Kau tahu bagaimana perasaan seekor burung ketika kembali ke habitatnya setelah sekian lama berada di sangkar? Dia bebas, terus mengepakkan sayapnya, dan melayang ke udara.
Itu juga perasaanku sekarang. Dua tahun aku menahan diri tidak bicara, setelah akhirnya terbebas, kemerdekaanku kembali. Cita-citaku seakan tergambar jelas di angan. Zutto, zutto, zutto, aku memanfaatkan kebebasanku berpendapat. Lega.
Bertemu dengan teman-teman baru adalah sebuah kesyukuran yang tiada tara bagiku setelah sekian lama melihat satu lingkungan saja. Aku tersenyum mendapati bahwa warna yang kulihat benar-benar abstrak, berbeda satu sama lain, saling berbenturan, tetapi membaur juga pada akhirnya. Ada yang marxist, sekuler, agamis, nasionalis, dan lain sebagainya. Aku lega sekali melihatnya.
Aku tahu dan pernah menyatakan bahwa jika kita terkotakkan, maka bukalah kotaknya, bukan menghilangkannya. Namun, dalam suatu kasus, ada saatnya di mana kita benar-benar terpaksa menghilangkan kotak tersebut. Anggaplah seperti kotak virus, ketika kotak-kotak yang lain saling membuka dan membaur, ia menghancurkannya. Dia kotak yang aneh.
Pada kasus tersebut, kotak itu terpaksa harus dihilangkan. Benar.
Ada segelintir orang yang tidak bisa menerima perbedaan dan ada orang yang telanjur termakan isu orang jahat yang memang benci persatuan. Ada. Di saat seperti ini, menurutku, pertemukanlah kesalahan logikanya, itu satu-satunya cara menghilangkan kotak tersebut secara manusiawi. Jadilah kotak antibodi yang menolak kotak virus tersebut dengan terus membuka literasi, berdiskusi, mendalami berbagai disiplin ilmu, dan lainnya. Ini benar-benar terpaksa harus dilakukan, jika tidak satu kotak virus kecil ini akan mengacaukan semuanya. Seisi dunia.
Kali ini, ya, maafkanlah aku yang terpaksa menjadi seseorang yang terlihat benar sendiri, sombong, dan lainnya. Aku harus mempertemukan titik di mana kalian mengalami kesalahan logika yang membuat pemikiran-pemikiran seperti itu dicecar banyak orang. Kau tahu, aku bertemu banyak orang dari lintas pergerakan, lintas organisasi, lintas pemikiran, lintas ideologi, tetapi aku selalu bisa menemukan persamaan yang kami sepakati bersama untuk terus kami angkat, bukannya membahas perbedaan. Aku tak bisa menemukannya dalam diri kalian.
Kau tahu, intinya sebenarnya kalian belum bisa melihat kebaikan yang sebenarnya ingin dicapai bersama, kalian belum melihat aspirasi orang-orang tersebut, padahal kita semua menginginkan sebuah masyarakat yang harmonis dalam perbedaan. Kamu di dalam apa yang kamu yakini dan aku di dalam apa yang aku yakini. Kalian mungkin belum pernah bertemu dengan seorang berideologi marxist sehingga cap buruk komunis terus melekat. Kalian mungkin belum pernah bertemu dengan seorang sekuler yang memutuskan memisahkan kehidupannya dengan agama dan apa arti sebenarnya sekulerisme untuk orang tersebut. Kalian mungkin belum pernah bertemu dengan seorang nasionalis yang pada hakikatnya dia memperjuangkan negerinya yang harmonis sehingga terlihat menyudutkan apa yang kalian sebut "umat".
Kalian mungkin belum pernah bertemu orang-orang itu dan melihat apa persamaan kebaikan yang sedang diperjuangkan, satu dengan yang lain.
Sehingga perbedaanlah yang bagi kalian menjadi masalah besar.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar