Before 2017 ends, blablabla...
Lagi tren banget sih posting begituan di snapgram, tetapi aku jujur aja nggak begitu tertarik. Sama tidak tertariknya dengan fakta bahwa 2017 akan segera berakhir. Honestly, pergantian tahun itu biasa-biasa saja. Bukan masalah, "Haram merayakan tahun baru karena blablabla...", ya tetapi secara pribadi aku menganggap tahun baru itu biasa saja. Tidak ubahnya seperti pergantian hari lainnya. Dari tahun ke tahun ketika terompet dan petasan berbunyi, aku dan keluargaku di rumah saja. Tidur nyenyak.
Namun, aku tahu apa makna tahun baru, terutama 2018 ini. Usiaku akan menjadi dua dasawarsa di bulan kelima nanti. Bulan kedua nanti akan jadi semester genap kedua di perkuliahan. Itu saja.
It will be the beginning of a new journey. Aku menjanjikan hal itu kepada diriku sendiri di tahun 2018 ini. Aku ingin sekali memulai perjalanan yang sama sekali belum pernah kulakukan. Aku ingin menjadi orang asing di tempat yang asing pula.
Untuk pertama kalinya, setelah melihat peta tujuanku, aku menemukan alasan yang begitu dalam untuk pergi ke sana. Ah, dari dulu ya ketika aku menemukan peta, hatiku benar-benar kosong melompong! Tidak ada sesuatu yang membuatku merasa excited dan penasaran setengah mati. Itulah yang membuat motivasiku kosong. Aku tahu itu. But, it is different now, kalau kau tahu. Hasratku terasa menggebu-gebu ingin pergi setelah melihat petanya, apalagi setelah aku sedikit-banyak bertanya tentang tempatnya. "Ayo! Ayo!" begitu katanya.
Namun, aku sadar diri. Aku bahkan tak punya harta apapun untuk kubelanjakan kebutuhanku selama perjalanan. Ah, jangankan untuk perjalanan besar itu. Selama ini aku tidak punya suatu benda yang bisa kuceritakan seberapa mahalnya. Tasku bukan Kate Spade. Bajuku bukan Nevada. Aku hanya perempuan biasa. I am not as shiny as them. And I will never wear shiny things on my body.
Lalu, apakah diam itu solusinya? Memendamnya lagi?
Tidak, sih. Aku tahu. Aku sedang mencoba menempuh sebuah jembatan yang hingga kini ujungnya belum kutemukan. Kau tahu, itulah yang meresahkan. Ada begitu banyak hal yang terjadi di jembatan tersebut yang sudah kualami bersama orang lain. Setelah melewati semua itu, hanya akan ada beberapa di antara kami yang selamat sampai di seberang dan melanjutkan perjalanan.
Di tengah jembatan tersebut dilema itu bermula.
Aku telah bertemu orang-orang yang kurasa sangat pantas untuk diselamatkan sampai ke seberang. Aku ingin menyelamatkan mereka. Namun, di saat yang sama aku juga ingin sampai seberang. Sudah sering sekali aku tertinggal di jembatan putus, lalu jatuh ke sungai. Hasratku menarik-narikku ke sana, pergi, lalu melanjutkan petualangan. Namun, rasa ibaku menahanku di sana.
Egoiskah aku jika pada akhirnya aku memutuskan ingin sampai di seberang?
Aku teringat janjiku kepada mereka untuk membagikan petualanganku. Namun, aku tahu betapa banyak yang ingin tidak sekadar "mendengarkan" saja. Banyak yang ingin merasakan petualangan menantang tersebut.
Akhirnya, aku berpikir ulang. Barulah jawaban itu dapat kugali dengan baik.
"Pada akhirnya, aku hanya manusia," gumamku. "Resolusiku tahun ini adalah memulai petualangan, tetapi kita coba saja lihat seberapa pantas kita untuk memulainya. Bukankah keahlianmu adalah naik kembali setelah jatuh dari jembatan dan terjun ke sungai?".
Yours,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar