Langsung ke konten utama

Second Semester, I'm Yours!

Alhamdulillah, udah hampir mendekati hari masuk kuliah. Aku beneran bersyukur. Udah bosen banget liburan nih, haha.

Alhamdulillah, nilai juga udah pada keluar dan KRS udah kuisi juga. Alhamdulillah, nilai-nilaiku bahkan jauh melampaui target yang dulu kutuliskan. Aku dulu nggak yakin bisa mengikuti perkuliahan, makanya kutulis dalam rencanaku di semester satu IPK-ku minimal harus 3,10. Alhamdulillah, semua di luar ekspektasiku. IPK-ku cukup tinggi ketika banyak teman yang bilang aku terlalu sibuk untuk ukuran mahasiswa semester satu.

Semester dua ini aku harus lebih baik lagi. Mungkin aku akan sedikit mengurangi kegiatanku di organisasi dan lainnya, lalu menambah fokus di akademik. Kurasa perlu sih, karena semester tiga sudah mulai ketemu dosen-dosen yang mengharap mahasiswanya sudah bisa menuliskan sebuah karya ilmiah dengan baik. Rasanya perlu untuk lebih fokus di akademik karena hal tersebut, mengingat aku menargetkan lulus dalam jangka waktu 3,5 tahun dan ingin segera berkarir sambil meneruskan S2. 

Ya, aku sudah memutuskan kelak aku ingin jadi wanita karir.

Um, apa lagi ya? Ah, ya. Semester dua ini ada begitu banyak hal yang harus dikejar dan diraih. Bukan berarti aku melupakan mimpiku jadi aktivis...tidak, hanya...ada satu dan lain hal yang harus kudapatkan terlebih dahulu. Menjadi seorang aktivis tidak boleh membuatmu kalah dari seorang akademisi dan menjadi seorang akademisi tidak boleh membuatmu tidak sevokal aktivis. Kurang lebih itu yang kupahami.

Pokoknya, second semester, I'm yours!


Sincerely,
Anissa Antania Hanjani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The World of Ask.fm

Well, liburan ya? Aku lebih banyak mengisi waktu di rumah buat main game, buka ask.fm, dan ini nanti sore mau ngerjain tugas. It's me, tapi versi malas. Kalau versi rajin, hari ini THR (Tugas Hari Raya hoho...) udah kelar semua kali ya? For me, myself, aku lebih suka buka ask.fm sekarang buat liat orang-orang rada freak yang answer-nya seolah-olah bakalan mati 100 tahun lagi, orang-orang yang saling tebar nasihat, atau sekedar answer gaje teman-temanku. Kalau iseng aku juga bakalan ask seseorang, tapi itu biasanya orang tertentu doang sih, kalau aku ga terlalu kenal macam Dziban, Thariq, Kuntoro, dan Ikal, the popular boys at school, aku nggak mau macam-macam. Bukan karena takut sama mereka (what for, please?), tapi karena aku paling nggak suka mengurusi kehidupan orang lain. Nggak ada untungnya buatku. Hal paling berkesan waktu main ask.fm malah terjadi kemarin. Aku iseng baca-baca answer-nya Muhammad Alvin Faiz, anak Ust. Arifin Ilham, salah satu da'i kondang di Indo...

K.A.M.U.

(Tulisan ini, kali ini mungkin sampah banget karena aku sendiri menganggap topiknya adalah sesuatu yang paling nggak penting dalam hidup. Tentang hati. Tentang perasaan. Tentang aku suka sama seseorang. Namun, tetap aja nggak tahu kenapa sekali ini aku pingin cerita. Semuanya) Adalah suatu kehormatan bisa mengenalmu. Aku senang sekali. Sosokmu adalah yang benar-benar bisa dibilang berbeda, lebih baik, dan lebih menjanjikan di masa depan kelak.  Kamu adalah sisipan topik yang paling sering dibicarakan. Namun, di lain sisi, kamu adalah topik paling tidak penting. Paling menyebalkan. Aku nggak suka pikiranku tiba-tiba teralih hanya untuk menebak-nebak apa yang sedang kamu lakukan, bagaimana keadaanmu, dan lain sebagainya. Layaknya orang normal yang jatuh cinta. Bah, itu menyebalkan. Kita sama-sama sudah besar, pikirkan urusan masing-masing, begitu galakku terhadap bayangan tentangmu. Aku bangga karena bisa berada di sekitarmu. Di lingkaranmu. Namun, di satu sisi aku juga ...

((Hanya)) Sebuah Judul

Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman bertanya lewat chat kepadaku seperti ini, "Eh An, lalu gimana si A yang bilang, 'Jangan jadikan Al Qur'an sebagai pedoman mutlak'. Apakah itu benar menurutmu? Atau hanya hoax?". "Aku menawarkan opsi ketiga," jawabku. "Atau hanya belum dimaknai dengan benar?". "Lho An, dari kata-katanya aja sudah salah. Al Qur'an itu pedoman mutlak. Kenapa dia katakan jangan jadikan pedoman mutlak? Ada kata larangan di sana: JANGAN,". "Kamu sudah baca keseluruhan belum? Sudah bertanya apa maksudnya? Kalau kamu bahkan belum tanya apa maksudnya atau bahkan cuma tanya sama aku doang, jangan pernah menyampaikan prasangka. Simpan prasangkamu buat dirimu aja," tanggapku kalem. Ada beberapa alasan mengapa aku berkata seperti itu. Pertama, aku sendiri baru tahu lho kalau si A ini ngomong begitu dan kalau aku sok tahu menanggapinya nanti kalau nggak sesuai maksudnya si A bagaimana? Kedua,...