Setiap orang pasti punya turning point masing-masing dan aku pun juga begitu, meski bodohnya terkadang aku masih saja jatuh ke tempat yang sama (aduh...malu nggak, sih?), tapi mereka nggak capek-capeknya membantuku berdiri.
Ada beberapa perubahan mencolok setelah hijrah dari Ungaran ke Solo. Aku dari awal menyadari bahwa tanpa kehadiran Mama dan Papa akan sulit buatku jika tak ada yang mengarahkan. That's why aku dekat dengan guru-guru, sesekali curhat sama mereka karena...well, mereka pernah muda, kan? (Waks, bukan berarti aku nganggep Miss dan Mister-nya udah tuaaa...maafin Antania yaa...)
Kebanyakan dari mereka adalah turning point buatku dan yang membekas ada tiga orang. Pertama Mrs. Dee, kedua Mr. Izz, ketiga Mr. Dimas.
Mrs. Dee buatku berarti banyak dan I'll always miss her very much. Aku sering main ke kantor kepsek saat beliau masih menjabat dan well, buatku beliaulah yang membuat kesan kantor kepsek jadi lebih baik di mataku, soalnya tempat itu horor buatku selama aku belajar di sekolah negeri. Biasanya di sana kami ngobrol banyak dan beliau berbaik hati memberiku majalah Saudi Aramco. Beliau turning point yang pertama buatku.
Dulu aku anak bandel (bukannya sampai sekarang?). Kelas X selama pelajaran kerjaanku hanya tidur dan karena itu aku dijuluki sleeping beauty. Namun baiknya guru-guru ABBS itu beliau-beliau masih mau menerangkan ulang pelajarannya kepadaku. Sebenarnya ada alasannya, sih. Aku kecewa nggak ada peminatan IPS dan itu baru diumumin pas awwalusanah, jadilah aku bandel dan nggak mau belajar, mentang-mentang nggak bisa IPA. Suatu hari beliau memanggilku, menegurku, dan agak sedikit "mengancam" kalau aku nggak serius selama di sini beasiswaku bakalan dicabut.
Deg! Pas dengerin itu, segera aku berubah. Agak terlambat sih karena itu pas UAS 1 kelas X sehingga alhasil raporku jeblok juga meski nilai UAS-ku naik-naik. Bahkan Kimia yang biasanya nggak ada cerita dapat bagus tahu-tahu dapat sembilan.
Start from that time, aku berusaha serius, meski ntar juga ketiduran di kelas.
Mr. Izz adalah turning point kedua, meski awal perkenalanku dengan beliau sama sekali tidak baik. Aku menganggap Mr. Izz bukan guru yang asyik sementara Mr. Izz ketika melihatku pertama kali berpikir bahwa aku gadis yang judesnya bukan main (yaaaa...iya, dulu aku judes banget). Akhirnya kelas X semester dua, ketika Mr. Izz jadi guru English P di kelasku buat pertama kalinya, kami mulai ngobrol. Nyambung deh, akhirnya.
But, sebenarnya bukan itu yang membuat Mr. Izz membekas jadi turning point buatku.
Suatu hari di hari Rabu, tanggal berapa, aku lupa deh, aku pulang dengan wajah yang sumpah itu super duper nggak ngenakin buat dilihat. Udah kucel, ketekuk-tekuk pula. Nah, saat sampai di pintu depan ABBS aku papasan sama beliau.
"Kamu kenapa? Mau pulang kok wajahnya kayak gitu?" tanya beliau.
"No, it's nothing," jawabku.
"Mau cerita? Di kantor aja yuk,"
Akhirnya segala apa yang lagi aku pendam hari itu tumpah ruah di kantor guru sampai aku nangis (serius deh, aku nangis), tapi untungnya waktu itu kan pada pulang, jadi sepi. Still, beliau sabar banget dengerin apa yang lagi aku pikirin. Akhirnya setelah puas cerita dan selesai menjelaskan, beliau bilang, "Ini pertama kali saya bertemu orang sepertimu. Serius, ini pertama kalinya buat saya,"
Kenapa? Ada deh, ntar aku ceritain kalau nanya langsung. Intinya beliau support aku banget hari itu dan akhirnya aku pulang ke boarding dengan raut wajah yang lebih baik.
Cerita itu sampai sekarang masih membekas banget.
Lain Mr. Izz, lain pula Mr. Dimas. Perkenalan awalnya juga sama-sama tidak menyenangkannya, itu persamaan beliau berdua buatku. Aku bukan tipe orang yang suka disuruh diam di kelas, tapi beliau melakukannya. Itulah alasan kenapa awalnya aku asal judge aja. Namun, emang dasar anak remaja, sama seperti ceritanya Mr. Izz, pada akhirnya aku tarik semua judgement yang kulontarkan.
Sampai sekarang beliau yang bolak-balik mengoreksi essay yang bakalan aku kirim.
Hal yang membuat beliau jadi turning point adalah ketika suatu hari aku udah ngerasa capek nyiapin dokumen, essay, dan lain sebagainya, lalu akhirnya aku bilang, "Aku nggak mau lagi, aku capek. Aku nggak mau nyiapin lagi," beliau nggak langsung marah.
"Perjuangan ini emang berat, tapi ingat kamu nggak pernah sendirian. Ada saya, ada Mr. Izz, ada Allah,"
Kalimat itu simple, tapi pada akhirnya aku menyadari kalimat itu benar. Selama aku berjuang membuat essay, beliau nggak pernah capek "ngomel" sampai aku kenyang dan berhenti membuat kesalahan yang sama.
Well, mereka turning point-ku. Siapa turning point-mu?
Mitarashi Hana
Komentar
Posting Komentar