Hah, stres.
Jujur saja, ini semua salahku karena keenggananku membagi masalah dengan orang lain. Takut ember bocor, itu sebab utamanya. Masalah pertama, aku lagi naksir (ini masalah besar karena bisa mengganggu perkuliahan), masalah kedua, aku dilanda dilema politik (haha, apa banget bahasanya). Udah itu aja. Kedua masalah ini enggan aku bagikan karena masalah pertama udah nyaris aja jadi ember bocor ketika aku ceritakan kepada mantan orang terdekatku. Untung aku jago masalah 'berpura-pura tidak tahu' dan 'berpura-pura baik-baik saja'. Apa yang terjadi adalah mantan orang terdekatku itu malah dikira naksir orang yang sedang kutaksir. Haha, jackpot!
Efek yang terjadi, ya, aku stres. Jujur aja, hari ini aku batal hadir di acara deklarasinya Mas Jadug dan Mas Aang sebagai calon ketua-wakil ketua BEM ya gara-gara ini. Aku lagi stres. Besok interview, besok ini, dan besok itu. Huft. Kayak kegiatanku itu nggak ada habisnya. Haha, aku sekarang paham kenapa Mas Jadug dulu pernah bilang, "Aku pusing tahu lihat jadwalmu," (Mas, mbok nyadar aku juga pusing lihat jadwalmu, humm...).
So, hari ini aku ke Semarang hanya untuk mengajar di Rumpin. Entah kenapa sih, bertemu anak-anak membuat stresku jauh berkurang. Seminggu sekali aku ke Rowosari adalah pelipur lara. Kalau udah capek dikejar deadline tugas, rapat, dan lain sebagainya, mengajar anak-anak adalah sesuatu yang bisa membuat stresku hilang seketika. Tanpa bekas. Kayak air yang menghilangkan noda gitu.
Hari ini yang bisa ke Rumpin hanya aku, Syafri, dan Mbak Devi. Untung aja aku memutuskan sesuatu yang benar ketika aku batal menghadiri TM buat TR 1 (Training Rohis 1). Bisa dibilang minggu ini kami kekurangan tenaga. Padahal siswa kelas 6 yang kemarin diajar Mas Burhan jumlahnya bisa lebih dari sepuluh. Aku kemarin mengampu dua anak kelas 5, sesekali anak kelas 4 kalau mapelnya bahasa Jawa (woho, padahal nyaris nggak bisa dibilang anak Jawa meski lahir di Jawa, wkwk). Mbak Bela dan Mbak Bilbil berbagi tugas mengajar anak kelas 1 dan 2, mereka memang ahli dalam menangani anak-anak, lebih sabar dari aku, haha.
Minggu ini adalah minggu yang buatku sesuatu. Ceritanya, hari ini karena pengajarnya sedikit, aku akhirnya mengambil dua anak kelas 2 buat kuajar. Dua muridku yang kelas 5, Irena dan Novi, kutinggal dan kusuruh mengerjakan soal dulu sementara aku mengajar kelas 2. Begitu selesai mengajar kelas 2, ketika hendak mengajar Irena dan Novi, nggak ada angin nggak ada hujan, Novi cemberut.
"Kamu kenapa, sih? Tadi datang kamu masih ceria, lho," tanyaku.
Novi menggeleng.
"Kamu ngambek? Marah sama aku?" tanyaku lagi.
Novi menggeleng lagi.
"Kamu sakit? Laper?" tanyaku.
Lagi-lagi dia menggeleng.
"Irenaa...Novi kenapa, sih? Aku sumpah bingung lho," ujarku. Aku menarik napas berat. "Kalau kamu gini, aku nggak mau ngelanjutin, lho. Ayo cerita sama aku,"
Novi tetap diam.
"Kamu ngambek gara-gara kemarin aku pulang maghrib? Maaf lho, kemarin kan ada acara," kataku. Ya mungkin kan dia ngambek gegara minggu kemarin aku tinggal tiba-tiba padahal udah janji mau ngajar bahasa Jawa abis maghrib.
Aku sumpah kesel karena nggak bisa menebak kenapa Novi tiba-tiba diam. Biasanya itu anak paling cerewet yang sumpah aku sampai gemas pingin nyubitin dia melulu. Tadi datang dia masih cengar-cengir menyalimiku karena terlambat, entah kenapa tiba-tiba ngambek.
