Langsung ke konten utama

Fenomena Pancasila Kita

Apa itu Pancasila?

Apa itu Pancasila, sampai membuat anak-anak TK hingga para mahasiswa di perguruan tinggi wajib memahaminya?

Apa itu Pancasila, yang membuat para pahlawan revolusi mempertahankannya mati-matian hingga meregang nyawa di Lubang Buaya?

Apa itu Pancasila, yang konon ketika tersiar kabar penghinaannya di Malaysia, membuat presiden pertama kita berang?

Sekadar dasar negarakah? Atau lebih dari itu?

* * *

Publik kali ini sedang mengikuti dugaan kasus penistaan Pancasila yang dilakukan oleh...sebut saja si A yang diadukan oleh Sukmawati Soekarnoputri. Pagi ini aku memutar video yang menjadi salah satu alat bukti penistaan tersebut, mumpung masih beredar di YouTube, haha. Aku ingin tahu, katanya sih si A bilang, "Pancasilanya Soekarno ketuhanannya ada di pantat,". Pertama mendengar itu, bisa disimpulkan diksinya saja sudah jelek. Namun, kalau ini hanya masalah diksi sih seharusnya sampaikan permintaan maaf di publik mungkin si pelapor bisa menariknya.

Jadi, aku memutuskan untuk menonton videonya. Aku pingin tahu, mungkin juga ingin menebak-nebak apa sih yang menyebabkan si pelapor tetap keukeuh mempertahankan laporannya. Lagipula, dugaan kasus penistaan Pancasila ini seru, sih. Jujur aja, rasa-rasanya aku harus berterima kasih sama si A ini. Kalau bukan karena dia, orang mungkin nggak akan terpancing buat belajar Pancasila dan memahaminya lagi. Plus, akibat adanya kasus ini sih, perdebatan mengenai sila Ketuhanan Yang Maha Esa kembali mencuat di publik. Ya, pokoknya sisi positifnya sih jadi pada belajar Pancasila lagi.

Aku menonton dua video, satu ceramahnya...aku nggak tahu di mana dan kedua itu pas ceramah di depan Gedung Sate, Bandung. Dari keduanya, jujur, aku menyayangkan sekali si A ini yang katanya Pancasilais, terlepas dari apakah dia saat melakukan ceramah itu sebagai pemuka agama, pemimpin ormas, atau warga negara biasa. Pas klarifikasi sih si A benar-benar mengaku bahwa dia Pancasilais, tetapi aku heran kenapa dia membeda-bedakan Pancasila Soekarno dan Pancasila Piagam Jakarta. 

Jujur, pernyataan ini menggelikan. Kalau boleh saran, silakan dibuka lagi buku PKn dan sejarahnya. Benar memang bahwa pada tanggal 1 Juni itu hanya hari lahir istilah Pancasila, tetapi ide-ide yang dibawa oleh Mr. Soepomo, Mr, Muhammad Yamin, dan Ir. Soekarno semua terangkum dalam sila-sila Pancasila yang sekarang. Pernyataan si A ini, baik saat ceramah maupun klarifikasi, seakan-akan mengindikasikan bahwa Soekarno, founding father kita, adalah orang yang egois. Ini secara bahasa saja, belum berbicara sejarah.

Perlu diketahui bersama (mohon koreksi jika ada kesalahan), bahwa setelah rapat BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945, BPUPKI mengalami masa reses persidangan (periode jeda atau istirahat) selama satu bulan lebih. Sebelum memasuki masa reses tersebut, BPUPKI menugaskan sebuah panitia kecil yang disebut sebagai Panitia Sembilan untuk mengolah usul dari konsep para anggota BPUPKI mengenai dasar negara Indonesia. Panitia Sembilan ini, yang kelak menghasilkan Piagam Jakarta, terdiri atas Ir. Soekarno (ketua), Drs. Mohammad Hatta, Mr. Ahmad Soebardjo, Mr. Mohammad Yamin, KH. Abdoel Wahid Hasjim, Abdoel Kahar Muzakkir, Abikusno Tjokrosoejoso, H. Agus Salim, dan Mr. A. A. Maramis. Nah, kalau Soekarno sendiri saja menjadi ketua Panitia Sembilan, apa gunanya membeda-bedakan Pancasila Soekarno dan Pancasila Piagam Jakarta? Lagipula, ide Soekarno dan para pengusul dasar negara saat itu kan masih berupa ide yang disampaikan kepada peserta rapat, bukannya sudah tetap. Kalau memang sudah tetap, buat apa ada Panitia Sembilan?

Lalu, aku mengutip perkataannya yang mengatakan bahwa Piagam Jakarta adalah Pancasila yang orisinil. Ngapunten (mohon maaf), silakan kembali dibuka buku sejarahnya. PPKI mengesahkan Pancasila sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus 1945, sementara Piagam Jakarta sendiri keluar sebelum Pancasila ini disahkan. Jadi, pernyataan ini kurang tepat. Piagam Jakarta adalah ide orisinil Pancasila, bukan Pancasila yang orisinil karena Pancasila yang orisinil adalah yang disahkan oleh PPKI. Bisa dibilang bahwa seharusnya hari lahir Pancasila itu 18 Agustus 1945, yakni ketika disahkan sebagai dasar negara. 

Mengapa hanya ide orisinil? Ada sedikit perubahan yang terjadi di salah satu paragraf Piagam Jakarta, yakni paragraf keempat. 'Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' diganti menjadi 'Ketuhanan yang Maha Esa' sebagaimana yang kita ketahui sekarang. Ceritanya, pada sore hari tanggal 17 Agustus 1945, seorang perwira angkatan laut Jepang menyampaikan keberatan dari tokoh-tokoh Indonesia Timur karena rumusan kata-kata di Piagam Jakarta tersebut berarti tidak berlaku bagi para pemeluk agama lain. Untuk menghindari perpecahan, esok harinya, Drs. Mohammad Hatta mengadakan pembicaraan dengan tokoh-tokoh Islam. Mereka akhirnya setuju untuk mengganti kata tersebut.
 
Terus itu artinya tetap saja dong itu berlaku bagi umat Islam saja? Kan kata 'esa' bermakna tunggal?

Kata 'esa' bukan bermakna tunggal. 'Esa' diambil dari bahasa Sansekerta. Silakan dicek dulu di kamus bahasa Sansekerta. 'Esa' bermakna as this, as it is. Sebagaimana itu. Dalam hal ini, maksudnya berarti (mohon koreksi) ketuhanan dengan sifat-sifat yang diyakini oleh para pemeluk agama. Jika kalian cek di KBBI 'esa' ini masih berarti satu atau tunggal, ada sumber yang menyatakan bahwa pada masa Orde Baru, ada indikasi perubahan makna.

Kalau mau lebih jelasnya, coba simak pidato Ir. Soekarno berikut yang menjelaskan makna sila pertama kita:

Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada "egoisme-agama". Dan hendaknya Negara Indonesia satu Negara yang bertuhan!

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.

Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama-agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Aku sejujurnya masih belum mengetahui dengan pasti akan kebenaran sumber mengenai indikasi perubahan makna kata 'esa', tetapi jika menyimak pidato Soekarno di atas, aku sepakat bahwa 'esa' ini diambil dari bahasa Sansekerta. Ir. Soekarno kan juga seorang ahli bahasa, beliau tentunya nggak akan asal nyeplos doang saat pidato ini, melainkan sudah dipikirkan masak-masak.

Jadi, teman-temanku semua, ambil saja hikmah dari kejadian ini. Pancasila yang jadi dasar negara kita, di situ merangkum semua ide dan yang turut andil dalam pembuatannya juga utusan-utusan yang mewakili Islam. Tidak perlu ada yang diperdebatkan lagi mengenai sila-silanya, insya Allah semua sudah sesuai dengan syariat kita. 

Sehagai penutup, ada hikmah besar ketika tokoh-tokoh Islam sepakat mengalah mengganti 'Ketuhanan yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' menjadi 'Ketuhanan yang Maha Esa'. Mereka benar-benar mengutamakan persatuan dan kesatuan di atas segalanya, bukan?

Dan untuk masalah dugaan penistaan dasar negara ini? Serahkan saja pada pengadilan. Biarkan yang berwenang yang memutuskan.


Yours,
Yang berusaha terus belajar


Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...