Langsung ke konten utama

A Piece Story: Good Bye, Grandpa...

Alhamdulillah 'ala kulli hal, hari ini masih bisa bangun pagi meski semalam tidur jam dua belas. Sama sekali nggak ngantuk, segar bugar. Setelah salat Subuh pagi ini di rumah aku lanjut tilawah Surah Al Kahfi (kan ini hari Jumat), lalu buka laptop lagi.

Malam lalu aku sibuk mendengarkan banyak orang bicara. Tamu-tamu berdatangan, menyalami kami sekeluarga, lalu duduk, dan nanti Papa Mama menceritakan bagaimana Eyang Kakung di saat-saat terakhirnya, selalu begitu. Namun setidaknya hal yang kusyukuri adalah, insya Allah, beliau pergi dalam keadaan baik. Saat-saat terakhir Eyang, kata Papa Mama, dihabiskan dengan berzikir dan bertalqin. Penyakit kankernya padahal semakin berat, sampai kaki dan tangannya lumpuh dan mati rasa. 

Cerita itu setidaknya membuatku lega. Aku terus-terusan memikirkan keadaan rumah meski di sekolah aku tampak riang gembira. 

Malam itu cerita itu terulang setidaknya sepuluh kali seiring datangnya tamu-tamu yang mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Eyang sehingga aku hafal detailnya meski badanku selama ini berada di Surakarta dan tidak ada seorang pun yang memberiku kabar detail per harinya mengenai kondisi beliau. 10 hari terakhir, kata Papa Mama lagi, semua orang sibuk menunggui beliau. Papa dan Mama bergantian menjaga sembari bekerja mengurus warung nasi kucing. 3 hari menjelang kepergian Eyang, warung ditutup. Iya, tutup, karena Eyang tahu-tahu berkata pada Mama, "Udah, tutup aja warungnya. Segera bersih-bersih rumah kalau nanti ada tamu-tamu banyak yang datang,"

Seperti sudah tahu beliau akan segera pergi.

Sehari sebelum kepergian, beliau tampak sangat segar. Cerah sekali wajahnya. Mama sempat menyuapi beliau dan membuatkan susu. Malamnya, Mama bergantian dengan Papa berjaga di rumah Eyang sampai waktu salat Subuh tiba. Lalu, Papa pamit sama Eyang untuk menunaikan salat Subuh di masjid.

Pagi ketika beliau pergi keluargaku sangat sibuk. Mama bersiap-siap ke rumah Eyang dan Papa mengantarkan adikku ke sekolahnya, SMA N 2 Ungaran. Sepulang mengantar adikku, Papa membeli bubur untuk Eyang seperti biasa. Namun begitu sampai...beliau telah berpulang. "Mungkin antara jam setengah lima sampai jam enam," ucap Papa yang pertama kali mengetahuinya. Papa segera menelepon Mama, lalu menelepon sekolahku. Mengabariku.

Bagaimana denganku? Apa yang kulakukan pagi itu?

Pagi itu aku siap-siap ke sekolah seperti biasa, melewati pagiku seperti biasa yang benar-benar ramai sekali di kamar. Sekamar dengan Selvi, Hatta, Dewi, Nita, Erni, Latifa, dan Hasna benar-benar semarak. Setiap pagi ada saja yang kami tertawakan dan seperti biasa, aku tertawa, sesekali ikut berceloteh sambil bersiap-siap ke sekolah. 

Pagi itu aku sedang mengikuti pelajaran SFUN Matematika di kelas, sedang asyik mengerjakan soal mentang-mentang falling in love sama pelajaran itu. Tiba-tiba Mbak Husna dan Imes mengetuk pintu.

"Antania, dicari Miss Lukluk!" kata mereka serempak.

Eh? Biasanya kalau dicari wali kelas artinya ada hal khusus yang akan dibicarakan. Jangan-jangan aku buat masalah, tapi masalah apa? Jangan-jangan mau bicarain nilai TO, tapi...masa' sih? Aku dapat merasakan jantungku berdetak lebih kencang ketika datang ke kantor.

"Kamu mau pulang nggak, Nduk?" tanya beliau.

Eh? Pulang? "Ya...mau saja sih, Miss, kalau pulang. Mau jenguk Eyang juga, terakhir katanya lagi kritis, tapi kan masih dua minggu lagi. Ada apa, Miss?"

"Papamu tadi telepon. Eyang nggak ada,"

Lemas sudah rasanya. Aduh Eyang, batinku. Cepat sekali perginya, kenapa pas aku nggak di sana? Badanku bergetar, syok rasanya mendengar kehilangan ketika sedang jauh dari kampung halaman. Kenapa sekarang?

Aku belum siap mendengar sebenarnya. Aku selalu berpikir bahwa nanti pasti masih ada kesempatan untuk kemoterapi dulu di rumah sakit. Pasti ada jalan. 

Namun semua perasaan itu hilang ketika kembali ke kelas dan teman-teman menghampiriku, mengucapkan bela sungkawa. Selvi segera menawarkan bantuan untuk mengantarku ke terminal. Hatta bercanda, berkata dia akan menemaniku ke sana. Beberapa yang lain memintaku tidak menangis di bus. Well, untuk bagian yang terakhir, aku tentu sudah tahu karena sebelumnya aku sudah berjanji pada Mama, ketika pertama kali dikabari Eyang mengidap kanker, bahwa nanti jika ada sesuatu yang terjadi aku tidak akan menangis di bus. 

Semua guru yang kutemui membesarkan hatiku, itu juga membuatku benar-benar terhibur. Guru-guru akhwat mengusap bahuku, mengatakan turut berbela sungkawa. Mr. Ajung berkata padaku, "Salat Duha dulu kamu, biar tenang,"

"Nggak usah, tidak apa-apa," sambung Mr. Dimas. "Kamu harus segera berangkat. Mau ngejar pemakaman, kan?"

Akhirnya aku sampai di Ungaran tepat waktu. Tepat ketika keranda Eyang sudah berada di pelataran, hendak dilepas pergi ke pemakaman. 

Aku masih terkenang, tentu saja. Pertemuan terakhirku dengan Eyang adalah saat aku hendak kembali ke Surakarta setelah mengurus dokumen-dokumen untuk mendaftar beasiswa. Eyang berkata saat itu, "Tolong ambilkan buku Yasin di laci, nah."

Aku membuka laci. Ada dua buku Yasin, yang satu warna biru, satunya lagi berwarna hijau dan terselip beberapa lembar uang di dalamnya. Aku mengambil yang biru dan kuserahkan pada beliau.

"Bukan yang ini, yang satu lagi," ujar beliau.

Aku mengambil buku hijau itu, lalu beliau berkata, "Ambil dua ratus ribu, nah. Itu buat kamu jajan di sana, ya."

"Terima kasih, Eyang," ucapku pelan.

Bagi kami semua, terutama bagiku, Eyang Kakung luar biasa. Meski usianya senja, beliau tetap bekerja dengan giat, membangun ini dan itu sendirian. Membuat lemari-lemari kayu sendirian. Mengangkut sampah dari kos-kosan sendirian. Memperbaiki ini dan itu sendirian. Tangannya sangat terampil. Rak buku yang kupakai di perpustakaan pribadiku itu juga buatan Eyang Kakung, masih awet sampai sekarang, padahal udah dari jamannya aku SD. Ketika disuruh beristirahat, beliau menolak. Ketika beliau disuruh bersenang-senang dengan hasil jerih payahnya, beliau menolak. Uang itu, menurut beliau, akan digunakan untuk membiayai kuliahku dan sepupuku. 

Terima kasih, Eyang...

Selamat jalan...

Aku akan berusaha, melakukan sesuatu, menjadi kebanggaan dan pioneer bagi keluarga besar Papa dan Mama. Melebihi kakak-kakakku sebelumnya.




Mitarashi Hana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...