Langsung ke konten utama

Kepada Pegiat Sosial Humaniora

Teruntuk remaja seusiaku yang memilih ilmu paling dinamis.

Manusia itu objek penelitian yang lebih unik, itulah yang selalu jadi alasan mendasar mengapa aku memilih menggeluti IPS ketimbang IPA. Daripada sesuatu yang pasti, aku lebih condong untuk menyukai sesuatu yang bisa memiliki beragam jawaban dari satu pertanyaan saja. Alam mudah ditebak dan aku selalu salah tebak dalam memahami alam. Manusia dan tingkah lakunya lebih menarik bagiku. Terkadang, aku mengamati teman-temanku sebagai objek persoalan yang harus dipecahkan jawabannya. Itu menyenangkan.

Ya, sebab dengan meneliti manusia sebagai objek, kita akan menemukan berbagai jawaban dari beragam sudut pandang. Kita diajar untuk berpikir terbuka. Tidak selamanya satu ditambah satu sama dengan dua dalam sudut pandang IPS. Bisa jadi jawabannya tiga, empat, lima, dan seterusnya. Seru, bukan? Manusia bukanlah alam raya yang bisa diprediksi kejadian-kejadiannya. Dengan akalnya, manusia bisa menciptakan lingkungan sosial baru yang bahkan tidak disangka-sangka.

Siapa sangka negara-negara Eropa yang dahulu kala berdiri atas kedaulatannya masing-masing pada akhirnya melebur jadi satu di bawah naungan Uni Eropa?

Bagaimana bisa Karl Marx dan Vladimir Lenin memiliki dua sudut pandang berbeda meski ideologi mereka sama?

Bagaimana bisa Emile Durkheim memiliki pandangan yang berbeda dengan Karl Marx dalam melihat penyebab terjadinya perbedaan kelas dalam masyarakat?

Mengapa Aristoteles yang juga muridnya Plato memiliki cara pandang tentang jiwa berbeda dari gurunya itu?

Menarik, bukan? Satu permasalahan sederhana saja jawabannya bisa beragam. 

Oleh karena itu, pesanku, teruslah belajar dan membaca. Be non-obvious and be open-minded! Bukankah menyenangkan meneliti manusia yang dinamis dan sulit ditebak karena karunia Tuhan yang berupa akal? Manusia hidup di tempat yang berbeda, dengan latar belakang yang berbeda, keluarga yang berbeda, pengalaman yang berbeda, masyarakat yang berbeda, tentunya ini menjadi alasan mengapa satu permasalahan sederhana menjadi beragam jawaban dalam sosial humaniora. Oleh karenanya, kita harus semakin banyak membaca dan memahami.

Jadi, bersemangatlah! 



Yours,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...