Langsung ke konten utama

Pelajaran dari Jokowi-Ahok

Aku yakin sejak kecil kita sudah belajar pepatah mulutmu, harimaumu dan siapa yang menabur, dia akan menuai. Untuk saat ini, pepatah ini masih sangat relevan dalam kehidupan kita dan dua tokoh politik kita yang sedang hits, Pak Joko Widodo dan Pak Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) adalah contoh nyata relevansi dua pepatah tersebut.

Ketika Jokowi-Ahok maju sebagai cagub dan cawagub DKI Jakarta pada 2012 lalu, aku melihat mereka sebagai umm...kalau istilahnya anak muda yang lagi jatuh cinta itu couple goals. Beliau berdua saling melengkapi satu sama lain. Pak Jokowi yang terkenal kalem, santai, dan tenang, dilengkapi Pak Ahok yang keras dan frontal dengan kemampuan politik yang sama-sama bagusnya. Perbedaan karakter yang saling melengkapi tersebut membuatku nggak heran kalau mereka akan memenangi Pilkada DKI Jakarta tahun 2012. 

Namun, semua berbeda ketika akhirnya Pak Jokowi terpilih sebagai presiden pada Pemilu 2014 dan Pak Ahok naik sebagai gubernur DKI Jakarta, lalu terus berlanjut hingga menjelang Pilkada DKI 2017. 

Pak Jokowi, baik di bawah tekanan maupun tidak, ketika menanggapi situasi, beliau cenderung santai dan berhati-hati dalam memilih kata-kata. Beliau lebih memilih bertindak dibanding sekedar berkata-kata di depan media. Bisa dilihat kok dari perbedaan menanggapi fitnah. Pak SBY ketika buku berjudul Gurita Cikeas (kalau tidak salah) beredar, beliau menanggapinya dengan konferensi pers segala macam. Pak Jokowi...entah berapa kali beliau difitnah bahwa beliau itu keturunan PKI, blablabla, lalu ada buku Jokowi Undercover (kalau tidak salah), sejauh ini beliau belum menanggapinya. Beliau malah mengedepankan isu yang lebih urgent ketimbang dirinya, padahal fitnah terhadap kepala negara dan kepala pemerintahan kan bisa ditindak serius.

Yaa...sekarang mungkin aja yang fitnah jadi capek sendiri kali ya. Benar juga pemahaman umum yang berlaku di kehidupan: marahnya seseorang yang paling mengerikan itu adalah diam, karena ketika seseorang diam, seolah-olah keberadaanmu dihapus dari muka bumi.

Lain Pak Jokowi, lain Pak Ahok. Beberapa pengamat sudah mewanti-wanti Pak Ahok agar hati-hati dalam berkata-kata di depan media, apalagi jelang Pilkada DKI 2017. Benar saja. Pertama, mulai dari kasus Al Maidah ayat 51, lalu berlanjut sampai di isu terbaru beliau dengan KH. Ma'ruf Amin. Kalau ditanya, apa kemampuan Pak Ahok bagus, sebenarnya bagus, kok. Terbukti dalam dua kali debat jelang Pilkada DKI 2017, beliau mampu mengungguli paslon-paslon lainnya yang sekedar retoris atau bahkan tidak bisa menjelaskan visi-misinya dalam debat. Hanya saja, beliau kurang dalam memilih kata-katanya. Sudah itu. Istilahnya mungkin kurang santun kalau dalam adat-istiadat Jawa, mungkin karena Pak Ahok tidak berasal dari Jawa atau mungkin ada alasan lain yang membuat beliau kurang di sini.

Lalu, apa berarti Pak Jokowi sudah sempurna? Tidak. Beliau manusia biasa, pasti punya kekurangan. Yaa...tapi kan tulisan ini hanya ingin menggarisbawahi satu hal: semua berawal dari lisan. Pak Jokowi mampu menunjukkan sesuatu yang selama ini kupelajari di Hadits Arba'in Nawawi ke-15: falyaqul khairan aw liyashmut (berkatalah yang baik atau diam). Semua berawal dari kata-kata. Rasulullah SAW, tauladan kita, berkali-kali mengingatkan kita akan pentingnya berkata-kata, baik dalam membela agama, bersosial, dan lainnya.

Jadi, teman-temanku sekalian, ini nasihat yang penting buat diriku dan semuanya. Kurang lebihnya begini kalau kata Imam Malik, "Kalau dalam membela kebenaran kamu tidak bisa berkata-kata yang baik, maka ada yang salah dalam niatmu,".



Yours,
Aku yang tidak akan pernah sempurna


Anissa Antania Hanjani 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...