Pagi ini setelah mandi, aku bercakap santai dengan Mama yang sedang memasak sup untuk dijual di warung keluarga. Mama menyinggung tentang tulisan Pancasila yang baru saja kubuat.
"Kamu sebenarnya mau mengkaji apa, sih?" tanya Mama.
"Ituu...ya tentang si A itu, kalau dia cuma diksinya doang jelek, seandainya dia minta maaf di depan publik mungkin laporannya bisa ditarik. Ternyata setelah nonton videonya, uh, nggak heran Sukmawati nggak mau menarik laporannya," jawabku dengan nada manja.
"Tadi Mama bacanya cepat-cepat sih," kata Mama.
Mama kemudian cerita tentang temannya, seorang profesor yang suka sekali membolak-balikkan fakta. Mama dan profesor itu satu angkatan ketika kuliah di Fakultas Hukum almamaterku.
"Profesor itu buta fakta," komentarku.
"Nggak, bukan buta fakta kalau menurut Mama. Apa yang dia omongin itu Mama dan teman-teman Mama masih mengerti secara keilmuannya, tetapi dibolak-balikkan. Kalau menurut Mama, itu sih cinta buta namanya,"
"Oh, teori kita berbeda berarti," Aku tertawa kecil. Aku baru ingat objek pengamatan kami berbeda. Aku mengamati teman-temanku, Mama mengamati temannya.
Setelah meminum obat, aku meneruskan perkataanku. "Selama di sekolah dulu, aku mengamati teman-temanku, gimana ya...mereka kurang gregetnya gitu kalau pelajaran PKn dan sejarah. Mereka kurang literasi. Padahal dua pelajaran itu penting,"
Dan faktanya, banyak anak sekolah yang meremehkan dua pelajaran ini, batinku
"Kalau teman-temanmu kurang literasi, profesor itu literasinya banyak, tetapi cinta buta yang membuat dia nggak ambil pusing kekurangan dan kelebihannya," timpal Mama.
"Makanya, apresiasi sedikit kek kalau pelajaran sejarahku dapat seratus. Kalau aku nggak tahu sejarah, aku kan nggak akan buat kajian itu," candaku.
"Haha, orang buku G 30 S / PKI aja sampai kamu kelonin, dibawa tidur,"
"Soalnya menarik, sih. Sampai ada tujuh versi peristiwa itu,"
* * *
Aku ingat dulu ada guru yang bertanya padaku bagaimana gaya kedua orangtuaku mendidikku. Ya itu, seperti percakapan barusan. Mama adalah partner diskusiku. Berhubung latar belakang pendidikan politikku masih ada keterkaitannya dengan pelajaran Mama tentang hukum, kami biasanya diskusi seperti ini.
Tentang buku itu ya? Haha. Aku geli Mama masih mengingatnya. Dulu seusai OSN SMP, aku tertarik dengan G 30 S / PKI setelah menonton filmnya, lalu aku membuat penelitian kecil-kecilan. Yaa...karena belum ngerti langkah-langkah metode penelitian, jadi nggak jelas gitu penelitiannya. Haha. Dulu di perpustakaanku, aku punya koleksi lengkap 30 Tahun Indonesia Merdeka jilid 1-4 dan buku berjudul Siapa Menabur Angin, Dia Menuai Badai: G 30 S / PKI dan Peranan Bung Karno (kalau tidak salah). Buku itu sampai kubawa tidur saking penasarannya, haha.
Ah, Mama tahu aja aku gimana. Aku yang koar-koar bilang bahwa liburan itu harus edukatif jadi kami sekeluarga harus ke museum (dan ide ini jelas ditolak semuanya). Aku yang nggak bisa berhenti kalau sudah dapat cerita sejarah yang bagus. Too geek.
Aku tahu Mama dulu sempat kecewa aku tidak melanjutkan ke IPA, tetapi kalau begini...aku percaya Mama masih memberikan support-nya untukku.
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar