Langsung ke konten utama

PKI: Antara Paranoid dan Hoax

Dewasa ini, kudapati berbagai isu yang aneh bin ajaib merebak. Mulai dari yang paling absurd, irasional, basi, bahkan murahan tumpah ruah di media sosial. Kebangkitan PKI adalah salah satunya. Kalau boleh jujur sih, aku bingung isu ini mau dikelompokkan ke jenis isu apa menurut versiku. Sebab, aku bisa mengatakan semua kategori itu masuk. Ya absurd, ya irasional, ya basi, murahan juga. Bingung, deh. Haha.

Aku nggak tahu lagi mau ngomong apa sama orang yang selalu mengaitkan rezim sekarang dengan PKI sejak terpilihnya Jokowi sebagai presiden dengan data-data yang nggak tahu itu dapatnya dari mana. Sebenernya mau ketawa keras-keras karena kekonyolan ini, cuma rasanya kasihan karena sebenernya mereka kurang literasi. Di sisi lain, aku heran sama mereka, sejak kapan ya mereka lebih canggih dari BIN dan TNI AD sehingga bisa mendapatkan video, data, dan foto-foto kayak gituan? Harusnya TNI AD yang sudah bergerak maju kalau lihat begituan. Jelas mereka trauma, 6 jenderal mereka dibunuh. Namun, yang terjadi adalah negara ini biasa-biasa saja. Santai-santai saja.

Yang lebih luar biasa lagi, seorang ustadz yang katanya "pakar" PKI menyebutkan bahwa terjadi rapat PKI di Istana Negara. Ini jelas-jelas menggelikan. Dikira segampang itu ya masuk ke Istana Negara untuk mengadakan rapat partai, apalagi PKI yang sudah jelas terlarang di negeri ini. Emang paspampresnya nggak jaga? Emang benar-benar nggak ada penjagaan? Sudah pernah datang ke Istana Negara belum? Tepuk jidat deh, sama "ustadz" ini. Nggak heran akhirnya disomasi oleh Pak Teten Masduki.

Untung presiden kita nggak baperan ya. Bisa berkali-kali konferensi pers tuh Istana Negara menanggapi isu yang masuk sana-sini.

Kok bisa sih masyarakat kita termakan isu tersebut? Sejauh yang kuamati, jawabannya dua. Pertama, rasa paranoid masyarakat terhadap PKI yang dilarang keras di negeri ini. Kita perlu apresiasi Orde Baru atas film propagandanya selama bertahun-tahun yang sukses membuat masyarakat Indonesia trauma akan kehadiran bau-bau komunis di negara ini. Bahkan, kudengar selama masa Orba dulu, mahasiswa yang mau mempelajari buku-bukunya Karl Marx dilarang keras. Padahal, penting sebenernya belajar mengenai komunisme dan apa yang menyebabkannya dilarang di negeri ini. Yaa...karena kalau nggak belajar, jangan heran kalau orang-orang yang sering mengaitkan rezim ini dengan PKI nggak akan bisa membedakan apa itu komunisme dan sosialisme, apa bedanya komunisme dan liberalisme, apa itu golongan kiri dan kanan, apa bedanya atheisme dan komunisme, dan lain sebagainya. Padahal jelas, ada perbedaan di antara hal-hal tersebut.

Kedua, saat ini virus hoax sedang merajalela di negeri kita tercinta. Tingkat literasi masyarakat Indonesia yang rendah membuat hoax menyebar dengan cepat. Singkatnya, ketika ada tulisan SEBARKAN!!, DASAR PKI, dan lain sebagainya di media sosial semua orang bakalan langsung angguk-angguk tanpa tahu itu beneran atau nggak. Akal sehat mereka sudah hilang duluan dan emosi pun diutamakan. Kalau soal ini, ya untuk kita yang masih waras diharapkan bisa memberi edukasi dan mengembalikan akal sehat mereka yang sudah terbawa pergi oleh tulisan-tulisan tadi. Satu-satunya cara menangkal hoax adalah literasi dan edukasi.

Nah, akibat paranoid dan virus hoax tadi yang masing-masing faktornya menyumbangkan 50:50 inilah yang membuat masyarakat mudah saja percaya bahwa PKI sedang mengadakan gerakan di bawah tanah. Padahal, sebenarnya tidak terjadi apa-apa, yang bikin gaduh ya mereka sendiri.

Kalau mau tahu apa yang terjadi sebenarnya, PKI itu nggak ada. Isu ini benar-benar absurd dan murahan. Kenapa? Pertama, kalau secara kepartaian tidak ada, ya secara organisasi juga tidak ada karena partai kan termasuk organisasi. Kalau mau mengadakan kebangkitan komunis lagi secara organisasi, mereka akan lebih cerdas dengan tidak menggunakan nama PKI.

Kedua, tidak ada lagi negara di dunia ini yang benar-benar murni komunisme lagi. Makanya sering kali aku ngakak nggak ketulungan kalau pada akhirnya mereka sering mengaitkan kebangkitan PKI ini dengan Cina, padahal Cina era sekarang yang menganut kapitalisme sudah berbeda dengan Cina eranya Mao Zedong. Jadinya, nggak mungkin kalau Cina campur tangan isu PKI ini.

Bosan ih, apa-apa Cina. Sekali-kali Korea Utara dong yang emang komunismenya kental sekali. Eh, tapi nggak mungkin sih ya soalnya Korut aja negara yang benar-benar tertutup. Wisatawan mancanegaranya aja dibatasi. Resolusi PBB nggak didengerin. Kecaman negara lain nggak dipeduliin. Kalau sampai ada yang bisa mengaitkan PKI dengan Korut, aku nggak bisa bayangkan betapa gelinya Kim Jong Un kalau tahu. Hahahaha.

Ketiga, kalau emang bener apa kata orang-orang itu bahwa PKI ada hubungannya dengan Cina dan Cina mau mengambil alih Indonesia, harusnya mereka berpolitik. Lihat deh, sampai sekarang masih jarang banget teman-teman kita yang etnis Tionghoa yang mau berpolitik. Di FISIP Undip aja hampir semua pribumi, di jurusanku cuma ada satu temanku yang Tionghoa. Aku yakin kondisi itu juga terjadi di kampus-kampus FISIP seluruh Indonesia. Politik adalah satu-satunya jalan untuk bisa berkuasa, siapapun yang ingin memegang tampuk kekuasaan harus tahu bagaimana berpolitik.

Keempat, anak-anak keturunan para pahlawan revolusi dan anak-anak keturunan PKI semuanya bisa berdamai. Mereka mendirikan Forum Silaturahmi Anak Bangsa. Silakan dicek, di internet cerita mengenai forum itu sudah tersebar luas. Bayangin deh, anak-anak para pahlawan revolusi yang menyaksikan sendiri bagaimana ayah-ayah mereka dibunuh oleh Cakrabirawa saja bisa berdamai dengan masa lalu dan bergerak ke depan. Masa' kita yang cuma belajar dari pelajaran sejarah (yang juga nggak tahu selama sekolah memperhatikan atau tidak) tidak bisa berdamai dengan masa lalu? Bahkan, mereka memahami penderitaan anak-anak keturunan PKI yang terkena stigma dan menjalin persahabatan dengan mereka. Ini nih, yang dulu dimaksud Presiden Joko Widodo meminta maaf kepada keturunan PKI. Yang salah orangtua mereka, kenapa mereka yang saat itu nggak tahu apa-apa terkena stigma? Bahkan nih, selama pembasmian komunis pada 1965-1966, nggak ada yang tahu pasti apakah setengah juta jiwa yang dibantai saat itu benar-benar komunis atau hanya terduga komunis. Kalau hanya terduga komunis, mereka saat itu benar-benar mati sia-sia. Parah, kan?

Terus gimana dong kalau ketemu orang-orang semacam itu?

Ya udah, tanyain aja pertanyaan-pertanyaan ini ke mereka:
  • Udah pernah ke (what they called as) markas PKI beneran belum?
  • Udah pernah ketemu sama orang PKI asli belum? Yakin orang yang di foto itu beneran orang PKI? Kalau nggak, siap-siap aja disomasi.
  • Bisa nggak membedakan apa itu liberalisme dan komunisme? (soalnya aku pernah nih nemu akun yang bilang kalau liberal itu PKI yang ganti nama, gimana aku nggak ngakak coba, kalau liberalisme dan komunisme bersatu, buat apa Amerika Serikat dan Rusia (saat itu Uni Soviet) perang ideologi selama bertahun-tahun?)
  • Bisa nggak mendefinisikan apa yang dimaksud golongan kiri?
  • Bisa nggak membedakan sosialisme dan komunisme?
  • Apa iya sih orang atheis itu sudah pasti komunis? Kalau iya, jelaskan apa sebabnya!
Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih bisa terus berkembang kok seiring dengan logika irasional yang digunakan. Temukan aja kesalahan logikanya di mana. Bukan bermaksud menyalahkan, ini biar mereka juga sadar sendiri sama informasi sesat yang didapatkan.
 
Kalau aku boleh menyimpulkan sih, sebenarnya isu PKI ini ya tadi. Hanya isu murahan, absurd, basi, dan irasional yang dilempar kepada masyarakat yang kurang literasi. Ada sih isu yang lebih besar daripada PKI dan isu ini berlindung di balik isu PKI tadi. Aku bisa menebak, hanya saja...nggak deh. Dikira su'udzon lagi.
 
Salam literasi! Teruslah membaca dan belajar agar tidak mudah termakan hoax!
 
 
Yours,
Anissa Antania Hanjani   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...