Indonesia adalah rumahku.
Rumah di mana aku dan Katrin yang Tionghoa duduk bersama dan belajar soal-soal OSN IPS ketika dulu SMP.
Indonesia adalah rumahku.
Rumah di mana aku dan Bang Anton yang sekolah di keuskupan pernah bicara soal makna Idul Fitri tanpa menyinggung satu sama lain.
Indonesia adalah rumahku.
Rumah di mana aku duduk dan menjelaskan apa itu Islam kepada Andreas yang beragama Katolik dengan tangan terbuka.
Indonesia bukanlah rumah tempat Andreas bercerita padaku, "Apakah kamu marah aku bertanya soal Islam kepadamu? Dulu aku pernah bertanya kepada temanku dan dia marah,".
Melainkan rumah di mana aku dan sepupuku yang Katolik duduk dan bercanda penuh damai.
Indonesia bukanlah rumah bagi marahnya kaum anu kepada kelompok tetangga.
Melainkan rumah di mana ustadz dan uskup saling bercengkerama lepas.
Indonesia adalah rumah bagi tiap-tiap jiwa perindu ikatan kebangsaan atas ratusan suku, ribuan pulau, dan berbagai agama.
Bukan rumah bagi individu yang enggan melihat saudaranya berbeda.
Indonesia adalah hadiah berharga Tuhan kepada umat-Nya untuk saling mengenal beragam suku dan bangsa, sebagaimana ajaran kitab-Nya.
Bukan surga bagi egois yang ingin berkuasa, apalagi etnosentris yang serakah.
Jika semudah itu katamu untuk menyatukan beratus juta kepala yang berbeda, cobalah saja kau rusak ikatan kebangsaannya, lalu satukan kembali dengan ideologi (yang katamu) ideal.
Katakan padaku.
Tanggal 11 itu, untuk apa kau turun?
Seperti apa Indonesia bagimu?
Apakah Indonesia yang seperti ini dan kucintai setengah mati.
Atau Indonesia yang kau paksakan untuk berubah sesuai kehendak hati?
Yours,
Warga negara Indonesia yang berbahagia
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar