Langsung ke konten utama

Light Review Today: Sakurai Sho

Lelah bahas politik melulu akhir-akhir ini. Bahas sesuatu yang ringan, deh!

Minggu malam ketika makan malam dengan keluarga, nggak tahu kenapa aku bosan melihat channel TV pilihan Mama dan adikku yang Korean always. Dari tadi pagi aku sudah nonton channel K+ yang isinya drama-drama populer Korea terbaru, lalu sore ini setelah semua puas sudah menonton Cinderella and Four Knights, Mama mengganti channel TV ke KBS World. 

Astaga...Korea lagi!

Ketika Mama mengomentari salah satu artis Korea (yang entahlah itu emak-emak bisa ngikutin aja, padahal aku nggak) dengan adikku, aku ikut-ikutan nimbrung, "Dih, plastik semua. Artis Jepang mah natural,"

"Banyak orang Jepang ke Korea buat operasi plastik," kata adikku.

"Arashi tuh cakepnya alami," Aku mengungkit my 5 super boys yang kugandrungi selama tiga tahun itu.

"Perasaan nggak ada ya yang kenal Arashi, yang kenal Nisa doang," komentar Mama, disambut tawa adikku.

"Ih, mereka terkenal tahu! Kakak tingkatku tahu!"

Kakak tingkat yang kumaksud adalah Mbak Devi. Dia beberapa hari lalu komentar di akun instagramku yang memosting foto Sakurai Sho saat dia ulang tahun tanggal 25 Januari lalu.

Oh, suka Sakurai-kun, komentarnya.

Akhirnya ada yang kenal Arashi, batinku lega. Kirain selama ini aku menggila sendirian jadi fangirl. Bedanya, Mbak Devi masih suka idol group Jepang lain seperti Kanjani8, sementara aku...pokoknya Arashi, nggak ada yang lain.

Aku kemudian membalas komentar Mbak Devi dengan alasan-alasan mengapa aku menyukai Sakurai Sho. Pintar, cakep, jadi rapper sekaligus newscaster, sarjana lagi.

Tapi galak, balasnya singkat.

I know it right! Dalam hati aku tertawa.

* * *


Ini lho cowok yang berhasil bikin aku nontonin dia tiap hari. Cakep kan ya?

Sho lahir di Minato, Tokyo, pada 25 Januari 1982. Saat ini aktif sebagai rapper Arashi, aktor dengan drama terbarunya, Kimi ni Sasageru Emblem, dan newscaster di News Zero NTV yang dulu sempat mewawancarai Cristiano Ronaldo dan Bruno Mars. Sebulan lalu baru berulang tahun ke-35. Ayahnya, Shun Sakurai, adalah mantan wakil menteri di Jepang. Beliau pernah ditawari untuk ikut pemilihan gubernur di Tokyo, bahkan perdana menteri, tetapi ditolaknya dengan alasan takut mengganggu karir anaknya. Sementara ibunya, Yoko Sakurai, adalah seorang dosen bahasa Inggris di Universitas Komazawa. Latar belakang keluarga Sho yang terpelajar menurutku menjadikannya punya image sebagai pria yang cerdas dan suami-able banget. Terbukti, dalam sebuah polling tentang member idol group yang ingin dinikahi, Sho menduduki urutan pertama. Kebanyakan dia dipilih dengan alasan cerdas.

Of course, pendidikan terakhirnya kan S1 Sarjana Ekonomi Universitas Keio. First idol group member who graduated from university.

Aku pertama kali lihat wajahnya itu waktu SMA. Pas itu, guruku nyetel dorama Yamada Taro Monogatari di kelas untuk ditonton bersama (ya ampun, aku harus berterima kasih sama guruku ini, kalau nggak aku mungkin nggak akan kenal seorang Sakurai Sho). Temanku bilang pemeran utamanya member Arashi, cuma pas itu ya belum ngeh siapa meski udah pernah nonton PV Arashi yang Love So Sweet sebelumnya.

Sho adalah rapper Arashi. Penggemar menjuluki rap-nya dengan sebutan Sakurap. Yup, khas banget pokoknya suaranya Sho itu ketika nge-rap. Suaranya Sho itu khas banget. Susah dijelasin, pokoknya khas banget. Agak beda gitu sama beberapa rapper Jepang yang agak cedal lidahnya saat mengucapkan kata berhuruf L, Sho lidahnya termasuk bagus. Dia bisa melafalkan bahasa Inggris dengan baik dalam rap-nya. Mungkin belajar bahasa Inggris dari ibunya yang dosen ya?

Karena suaranya yang khas itu, aku suka mendengarkan saat dia menyanyikan lagu solonya. Kadang pas dalam perjalanan ke kampus saat dengerin musik, aku bisa langsung membatin, "Oh, solonya Sho,", kemudian mengecek music player di HP. Bisa jadi itu solonya yang Sunshine, T.A.B.O.O., Hip Pop Boogie, atau Hey Yeah!

Di antara lagu-lagu solonya, aku paling suka Hey Yeah! dan Sunshine. Kedua lagu tersebut merupakan melodi pembangkit semangat positif di pagi hari. Membuat aura positif seketika muncul dari hati. Pokoknya ketika dandan persiapan ke kampus aku akan menyetel Sunshine dan di perjalanan dalam bus lagunya Hey Yeah!.

Ada beberapa cuplikan lirik yang kujadikan quotation tersendiri, antara lain:
  • Mabushii kyou wo arigatou, mado wo aketara. (Aku berterima kasih untuk pagi yang cerah ini, aku pun membuka jendela) -Sunshine
  • Ikutsu mo no yoru no saki ni ake te iku konna tabiji. Takamatte kitai chi hibikasu yo mirai ni. (Telah banyak malam kulalui untuk memulai perjalananku. Aku melangkah menuju masa depan yang lebih cerah dan baik). -Sunshine
  • Kuyashii kinou ni arigatou namida nugu wo. (Mari berterima kasih untuk masa lalu yang menyakitkan, hapuslah air matamu). -Sunshine
  • Shiawase tte nan na no? Egao afureru koto. (Apa itu kebahagiaan? (Yaitu) saat kita dikelilingi oleh senyuman). -Hey Yeah!
  • Sore ja yume tte nan na no? Dekkai mejirushi sa. (Apa itu mimpi? (Yaitu) sebuah tanda besar yang memimpin jalanmu). -Hey Yeah!
  • Ichi mili demo susumou. Step by step. Step ahead. (Meski hanya 1 mm, tetaplah melangkah ke depan. Step by step. Step ahead). -Hey Yeah
Keren? Yeah, I know it right.

Meski terlihat amat keren dan cerdas, seperti yang kakak tingkatku bilang, Sho itu galak. Plus childish dan moody. Sisi childish-nya tampil di saat tertentu, misalnya waktu variety show VS Arashi dalam sesi permainan pinball runner, ketika lawannya sesumbar cewek bisa main lebih baik, dia pun ikutan bales, "Cowok bisa main lebih baik, tahu!" dengan nada tersinggung macam anak SD kalau lagi nantang teman sekolahnya. Umm...ada lagi ketika dia mutung gitu lah waktu digodain masalah ketidaksukaannya pada jahe dan ketumbar (hayoo...yang mau jadi istrinya Sho harus tahu ini, hihi), dia ngambek sampai ogah-ogahan jawab pertanyaan dari presenter karena digodain terus. Lalu ada lagi ketika persiapan tampil untuk menyanyikan Mada Minu Sekai e di sebuah acara,  dia marah saat ditegur kancingnya belum terkancing dengan benar, sampai Nino dan Ohno turun tangan menenangkannya yang marah. Sementara MatsuJun (who is yang termuda di Arashi) hanya berkata, "Hey, hey, hey, ayo dewasalah," sambil tertawa. Haha. Padahal Sho tertua kedua ya di Arashi setelah Ohno.

Satu lagi yang tidak boleh terlupakan dari Sho adalah...dia penakut akut. Dia phobia ketinggian sebenarnya, tetapi aku heran dia bisa ya tampil dalam opening konser 5x10 di Kokkuritsu dengan melayang gitu sambil menyanyikan Kansha Kangeki Ame Arashi dan melakukan terjun payung untuk sebuah variety show Arashi. Muka ketakutannya saat main roller coaster adalah yang paling menyenangkan untuk ditertawakan (soalnya cuma dia orang yang bisa teriak, "Organku! Organku mengapung!" saat main roller coaster). Waktu Himitsu no Arashi-chan melakukan tantangan rumah hantu, Sho juga yang paling banyak jeritannya setelah Aiba (Sho sama Aiba dipasangkan saat masuk rumah hantu, yah penakut ketemu penakut ya jadi deh, padahal aku juga sama aja penakutnya di rumah hantu, hahaha). By the way, dia sedih sekali karena tantangan ini dilakukan setelah dia pulang dari tugasnya menjadi main newscaster Olimpiade Beijing (maksud Sho, coba kalau dia di Beijing lebih lama, jadinya nggak harus ikutan deh, hihi).

Meski begitu, kekurangan-kekurangan Sho tersebut benar-benar dimaklumi oleh para member Arashi. Mereka tahu apa yang harus dilakukan saat Sho ngambek atau tidak mau melakukan ini dan itu karena takut. Keren. Sebenarnya para member Arashi masing-masing saling mem-back up kekurangan-kekurangan satu sama lain, sehingga mereka terlihat sangat akur dan tak terpisahkan. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa para member Arashi tidak pernah berantem sama sekali dengan asumsi bahwa kalau mereka berantem, harusnya kelihatan jelas karena mereka setiap hari membintangi acara TV, konser, tampil, dan lain sebagainya. Sehingga kalau ada member yang berantem, hal itu akan terlihat jelas di televisi.

So, this is it about my ichiban. Kalau mood-ku udah baik, mungkin aku bakal bahas politik lagi, hihi.



Yours,
Anissa Antania Hanjani 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...