"Ya udah, lanjutin yuk. Ada PR apa kalian?" tanyaku.
"IPA sama IPS, Kak," jawab Irena.
"Ya udah, dibuka dulu bukunya,"
Setelah agak lama fokus mengajari Irena dan Novi, Novi berubah. Dari yang tadinya diam saja, perlahan mulai bicara, lalu cengar-cengir seperti biasanya ketika belajar bahasa Inggris.
"Pokoknya," kataku. "Kalau belajar bahasa Inggris, kuncinya satu: kalau ada yang nggak tahu arti katanya, langsung aja ditanyain ke guru, terus ditulis biar nggak lupa. Sekarang aku minta kalian kasih tahu aku kata-kata di kalimat ini yang kalian masih nggak paham. Nggak apa-apa, jangan malu-malu. Pokoknya kasih tahu aku,"
"Kak, ini artinya apa?" tunjuk Novi.
"Ini 'use', artinya menggunakan," jawabku. "Ditulis jangan lupa ya,"
Semua berakhir damai. Novi kembali ceria. Di akhir pelajaran, dia mulai cerita kepadaku kegiatannya di rumah seperti biasanya. Oh, aku tertawa. Aku mengerti. Dia hanya cemburu saat aku tinggal ngajar kelas 2 tadi, biasanya kan aku fokus mengajar mereka berdua saja. Hahaha lucu banget.
"Kamu habis maghrib ngajar, Kak?" tanya Irena.
Aku menggeleng setelah Mbak Devi berkata, "Tidak," ketika aku tanyain. Dia kan ketua pelaksananya.
"Yaahh..."
"Hey, kalian udah boleh pegang handphone belum?" tanyaku. Dulu kelas 5 aku sudah punya HP sendiri tuh meski baru bisa buat SMS sama telepon, haha. "Ini nomorku," Aku mendiktekan nomor HP-ku. "Kalau kalian mau tanya PR atau apa, tinggal SMS aja, 'Mbak, ini jawabannya gimana?' nanti langsung aku jawab,"
Ketika adzan maghrib berkumandang, kegiatan belajar mengajar dihentikan. Kebiasaan anak-anak Desa Rowosari setelah adzan, mereka langsung salat lalu mengaji, entah di mushala, rumah, atau di Rumpin. Nuansa keagamaan, terutama Islam, sangat melekat kuat di sini. Tidak hanya dari kegiatan anak-anak setelah maghrib, tetapi juga nama-nama jalannya yang kesannya islami sekali, seperti Jl. Darul Falah, Jl. Ash-Shamad, dan lainnya.
Seusai KBM, aku, Syafri, dan Mbak Devi memutuskan untuk salat di mushala terdekat berhubung kami belum pernah merasakan suasana salat di mushala Desa Rowosari. Well, tahu bagaimana kesannya? Awalnya, aku berpikir akan salat di mushala, tetapi kami akhirnya menemukan masjid jami' yang benar-benar megah di sebuah desa yang dikatakan termiskin se-Kota Semarang. Masjid Jami' Al-Aqsha namanya. Megahnya, benar-benar luar biasa banget pokoknya. Tiang-tiangnya terbuat dari marmer, lantainya tertutup karpet halus, ruangannya diberi AC, interior masjid penuh ornamen geometris khas Islam, dan mimbarnya bergaya Jawa yang megah. Aku melongo dibuatnya. Sumpah demi Allah, masjid kampungku kalah megah dibanding masjid ini. Sama-sama baru selesai dibangun, tetapi lebih megah masjid di desa ini. Kontras banget dengan rumah-rumah mayoritas penduduk yang sederhana. Masjid ini bahkan bagiku bisa dikatakan mewah.
"Sumpah masjid kampungku kalah sama masjid ini. Megah banget," bisikku kepada Mbak Devi.
Usai salat maghrib, kami pulang. Kembali menyusuri jalan yang aspalnya sudah mulai rusak dan berlubang di mana-mana. Jalanan yang lampu jalannya nyaris tidak ada. Jalanan yang malamnya akan dipenuhi begal kalau tidak cepat pulang. Namun, selalu menyenangkan dan melepas stres yang kualami selama seminggu. Aku selalu ingin untuk datang lagi, lagi, dan lagi.
Je t'aime, Rowosari.
Sincerely yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar