabu kemarin mata kuliahnya politik. Wah, favoritku sekali. Sayangnya, kelasnya sepi dan kormatnya lagi ikutan International Relations Visit di Jakarta, jadi dosen menunjukku sebagai pencatat keaktifan kelas. Agaknya yang membuatku gemas sekaligus sebal adalah keaktifan di kelas entah mengapa berkurang, sehingga berkali-kali aku harus mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan dosen. Hari itu aku dan Alifa juga presentasi mengenai hubungan politik dengan ilmu pengetahuan lainnya, lagi-lagi ini karena belum ada yang menyiapkan presentasi selain kelompokku. 

Parahnya, ketika aku tinggal kuliah, baru masuk pesan Mas Wanda di LINE, 'Nis, kamu udah bikin surat undangan buat Wakil Dekan I buat ngasih sambutan kampanye besok? Sama surat ijin tidak mengikuti kuliah buat calon senator dan BEM,'. Ya Allah, batinku. Ini kenapa nggak dibilangin tadi pagi? Siang-sore ini aku ada kelas. Mana sempat. Dan...surat ijin tidak mengikuti kuliah? Mas Muslim kemarin bilang bahwa kita berhak memberikan surat ijin tidak mengikuti kuliah karena tiga hal. Pertama, lomba mewakili universitas. Kedua (ini tambahan dariku sendiri), ketika kita menyelenggarakan acara besar yang bekerja sama dengan jajaran dekanat dan dosen seperti ICISPE September lalu. Ketiga, ketika sakit dan harus menjalani rawat inap. Surat ijin itu tidak memenuhi tiga kriteria tersebut, duh.

Maka, hal yang terjadi adalah ketika aku mengikuti mata kuliah kealaman dasar, aku tampak lesu.

"Nis," panggil Ayu yang duduk di sebelahku.

"Hm? Kenapa?" 

"Kamu mau ngajarin aku politik?" tanyanya.

"Mau aja. Kapan?"

"Sebisamu, deh!"

"Habis tanggal 10 gimana?" tawarku. Jadwalku baru benar-benar kosong ketika Pemira sudah selesai, sih. Seriously, ini aku kebanyakan agenda, deh.

"Lama banget. Sabtu besok gimana?"

"Ya udah, gapapa,"

"Kamu lagi nggak mood kuliah ya? Tumben," tanya Ayu.

"Nggak," jawabku. "Aku disuruh bikin surat undangan padahal lagi kelas. Nggak bisa lah. Dari tadi aku kepikiran terus,"

Lain kali aku harus cari jalan pintas lagi, batinku.

Sorenya, aku ngobrol dengan Yomi yang agak "memaksaku" untuk menemaninya menunggu latihan tari tradisional di lobi. Aku berkenalan dengan Mbak Iko dan Mbak Utari, anak HI angkatan 2014.

"Anissa Antania, right? The one and only sekretaris EC," kata Mbak Utari.

"Kok tahu sih, padahal aku belum ngomong," ujarku geli. Sejujurnya aku nggak terlalu suka dibilang begitu, kerjaanku belum bener.

"Kan udah kesebar di OA," timpal Yomi.

"No, no, even I know you before Pemira. You're viral," kata Mbak Utari lagi.

"Hah?" Aku bingung. Have no clue.

"Iya, nih. Hits Undip," timpal Yomi.

Ketika beranjak pulang, aku menanyakannya. "What do you mean about that viral word?"

"Well, some of my friends talked about you. But, I never meet you personally. Not really bad. But just, well, you need to make a good vibe. It's okay. Don't think about that," 

Aneh, batinku. Aku jarang membicarakan kakak-kakak tingkatku di HI dan jarang kumpul juga bareng mereka. Apalagi yang angkatan 2014, aku kenal hanya Mas Kevin, Mas Jadug, Mas Muslim, Bang Tio, dan lainnya. Apa maksudnya dengan...viral? Hh, padahal aku lebih sering kumpul sama teman-teman FKMM ketimbang HI akhir-akhir ini. Aku bukan tipe yang suka keluar-keluar buat jalan atau nongkrong soalnya.

* * *

Kesibukan ini sebenarnya membuatku kangen masa-masa aku jadi mahasiswi biasa, belum ada embel-embel anak KAMMI. Belajar di perpus, ngerjain tugas, ngobrol sama teman-teman. Waktuku untuk melakukan aktivitas tersebut berkurang drastis. 

Aku kangen juga jadi anak SMA. Asyik ya.

Namun, kusadari satu hal. Ujianku naik satu tahapan. Dulu selama di SMA biasanya aku hanya memegang divisi, sekarang masuk jadi BPH dengan menjabat sekretaris. Aku sempat curhat sama Miss Wochy karena takut. Aku masih melakukan banyak kesalahan sehingga teman-teman setim menanggung apa yang kuperbuat, pertama kalinya bekerja di bawah tekanan yang sering kali bikin aku hampir nangis, dan ketidaktahuanku membuat banyak orang kena masalah. 

Nggak apa-apa, kan masih belajar. Nanti kalau sudah lama, pasti semakin oke.

"...justru ketidaklancaran itu yang banyak pembelajarannya, Nis. Nggak apa-apa. Apalagi kamu masih maba langsung tahu bagaimana birokrasi di fakultas, kan?" kata Mas Muslim ketika aku melakukan kesalahan sampai aku harus membuat surat pernyataan yang harus ditandatangani dan dicap Mas Wanda dan Mas Galang.

Posso farle, diriku! Ganbarimasu.



Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...